Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Perjalanan Menuju?


__ADS_3

Malam ini, El benar-benar berangkat ke Jakarta. Tak ada yang berubah, El meninggalkan kecupan mesra di bibirku dan memberi pesan padaku untuk tidak keluar dari vila hingga dia kembali. Aku tak janji, karena aku tak tahu sampai kapan El di Jakarta. Bahkan, sekarang aku mulai dihantui oleh prasangka buruk tentang Ali. Dua ponselku masih di sana dan aku sembunyikan di belakang cermin meja rias.


Aku takut suatu saat Ali menemukan ponselku dan mengetahui perselingkuhanku dengan cucunya. Aku tak mungkin berdiam terus di sini, sementara di Jakarta aku masih memiliki masalah yang harus aku selesaikan. Aku tak sudi menjadi pengecut karena bersembunyi di belakang pria yang seharusnya menjadi cucuku. Tapi, bagaimana caranya aku ke sana sedangkan aku dijaga begitu ketat oleh bodyguard El? Mereka sangat teliti dan peka terhadap pergerakan seseorang.


Aku mondar-mandir di dalam kamar sembari menggigit ujung kuku jari telunjukku. Akhirnya, setelah menghitung beberapa pertimbangan, aku menemukan sebuah cara dan semoga berhasil. Untuk malam ini, aku harus mengistirahatkan tubuhku. Tubuh juga butuh stamina yang kuat supaya aku tak mudah tumbang jika mendapat rintangan.


Keesokan paginya, tepatnya pukul empat dini hari, aku sudah selesai membersihkan tubuh. Dan sekarang, aku tengah menyiapkan keperluan yang akan aku butuhkan selama dalam perjalanan menuju Jakarta. Aku tak berani memakai kartu kredit atau El akan begitu mudah melacak keberadaanku. Aku cuma bawa uang cash sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah, cukup untuk kebutuhanku selama di Jakarta.


Semua selesai, aku juga sudah pamitan sama bapak. Awalnya, beliau ragu memberiku izin. Tapi aku berusaha meyakinkan bapak supaya tidak khawatir akan keselamatanku. Dan alasan yang membuat bapak memberiku izin adalah aku bilang sama bapak kalau aku telah menemukan bukti valid mengenai kasus penggelapan uang itu. Ya, aku berbohong lagi. Tapi aku janji, setelah semua masalah selesai, aku akan berkata jujur sama bapak.

__ADS_1


Setengah lima pagi, aku mengendap-endap dan memantau keadaan luar vila. Untungnya, mereka masih tidur. Mungkin karena efek hawa dingin pegunungan, sehingga mereka belum terbiasa dan membuat mereka terlalu nyaman dengan tidur mereka.


Aku memesan ojek online dan meminta Bang Ojek supaya menjemputku di perbatasan desa. Dan benar, setelah berjalan kurang lebih tiga puluh menit, Bang Ojek sudah sampai di gapura perbatasan desa.


"Sugeng enjang, Mbak. Sido mangkat Terminal Koangan opo nunggu bangjo Maron, Mbak?" sapanya basa-basi.


("Selamat pagi, Mbak. Jadi berangkat Terminal Koangan apa nunggu lampu merah Maron?")


("Koangan aja, Mas. Cepetan tapi.")

__ADS_1


"Siap!"


Kami pun memulai perjalanan. Sepanjang jalan jantungku berdebar tak menentu. Takut, cemas, dan rasa ingin mundur bercampur menjadi satu. Tapi keadaan sekarang sudah terlanjur basah. Aku sudah berhasil keluar dari vila dan ini termasuk perjuangan terberat selama perjalanan yang akan aku tempuh.


Dua puluh menit kemudian, aku telah sampai di Terminal Koangan. Aku segera memesan tiket bus kelas ekonomi. Entah kebetulan atau gimana, tapi bus yang akan aku tumpangi ternyata sudah standby di sana. Sehingga, aku tak perlu menunggu lama seperti saat aku hendak ke Jakarta melamar pekerjaan dulu.


**


Aku telah berada dalam perjalanan menuju Jakarta. Dan karena aku ke sana menaiki bus, alhasil aku harus sabar menunggu selama kurang lebih sebelas jam untuk sampai di Terminal Tanah Abang. Tak apa, yang penting irit.

__ADS_1


Tujuan pertamaku setelah sampai di sana adalah rumah Ali. Aku akan mencari ponselku dan memastikan keadaan para maduku. Setelah itu, aku akan menemui Ali dan ... aku akan menukarkan diriku dengan dua wanita berharga di hidup El.


Tapi sebelum itu, aku harus membuat alasan sebaik mungkin supaya, Ali tak curiga dengan gelagat perselingkuhanku. Aku akan bermain drama sebaik mungkin, lalu setelah Ali percaya aku akan mengurus bapak dan Ninda agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan nantinya.


__ADS_2