Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Aku melihat Seika begitu kecewa dengan keputusanku. Tapi itu tak membuat niatku pupus begitu saja. Karena aku telah bertekad, tak seorang pun bisa menebas.


Sepulangnya Seika dan kakek Ali, aku melihat kak El yang ternyata tengah menatapku tajam.


"Dek, aku tahu kamu membela kaum wanita. Tapi jangan korbankan dirimu juga, Dek. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan Adik yang sangat aku sayangi." kak El mencekal pergelangan tanganku dan menarikku duduk di sampingnya.


Aku terkekeh pelan, sedikit iba melihat Kakak tercintaku seperti ini. "Kak, aku nggak mau ada korban lagi. Rata-rata, para korban lelaki bejat itu berakhir di pemakaman. Sekarang Seika ... bagaimana dengan dia? Dia kesayangan tua bangka itu, Kak. Kalau sampai ... ah, aku nggak sanggup bayangin, Kak,"


"Kita bisa pikirkan ini bersama. Setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Yang penting, kamu jangan ngorbanin diri sendiri. Seika bebas, kamu wasalam," decak kak El emosi.


Dan di waktu bersamaan, datang Zack membawa lembaran kertas yang aku tahu pasti, itu surat perjanjian.


"Zack, apa tua bangka itu udah pulang?" tanyaku seraya menyomot kertas di tangan Zack.


"Sudah, Nona," sahut Zack singkat. Cih, sombong sekali.

__ADS_1


"Tuan, baru saja Eros memberi kabar bahwa pabrik lensa Tuan mengalami masalah. Anda sulit dihubungi. Oleh karena itu, Eros menghubungi saya." aku acuh dengan laporan si Sombong itu. Aku masih fokus dengan kertas perjanjian pra nikah di tanganku. Eh salah, bukan nikah. Tapi perbudakan.


Dan setelah aku pahami, ternyata semua inti dari poin perjanjian itu cuma tentang ****. Ya ... aku sudah menyiapkan segalanya. Namanya budak ya harus patuh dengan segala perintah Tuannya, bukan?


Setelah aku membubuhkan tanda tangan di sana, aku mengembalikan kertas tersebut. Aku nggak butuh kertas salinan, nggak penting juga. Dan mulai besok, aku harus sudah siap tinggal di rumah Ali Suprapto. Sebelumnya, aku sudah memberi syarat supaya aku tinggal di lantai tujuh. Nggak sudi aku kalau sampai tinggal di lantai satu.


Setelah perbincangan kak El dan Zack selesai, kak El mengantarku pulang ke kosan. Pamit sama Rosa dan packing baju. I'm ready!


Seika Pov


"Darling, kamu mau tetap duduk di mobil?" aku benci dengan panggilan Darling ini. Aku tak menjawab, hanya mengangguk dan segera keluar dari mobil.


Setelah aku masuk ke rumah, aku disambut oleh mbak Neneng yang sedang duduk di kursi roda sambil ngasih makan ikan hias di akuarium besarnya.


"Seika, ya ampun ... dari mana kamu, Nak?" tanyanya khawatir padaku. Emang terlihat jelas raut cemasnya terhadapku.

__ADS_1


"Aku habis main petak umpet doang, kok. Oh iya, mbak Sri?" aku celingukan mencari sosok wanita yang terluka ulah Suaminya.


"Dia di kamar. Udah baikan tadi habis diperiksa dokter pribadi. Seika udah makan?" ah, wanita ini sangat perhatian.


"Sudah, Mbak. Aku ke kamar dulu, ya, Mbak. Lelah sekali," ucapku. Dan aku segera masuk ke lift dan memencet tombol angka 5.


Tapi tunggu, aku baru ingat. Orang yang menelepon El itu bilang Mayang diculik. Tapi nyatanya, Mayang malah di hotel sama kakek Sugiani. Nggak mungkin Mayang nyerahin diri, kan? Lalu, apa hubungan El dan Mayang? Kenapa orang di telepon tadi sampai menghubungi El untuk melaporkan kejadian hilangnya Mayang?


Apa Mayang adalah kekasih El juga?


Ah, berbagai pertanyaan meronta-ronta di otakku. Aku nggak tahu, dan aku pusing memikirkan semua yang terjadi.


Sampai akhirnya, aku telah sampai di ruang pribadiku. Aku berjalan menuju kamarku untuk membersihkan diri meski masih merasa nyeri yang lumayan kuat di telapak kakiku.


Aku berjalan menuju kamar mandi dan berendam, aku berharap tekanan otak dan tekanan batin yang aku derita sedikit berkurang. Aku juga akan menghubungi Bapak setelah aku puas berendam.

__ADS_1


__ADS_2