Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Kenapa?


__ADS_3

Keesokan paginya, aku telah bersiap menuju tempat baruku setelah aku dinyatakan sembuh oleh dokter. Senyumku mengembang tatkala mengetahui tempat yang akan menjadi rumah baruku. Aku akan tinggal di sebuah vila di puncak Gunung Sumbing. El membeli vila itu untukku bersembunyi. Katanya, bapak dan Ninda juga akan turut tinggal di sana.


Hanya sementara waktu, tapi setidaknya aku bisa berkumpul dan bersahut rindu dengan mereka. Tempat itu juga tersembunyi dan aman. Meski begitu, El bilang dia akan membawa beberapa pengawal terlatih untuk berjaga di sana.


Selesai berkemas, aku menyempatkan diri untuk menjenguk Mayaratih terlebih dahulu. Bersama El, aku menaiki mobil Lamborghini merah milik El Barrack. Selama dalam perjalanan, bibirku tak pernah luput dari senyuman lebar dan tak jarang bernyanyi dangdut terbaru milik Happy Samara yang judulnya Satru Pitu.


Tak jarang pula El tersenyum kala mendengar suaraku yang tak bisa mencapai nada tinggi.


"Kamu bahagia sekali, Ca?" tanya El, senyumnya yang menawan menghiasi bibir seksinya.


"Sangat, Kak. Aku tak sabar untuk bertemu dengan Bapak dan Ninda. Aku sangat merindukan mereka." mataku menatap jalanan yang padat, tapi otakku membayangkan momen bertemunya aku dengan dua orang yang selalu aku rindukan.


"Apa tak ada sesuatu untukku? Ya ... seperti bentuk rasa terima kasihmu gitu." bibir El terlihat cemberut, meski matanya tetap fokus ke depan. Aku tersenyum tipis merasa gemas dengan selingkuhanku ini.


"Emmm ... nanti setelah kita sampai di Temanggung, kita mampir dulu ke Sigandul View yang sekarang lagi viral. Aku belikan kamu tempe mendoan khas sana yang enak banget," ujarku antusias.


"No, aku nggak mau. Aku mau yang hadiah spesial. Aku udah berkorban banyak buat kamu masa hadiahnya cuma tempe mendoan doang?" El berdecak kesal. Aku tersenyum miring, tahu apa yang dia mau.


"Ya sudah, minggir dulu, deh. Aku kasih hadiahnya sekarang aja, takut jadi utang malah aku yang dapet dosa nanti." tak disangka, El langsung menepikan mobilnya lalu menatapku penuh harap.

__ADS_1


"Kamu mau apa dari aku?" bisikku. Saat ini, jarak wajahku dan wajah El hanya sekitar 5cm saja. Sehingga, aku dapat merasakan hembusan nafas El yang menyapu lembut wajahku.


"Aku mau kamu," jawab El dengan bisikan pula yang menurutku ... seksi. Ah, otak mesumku ternyata aktif juga.


"Kalau mau aku, kita harus ke pendeta dulu. Aku kasih kamu ini aja ya?" El menatap manik mataku dalam, seperti tahu apa yang akan aku lakukan. Padahal, aku cuma menatap bibirnya tapi seakan dia tahu apa yang aku maksud.


El semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, sampai aku bisa merasakan hangat nafasnya menempel ke kulit wajahku. Dan saat bibirnya hampir menempel ke bibirku, aku segera menempelkan jari telunjukku ke bibirku sendiri. Sehingga, bibir El hanya bisa mencium jariku.


"Ca ..." desis El, tampak gemas.


"Aku akan mengabulkan apa yang kamu minta, kalau kita sudah sampai di tujuan. Sekarang, aku kasih kamu modal ini dulu, ya?" aku mengecup puncak hidungnya, lalu aku segera memalingkan wajahku karena malu yang luar biasa.


Mobil kembali berjalan. Dan lima belas menit kemudian, mobil berhenti di sebuah halaman luas di samping perkebunan bunga.


"Kak, kita mau menemui Maya, loh," ucapku kesal.


"Ikut aku!" titah El tegas, lalu dengan gerakan cepat El mencekal pergelangan tanganku. Aku mengikuti langkah El memasuki perkebunan bunga yang dikenal dengan sebutan bunga keabadian itu.


"Kok pemakaman?" tanyaku, firasatku mendadak buruk.

__ADS_1


Sampai di sebuah makam yang dipenuhi rumput dan dikelilingi batu marmer, aku dibuat terkejut oleh batu nisan yang bertuliskan nama seseorang yang sangat aku kenal.


"Mayaratih Prameswari?" aku menatap El yang juga tengah menatapku. "I-ini maksudnya apa?" aku masih berusaha menepis dugaan-dugaan burukku.


"Maya ... dia berhasil dibunuh oleh Ali Suprapto, Sayang. Kamu yang sabar, ya?"


Duaarrrr!


Bagai ditusuk seribu belati. Kakiku lemas seketika, aku ambruk di sisi makam perempuan yang sudah aku anggap sebagai adik. El manahan tubuhku agar tak sampai jatuh ke tanah.


"Kenapa? Kok bisa? Kapan?" hanya tiga pertanyaan ini yang masuk ke otakku.


"Saat aku masuk ke kamar Maya waktu kejadian gila itu, Ali sudah dibawa paksa oleh anak buahku untuk dibawa ke penjara bawah tanah rumahku. Di saat yang bersamaan, aku melihat dua gadis yang sama-sama berlumuran darah, yaitu kamu dan Maya. Kamu terluka pergelangan tangannya, Maya terluka lehernya. Aku yakin, kamu pasti tahu apa yang Ali lakukan terhadap Maya. Dan saat aku mengecek denyut nadi Maya, dia sudah nggak ada. Sedangkan denyut nadi kamu masih ada meski lemah. Akhirnya, aku memilih membawa kamu--dan Maya, aku suruh Zack yang mengurusnya. Maaf, aku harus menyembunyikan ini dari kamu. Aku cuma mau kamu lekas sembuh, itu saja," papar El.


Ya, aku ingat waktu kejadian itu Ali menggenggam benda tajam yang dia todongkan ke leher Maya.


Ah, tubuhku lemas tak berdaya. Andai aku tak mengancam bunuh diri waktu itu, andai aku menuruti permintaan Ali untuk melayaninya. Mungkin, Maya masih ada.


Air mataku tak dapat ku bendung lagi. Tangisku pecah dalam pelukan El Barrack.

__ADS_1


"Menangislah! Setelah ini, aku pastikan tak akan ada air mata yang jatuh dari matamu selain air mata kebahagiaan."


__ADS_2