
"Bukan tidak mau membawa Nona ikut saya. Saya takut Tuan Orland akan marah besar jika tahu putrinya hidup bersama bawahannya," tolak Dokter dengan lembut, sambil tetap memeluk Mayang.
"Saya nggak kuat, Dok. Saya lelah berjuang sendiri tanpa pendukung, tanpa sandaran, tanpa ibu, tanpa teman. Saya lelah, Dokter," raung Mayang.
"Menangislah, Nona. Saya yakin, ada pelangi setelah hujan. Ada hikmah di balik ujian." Mata Dokter pun berkaca, tak tega mendengar keluh kesah pasiennya.
**
Di rumah El Barrack.
Seika tengah duduk santai di balkon kamarnya. Sepoi angin mengibas surai panjangnya. Tatapannya mulai berbeda, ada harapan di baliknya. Ada senyum tipis di bibirnya, serta rona merah jambu di pipinya. Tak lagi pucat, telah segar seperti sedia kala.
Dari belakang, datang El Barrack dengan sekuntum mawar putih di balik punggungnya.
"Sedang ada Tuan Putri cantik ini?" goda El, dikecupnya pipi tirus Seika. Lalu, sekuntum mawar putih itu El letakkan di tangan Seika yang sedang bersidekap dada.
__ADS_1
"Kakak, bolehkah aku pergi keluar?" tanya Seika lirih, namun tersenyum hangat. Diciumnya mawar itu, ia hirup dalam-dalam aroma wanginya.
"Boleh, dong. Mau ke mana, hem?" El menyelipkan anak rambut Seika ke belakang telinga.
"Ke Pasar Malam," sahut Seika.
"Boleh. Nanti malam kita ke sana, ya?" Seika mengangguk. "Sekarang kita masuk dulu. Dingin," bisik El.
Mereka berdua pun masuk. El merangkul pundak Seika, dan sesampainya di dalam El menuntun tubuh Seika supaya berbaring di ranjang.
"Aku nggak mau tidur, Kak," kata Seika.
"Mau peluk aja." El tersenyum hangat, lalu El pun naik ke ranjang dan ikut berbaring di sisi Seika. Dipeluknya tubuh kurus itu dengan penuh kasih. Hingga si empunya terlalu nyaman dan larut dalam kehangatan.
"Aku mencintaimu, Kak," kata Seika. Senyum El kian mengembang. Lama tak ia dengar kata mesra dari mulut Seika, dan ini kali pertama Seika ingat kalimat paling indah itu.
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu, Sayang. Cepat pulih dan aku akan segera menikahimu, oke." Seika mengangguk, ia benamkan wajahnya dalam-dalam di dada bidang El Barrack. Akhir cerita, Seika tertidur lelap dalam pelukan El Barrack dengan membawa senyum kebahagiaan. El sendiri harus segera ke EyeClear untuk meninjau launching frame terbarunya. Dengan hati-hati, ia beranjak turun dari ranjang lalu keluar dari kamar dengan hati-hati. Tapi sebelum itu, kecupan mesra ia daratkan di dahi Seika.
"Aku pastikan, kamu akan segera cerai dari Ali, Sayang. Dan kita akan segera menikah meskipun Papa menentang."
Di Orland Mart.
"Kamu keterlaluan, Ma! Dia anak sahabat kecil aku yang udah meninggal!" seru Orland kepada Yunita yang sedang duduk dengan menundukkan kepala.
"Tapi kenapa kamu nggak jujur sama aku, Pa? Aku istri kamu, apapun itu kita harus saling terbuka, Pa," isak Yunita.
"Apa perlunya? Yang penting kantong kamu tebal terus, kan?" tanya Orland, seraya tersenyum miring.
"Oh, jadi kamu pikir aku gila harta, gitu? Ya, benar. Aku gila harta sampai aku nggak peduli dulunya kamu siapa! Aku juga nggak pernah peduli sama asal-usul keluarga kamu! Aku nggak peduli sama masa lalu kamu. Dan satu lagi, aku juga selalu percaya meskipun yang keluar dari mulut kamu adalah dusta belaka," ucap Yunita penuh penekanan, lalu ia beranjak hendak keluar dari ruang CEO Orland Mart. Namun, Orland lebih dulu mencekal lengan Yunita. Dan ditariknya tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maaf. Aku yang salah di sini, Ma," bisik Orland, meskipun nafasnya masih memburu. Pertanda dirinya masih mencoba mengendalikan emosi. Bukan karena emosi kepada Yunita, melainkan kepada dirinya yang gagal menjadi Ayah sekaligus suami yang baik.
__ADS_1
"Tidak. Aku yang salah karena terlalu menuntut kamu supaya selalu terbuka," lirih Yunita kecewa.
"Tidak, Ma! Kamu benar, aku yang harusnya selalu terbuka," elak Orland. Dia menyadari, akar permasalahan ini datang dari dirinya sendiri. Dan salahnya, dia tak bisa mengendalikan diri lalu menjadikan Yunita sebagai pelampiasan emosi.