Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Benteng Yang Tinggi


__ADS_3

Firasat orang tua itu kuat. Apalagi, menyangkut putra-putri mereka. Begitu pula dengan Bapakku. Kini, aku tengah duduk berhadapan dengan pria tua yang telah membesarkanku. Aku melihat tatapannya yang mengintimidasi. Suasana pun mendadak tegang.


"Pertama, Bapak curiga sampeyan nggawe masalah ning Jakarta. Iyo opo ora? Jujur karo Bapak, Nduk," kata Bapak penuh penekanan.


(Pertama, Bapak curiga kamu membuat masalah di Jakarta. Iya apa tidak? Jujur sama Bapak, Nak.")


"Iyo, Pak. Aku ono masalah ning kono. Tapi masalah gawean tok, kok." aku menghela nafas panjang. Ya, tambah lagi kebohonganku.


("Iya, Pak. Aku ada masalah di sana. Tapi masalah kerjaan aja, kok.")


"Masalah gawean opo sampek nggawe sampeyan umpetan ngene? Bapak ora goblok, Nduk. Po meneh, Mas Barrack kui wong elit, hudu wong biasa. Tur nek memang masalah gawean biasa, opo iyo sampek nggowo body guard barang?" cecar Bapak, dan berhasil membuatku terdiam seribu bahasa.


("Masalah kerjaan apa sampai bikin kamu sembunyi gini? Bapak nggak bodoh, Nak. Apa lagi, Mas Barrack itu ora elit, bukan orang biasa. Juga, kalau memang masalah kerjaan biasa, apa iya sampai bawa body guard segala?")


"Dadi ngene, Pak. Aku dianggap nilep duit bos besar. Nah, aku ning kono arep dilaporke polisi. Mas Barrack iki sek nyelametke aku. Aku digowo bali tapi kudu ngumpet. Nek ora yo aku ketangkep, Pak." tangan yang aku sembunyikan di belakang tubuh begitu bergetar saat mengatakan kebohongan lagi. Aku menahan tangis yang mendesak ingin keluar. Berbohong kepada orang tua yang membesarkan kita sungguh menyakitkan.

__ADS_1


("Jadi gini, Pak. Aku dianggap menggelapkan uang bos besar. Nah, aku di sana mau dilaporkan ke polisi. Mas Barrack ini yang menyelamatkan aku. Aku dibawa pulang tapi harus sembunyi. Kalau nggak ya aku ketangkap, Pak.)


"Tapi kenopo Bapak curiga pas kejadian Bapak ditusuk kae ono hubungane karo sampeyan, Nduk. Soale, wonge sek nusuk Bapak kui nganggo pakaian formal," kata Bapak penuh penekanan.


("Tapi kenapa Bapak curiga waktu kejadian Bapak ditusuk itu ada hubungannya sama kamu, Nak. Soalnya, orang yang menusuk Bapak itu pakai pakaian formal.")


"Ehem!" suara deheman El membuat aku dan bapak yang sedang bersitegang sontak terkejut.


"Maaf jika saya mengganggu. Saya hanya ingin menjelaskan, bahwa apa yang dikatakan Seika benar adanya. Atasan Seika itu bukan orang sembarangan. Kebetulan, saya salah satu investor di sana. Makanya, saya tahu seperti apa atasan Seika ini," papar El dingin.


"Ca, ikut aku!" titah El tegas. Aku mengangguk lalu berpamitan pada Bapak dan mencium punggung tangannya yang sudah keriput.


El menarik lenganku, lalu membawaku ke sebuah kamar yang berada di lantai atas. Sejenak aku berpikir, bukankah kamarku berada di lantai bawah bersebelahan dengan kamar Ninda?


"Ini kamar siapa, Kak?" tanyaku, memecah keheningan.

__ADS_1


"Ini kamarku. Lantai dua ini khusus tempatku. Tak ada yang boleh naik kecuali atas perintahku. Termasuk kamu dan keluargamu," ucap El, sedikit membuat hatiku kembali teriris merasa kecil di hadapan laki-laki tampan ini. Ya, aku bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa. Tapi kenapa dia selalu menganggapku spesial di momen-momen tertentu?


Aku hanya diam tanpa berniat merespon sedikitpun. Aku kecewa ...


Katanya cinta, tapi kenapa kerap melukai dengan kata-kata? Perlukah aku mengakhiri hubungan ini? Tapi, bagaimana aku menghadapi Ali nanti? Atau aku harus membentengi hati agar tak mencintai El terlalu dalam?


"Kenapa diam? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya El.


"Tidak. Rasanya, tak pantas jika aku banyak bertanya padamu," ucapku dingin dan tanpa menatap El sedikitpun.


"Maaf jika kata-kataku tadi melukaimu. Aku sedang banyak pikiran. Aku harap, kamu mengerti," ucap El, lalu membawa tubuhku ke pelukannya. Aku bergeming dan tak berniat membalas pelukannya.


"Tak apa," balasku singkat, lalu menarik tubuhku agar tak terjebak dalam pelukan hangatnya.


Ya, aku berniat untuk membentengi hatiku agar tak mencintai El terlalu dalam.

__ADS_1


__ADS_2