
Seika terrkulai lemas dalam pelukan El Barrack. Air matanya masih belum kerin, terlihat sekali gurat kecemasan di dahinya yang mengkerut. El Barrack belum sempat bertanya perihal apa yang telah terjadi. Namun, Seika telah terlebih dahulu tak sadarkan diri. Oleh karena itu, El Barrack berinisiatif menghubungi para bodyguard yang ia uus untuk menjaga villa yang tengah ditempati ayah Seika beserta adiknya.
"Hallo, apa yang terjadi?" tanya El, setelah sambungan telepon terhubung.
"Bos, ayah Nona Muda meninggal dunia. Maafkan kami lengah menjaganya," ucap Bodyguad di seberang sana.
"Apa! Bagaimana bisa?!" pekik El Barrack, matanya melirik Seika yang masih setia terpejam dalam pelukannya.
"Kami lengah membiarkan seorang penyusup masuk ke villa, Tuan. Beliau terkena tembakan di dadanya, dan tembakan itu tepat mengenai jantungnya. Dan kami sudah berhasil menangkap penyusup itu."
"Bedebah kalian! Sekarang di mana jenazahnya?" tanya El Barrack, rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk.
"Beliau masih di rumah sakit ditemani Nona NInda, Tuan."
"Baik. Aku akan segera ke sana. Dan kau amankan penyusup itu. Usahakan, tanyakan dia siapa yang menyuruhnya sampai dia mau berkata jujur," ucap El Barrack tegas dan penuh penekanan. Selanjutnya, ElBarrack memutus sambungan telepon secara sepihak.
__ADS_1
El sangat khawatir dengn dugaannya. Sebab, hanya orang itu yang sangat membenci ayah Seika, "Semoga bukan dia."
El Barrack mengangkat tubuh Seika, dan dibaringkannya tubuh lemah itu ke ranjang kebesarannya. Ia kecup dahi gadis malang itu.
"Maafkan aku, Sayang. Kamu harus terlalu jauh masuk ke dalam masalah yang sama sekali tak ada hubungannya denganmu," bisik El Barrack, tepat ditelinga kiri Seika. Lalu, laki-laki tampan itu mengambil minyak angin dan dioleskannya ke hidung Seika. Berharap, mata lentik gadis itu segera terbuka.
"Ayah ..." lirih Seika, membuat kedua bola mata El Barrack berbinar.
"Sayang, kau sudah sadar?" El Barrack mengecupi punggung tangan Seika, tak lupa senyum lebar terukir jelas di bibir seksi El Barrack.
"Ayah, Kak," isak Seika, bahunya terguncang bersaaan dengan rasa sakit yang menusuk ulu hatinya. El Barrack menatap iba gadsi tercintanya, di peluknya gadis itu degan erat, ia tinggalkan kecupan berkali-kali di puncak kpala Seika.
Lantas, merek sama-sama bersiap diri. Seika mengenakan dress selutut berwarna putih dan flat shoes senada. El Barrack pun mengenakan kemeja putih dan celana hitam, tak lupa kacamata hitam bertengger cantik menutupi kedua mata elangnya.
"Kau harus kuat, Sayang." El Barrack mengusap lembut rambut hitam panjang Seika yang tergerai rapi. Seika mengangguk lemah, disertai air mata yang tak kunjung reda.
__ADS_1
"Ayah kenapa? Ayah tega sekali meninggalkan aku dan Ninda," isak Seika, meski kini mereka tengah berjalan keluar rumah menuju tempat di mana mobil El terpakir.
"Ini sudah menjadi garis takdir untuk ayahmu, Ca. Ikhlaskan ... bukankah kita juga akan mati? Semua yang hidup pasti akan mati dan hanya tinggal menunggu saatnya saja," papar El Barrack, berharap apa yang ia katakan masuk ke dalam otak Seika dan Seika tak larut dalam kesedihan lagi.
Dan benar saja, tangis Seika mulai reda. Gadis itu termenung, tatapannya kosong. Sepanjang perjalanan, El Barrack tiada heti menggenggam erat tangn Seika. Sekali-kali El Barrack meninggalkan kecupan singkat di punggung tangan tersebut.
"Kak ... bukankah sekarang aku adalah seorang anak yatim piatu?" tanya Seika tiba-tiba, dan pertanyaan tersebut sontak membuat El Barrack menghentikan laju mobilnya.
"Sayang, semua orang pasti akan mengalami hal ini, tak terkecuali aku. Jangan berpikir macam-macam, okay! Ada aku yang akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi," lirik El Barrack, seraya menangkup kedua pipi Seika.
"Tapi rasanya beda, Kak ..." isak Seika, menghambur ke dalam pelukan El Barrack. Akhirnya, El tak mampu lagi menahan bendungan ar matanya. El menangis, seolah turut merasakan kepedihan yang tengah SEika rasakan.
"Sakit sekali rasanya kehilangan, Kak. Aku seperti sendiri di dunia ini. Aku belum siap menghadapi kenyataan ini, Kak. Aku belum siap ..." Seika semakin membenamkan kepalanya di dada kekasihnya itu.
"Tenanglah, Sayang. Bukankah adikmu juga tengah semdirian di sana?" barulah Seika terdiam, seakan baru tersadar dari tidurnya. Seika segera menarik dirinya dari pelukan El Barrack dan berkata, "Ayo, kita lanjutkan lagi perjalanannya. Kita harus segera sampai."
__ADS_1
Meski begitu, pandangan Seika tetaplah kosong. Seorang anak yang kehilangan orang tua, mereka akan merasa dunianya tak ada lagi cahaya. Gelap, sunyi, hampa, dan kehilagan semangat hidup. Mereka butuh motivasi dari orang-orang terdekat. Mereka membutuhkan perhatia lebih agar mereka tak merasa sendiri di dunia ini. Percayalah, kehilangan orang yang paling kita sayang serasa dunia runtuh, sandaran hidup roboh, dan semangat hidup pudar.
Karena itu, hargai dan sayangi mereka selagi masih ada. Bahagiakan mereka semampu kita. Karena sejatinya ... bahagia itu sederhana.