Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Fakta Tentang Nina


__ADS_3

Aku dan El baru saja sampai di kamar hotel. Ya, aku tidur di satu kamar dengan El karena, kebetulan semua kamar penuh dengan para manusia yang tengah berlibur di Hari Kemerdekaan. (Ciaaah ... judulnya episode spesial hari kemerdekaan, nih🤭).


Malam ini, El tidur di sofa sedangkan aku dan Nina tidur di ranjang. Tapi sebelum kami tidur, aku membawa Nina ke kamar mandi untuk aku mandikan. Pakaian kotornya juga akan aku buang karena El membelikan yang baru di bawah tadi.


Nina tampak bahagia dengan baju barunya. "Kamu suka bajunya, Dek?" tanyaku, dia mengangguk dan tersenyum polos.


"Kalau boleh tahu, kamu ini kenapa bisa hidup di jalanan, sih?" tanyaku hati-hati.


"Ibu sama ayah nggak ada," jawabnya terdengar ambigu di telingaku.


"Nggak ada karena lagi kerja atau gimana?" dia diam dan menundukkan wajahnya tajam.


"Mereka bilang mau pergi ke Papua, terus aku disuruh turun dari mobil," katanya. Jantungku serasa mau copot ketika mendengar pernyataan anak usia 6 tahunan ini. Menurutku, ini termasuk kasus pembuangan anak. Aku memeluk Nina dan mengecup kepalanya.

__ADS_1


"It's okay, Nak. Sekarang, kamu punya aku dan Kak Eca. Nina udah nggak sendirian lagi, setelah ini kamu juga akan hidup dengan lebih baik lagi, hem?" sela El, seraya mengeringkan rambutnya yang basah. Cool ... apalagi ditambah aroma maskulinnya. Siapapun pasti tergoda dengan pemandangan hot yang ada di depanku.


"Kak El benar, Nina. Sekarang, kamu udah punya keluarga. Jalan hidup kamu sudah diatur sama Tuhan, sampai-sampai kamu begitu beruntung dipertemukan dengan Kak El. Dia itu ATM berjalan," bisikku. El terkekeh menatapku, lalu berjalan menuju walk in closet.


"O iya, Nina bilang ada orang jahat namanya Risha. Seperti apa dia? Kamu ingat, nggak?"


"Item, rambutnya ikal, pakai baju kaya orang jahat yang bertato itu, terus lagi hamil."


Fix, ini Risha mantan sahabatku. Tapi dia lagi hamil? Hamil anak siapa? Ah, masa bodo. Yang jelas, aku harus lebih berhati-hati lagi. Musuh-musuhku masih berkeliaran bebas di luar. Dan aku sadar, aku nggak bisa melawan mereka sendirian. Aku butuh El Barrack sebagai pelindungku. Mereka terlalu kuat untuk sekelas orang bawah sepertiku. Tapi, apa El mau menemaniku sampai semua berakhir?


Persetan dengan surat perjanjian. Surat itu aku anggap nggak berlaku setelah aku masuk ke dalam hidup El Barrack. Seyakin ini aku terhadap cintanya seorang El Barrack. Selemah ini tiangnya hati seorang wanita. Apalagi, ditambah poin dalam surat itu isinya cuma tentang seksual dan uang saja. Jadi, sepertinya aku masih bisa bertahan.


El baru saja keluar dari walk in closet. Aku heran, kok bisa ada baju santai yang pas banget dengan tubuh El di hotel ini? Masa ada hotel yang menyediakan pakaian untuk para penginap?

__ADS_1


"Dor!" seru El, membuat aku yang sedang ngelonin Nina terkejut.


"Jangan keras-keras. Nina udah tidur," bisikku, sambil melebarkan mataku tanda tak suka dengan aksi konyol El.


"Oh, maaf. Aku kira dia belum tidur," kekeh El tanpa dosa. Untung Nina sangat lelap tidurnya.


Aku tatap wajah teduhnya, aku usap pipinya yang lembut. Sungguh damai tidurnya, terlihat dari ukir senyumnya yang tak pudar meski tengah tidur dengan begitu lelap. Dalam hati aku bertanya, apakah dia kecapekan? Apa dia sangat nyaman tidur di sini? Karena biasanya dia tidur di pos polisi yang sempit, dingin, dan pastinya tak ada alas untuk tidur.


"Dia bilang apa soal Risha?" tanya El, membuat aku berdecak kesal. Selalu saja membuat jantungku serasa mau copot.


"Katanya, Risha itu item, dekil, pakai baju urakan, sama lagi hamil. Kayanya, Risha nggak hamil, deh," pikirku, mulai serius dan melupakan sikap menyebalkannya El Barrack.


"Mungkin itu memang Risha sahabatmu. Bisa jadi dia dihamili pacarnya. Namanya juga hidup bebas."

__ADS_1


Benar kata El. Yang namanya anak kalau sudah dibiarkan merasakan kebebasan di luar, pasti akan terus merasa bebas dan melupakan masa depan. Di sini, peran keluarga terutama orang tua sangat penting dalam memantau perilaku anak ketika di luar rumah. Supaya, mereka tidak terjerumus ke dalam kehidupan yang bebas. Ibarat burung peliharaan yang lepas. Kalau pandai mencari makan mereka tak mau pulang, kalau tak bisa cari makan ya mati.


__ADS_2