
Akhirnya, El menceritakan semua asal-usul keluarganya beserta silsilahnya. Aku terkejut sekaligus merasa tak pantas. Bagaimana mungkin aku berselingkuh dengan cucu suamiku?
Lagi-lagi, aku nggak bisa berpikir jernih atas kenyataan gila ini. Aku semakin takut bertemu dengan suamiku. Dengan kakaknya saja dia tega membunuh, apalagi denganku yang hanya istri pemuas nafsu?
"Tuhan ... beri aku waktu luang agar aku mampu menyiapkan tekad dan mentalku sebelum bertemu dengan kakek psikopat itu," racauku dalam hati.
El menggenggam jemariku, lalu mengecupnya mesra. Aku tersipu dibuatnya.
"Jangan takut, banyak sekali orangku di dalam rumah itu. Kamu jelas terpantau olehku. Mayang saja belum pernah tersentuh, apalagi kamu yang hanya akan disentuh dengan tanganku?" bisik El, lagi-lagi hatiku dibuat berbunga-bunga oleh kata manis dan maut El Barrack.
"Tapi ... bagaimana dengan Maya, Kak? Apa dia aman?" tanyaku yang entah sudah ke berapa kali, namun tak mendapat jawaban.
"Maya ... dia ada di tangan orang yang tepat. Yang penting, dia tak lagi menjadi tawanan Ali lagi, kan?"
"Iya, tapi aku masih tetap menghawatirkan kondisinya. Apa aku boleh menjenguknya?"
__ADS_1
"Boleh, tapi tunggu sampai keadaan kamu pulih dulu, hmm?"
Entah mengapa, mendengar jawaban El ini semakin membuat perasaanku tak tenang. Hatiku mengatakan, Maya sedang tidak baik-baik saja. Tapi demi Maya, aku harus mau pura-pura menurut dan tidak tahu apa-apa.
"Kak, juragan Ali sekarang di mana? Sepertinya, sebelum aku pingsan aku melihat ada beberapa bayangan dari luar jendela. Apa dia tertangkap?" tanyaku, yang tiba-tiba teringat nasib kakek tua itu.
"Dia ... gini, Ca. Bayangan yang kamu lihat itu, mereka tim rahasiaku yang menyamar menjadi pekerja di rumah Ali. Aku mendapat laporan salah satu dari mereka bahwa kamu dalam bahaya. Oleh karena itu, aku segera menyuruh mereka bersiap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Alhasil, aku membawa beberapa pasukan lagi untuk mengalahkan orang-orang Ali. Jadi ... ya ..."
"Apa kalian berperang di sana?" aku menyipitkan mataku.
"Berapa banyak korban atas peristiwa itu?" tanyaku, aku akan menjadi orang yang paling bersalah di sini jika sampai perkelahian itu membuat beberapa orang kehilangan nyawa mereka.
"Aku mendapat laporan dari Zack, tidak ada korban jiwa. Hanya luka parah saja, dan yang lainnya luka ringan. Itupun langsung ditangani oleh dokter pribadiku," terang El, membuat aku sedikit lega.
"Lalu, bagaimana dengan para maduku?"
__ADS_1
"Masing-masing dari mereka memiliki aspri. Tentu kamu tahu, kan, apa tugas mereka sebagai asisten pribadi para selir tuan terhormat itu?"
Ya, aku hampir lupa dengan para aspri. Jelas aku lupa, karena hanya aku yang tak memiliki aspri. Tak masalah, nyatanya aku tetap aman bahkan aku bisa menolong Maya.
"Kamu hebat. Kamu itu perempuan yang sangat teguh dalam mempertahankan diri kamu. Aku bangga. Tapi lain kali, jangan ceroboh. Apalagi sampai percobaan bunuh diri seperti ini. Jangan gegabah, jangan terlalu terlihat oleh orang-orang di lantai satu. Mereka terlalu pandai membaca gerak-gerik orang lain. Termasuk kamu. Untungnya, Ali itu termasuk orang kaya tapi paling bodoh di dunia. Jadi, gunakan kebodohannya untuk menyelamatkan beberapa wanita yang tertindas di dalam sana. Mengerti?"
"Tunggu dulu, bagaimana kamu tahu kalau di sana ada beberapa wanita yang tertindas?" ada yang ganjal dengan pernyataan El ini menurutku. Yang ku tangkap, El sudah tahu ada yang membutuhkan pertolongan, tapi dia enggan menolong.
"Kamu lupa ada beberapa orang yang aku tugaskan di sana? Mereka terlatih, sepandai-pandainya mereka membaca gerak-gerik musuh, tapi tidak dengan orang-orangku."
"Lalu, kenapa kamu tidak menolong mereka?" aku menyipitkan mataku, dan sepertinya El sadar dengan tatapanku.
"Melawan Ali itu butuh rencana yang matang, Sayang. Kalau aku gegabah, aku takut akan mengancam keselamatan Mama, Papa, dan Mayang. Aku tidak bisa menjaga mereka 24 jam, Eca." El mencubit hidungku gemas, lalu mengacak rambutku.
"Kalau gitu, sekarang bagaimana keadaan juragan Ali?"
__ADS_1
"Dia lolos, dia sembunyi entah di mana. Zack masih mencari. Maka dari itu, kamu jangan keluar dulu. Aku takut, dia mengincarmu."