Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Buaya Darat Tua


__ADS_3

Seika pov


Tepat pukul 10.00 pagi, aku telah sampai di kediaman suami tuaku. Ada rasa getir menjalar di relung hatiku. Katakanlah, aku ini perempuan materialistis. Tapi jika kalian berada di posisiku, apa yang akan kalian lakukan?


Kepulanganku disambut bak mayat yang bangkit dari kubur. Dihindari dan dikucilkan oleh orang-orang rumah, bahkan istri tertua suamiku sekalipun enggan menatapku.


Dengan langkah mantap, aku menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Mbak Mayaratih-asisten pribadi yang disiapkan suamiku khusus untukku.


Kamarku terletak di lantai lima rumah itu. Sepertinya memang sudah disengaja aturannya. Lantai satu untuk istri pertama-Neneng Wijayanti, lantai dua untuk istri kedua-Sri Wulandari, lantai tiga untuk istri ketiga-Namira Ayu, lantai empat untuk istri keempat-Mustika Cahya, dan yang kelima untukku.


Tapi entahlah, di atas lantai lima masih ada dua lantai lagi. Apa dia ingin memiliki tujuh istri atau gimana, aku nggak tahu dan aku nggak peduli. Tapi yang jelas, rumah ini memiliki lift. Jadi, nggak membuat suamiku kecapekan ketika naik turun lantai.


"Non Sei, kenapa bengong?" tanya Maya, berhasil membuat lamunanku buyar. Kini, aku dan Maya ini telah berada di dalam lift.


"Tak apa, Mbak. Aku cuma kepikiran adikku di kampung," balasku dengan senyum khas milikku.


"Memangnya, kampung asal Non Sei ini di mana?" ternyata, Maya ini kepo juga.


"Aku dari kota Temanggung, Mbak. Kata orang, sih, kotaku ini negeri tembakau. Tapi aku sendiri belum pernah menanam tembakau di sana. Malah aku jadi anak rantau yang bernasib tragis seperti ini," curhatku tanpa sadar. Ya ... ini adalah kebiasaan burukku. Aku nggak bisa bohong. Otomatis, apa yang aku rasakan ya bakal aku keluarkan ke orang yang sedang ngobrol denganku.


"Wah ... apa di sana masih asri, Mbak? Yang kudengar, katanya di sana itu dingin," ucap Maya antusias.


"Dingin atau nggak tu tergantung. Kalau dari kota ke sana emang dingin, tapi kalau penduduk asli udah biasa," ucapku.

__ADS_1


Ting.


Aku sudah sampai di lantai lima. Ternyata, desainnya beda-beda tiap lantai. Ruang besar ini ternyata seperti rumah satu lantai. Komplit, dapur saja ada. Apa tandanya, aku harus masak sendiri?


Maya mempersilahkan aku masuk, dan menuntunku ke sebuah pintu yang memiliki warna berbeda diantara pintu lainnya, karena memiliki bentuk yang paling tinggi dan berwarna putih.


Setelah kubuka, ternyata ini adalah kamarku. Bernuansa putih dan biru laut, sangat manis. Dan yang membuat aku takjub lagi, sebuah pintu almari yang berada di walk in closet ternyata pintu akses menuju kamar mandi.


Lebih menakjubkan lagi, kamar mandiku berlantai dua. Lucu sekali, kan? Yang bawah untuk BAB dan cuci muka, yang atas untuk mandi dan berendam.


Ah ... tapi asal kalian tahu, aku sama sekali tidak menikmati semua fasilitas ini. Mau semewah apapun, aku tetap menjadi seorang istri engkong Ali.


Tak membutuhkan waktu lama untukku mengenal rumahku ini. Maya minta izin untuk pergi ke kamarnya setelah memastikan tak ada lagi yang aku butuhkan.


"Iya, Non. Setiap istri Tuan Ali memiliki asisten pribadi yang tinggal satu rumah dengan mereka. Kenapa, Non?" tanyanya heran.


"Ya heran aja, Mbak. Rumah ini sudah bukan lagi disebut rumah. Tapi gedung apartemen. Setiap lantai ada rumahnya." aku nyengir kuda, menertawakan diriku yang sangat kampungan ini.


"Tuan memang sangat kaya, Non. Hanya saja ..." Maya menjeda ucapannya, entah mengapa. Tapi yang jelas, aku melihat raut muram di wajahnya.


"Kenapa, Mbak? Kok sedih?" tanyaku, menyentuh pundaknya.


"Kami semua harus rela menjadi budak nafs*nya, Non. Bukan cuma istri saja, tapi semua wanita yang bekerja di sini. Dan saya sudah terjebak di pekerjaan ini. Kalau bisa, saya mau kabur dari sini, Non. Saya lelah, belakangan ini Tuan lebih dominan ke saya daripada yang lain. Saya-"

__ADS_1


"Maya!" sentak kakek tua yang sedang kami gunjing. Entah sejak kapan dia datangnya.


"Maaf, Non. Non jaga diri baik-baik ya. Saya pergi menemui Tuan dulu,"


Aku benar-benar merasa ingin mati saja jika seperti ini. Tuhan ... dosa apa yang telah aku lakukan, sehingga aku harus bernasib seperti ini?


Aku meluruhkan tubuhku ke lantai yang dingin ini. Aku keluarkan seluruh air mata yang sedari tadi terbendung di dalam sana.


Namun, tiba-tiba aku mendengar sebuah ketukan dari jendela kamarku. Penasaran, perlahan aku bangkit dan berjalan menuju jendela.


Ada sosok bayangan berdiri di sana. Dan kupastikan, dia laki-laki. Aku segera membuka gorden warna biru laut itu dan membuka jendela.


Mataku terbelalak lebar melihat sosok di depanku. Dia adalah ... laki-laki yang mencuri ciuman pertamaku, El Barrack.


"Hai, cantik. Are you okay?" dia mengerlingkan matanya dan segera masuk ke dalam kamarku.


"Tuan?"


"Jangan bengong. Aku ke sini hanya untuk memastikan keadaanmu, dan aku merindukanmu," ucapnya, sambil melihat sekeliling kamarku. Seperti mencari sesuatu.


"Kalau dia tahu gimana, Tuan? Jangan bikin masalah, nanti saya yang kena." aku mengerucutkan bibirku. Dia benar-benar nekat.


"Jangan khawatir, dia lagi asik mandi keringat sama asisten pribadimu di lantai atas ini,"

__ADS_1


Tinggalkan like n komen ya, gaes! 😊


__ADS_2