
Seika merasakan dingin yang tak biasa di tubuhnya. Ternyata ketika dia raba sisi kanannya, El tidak ada. Sontak Seika membuka kedua matanya lebar-lebar lalu memaksa tubuhnya untuk bangkit duduk.
"El di mana?" gerutu Seika kesal. Ia meraih ponselnya lalu mencari kontak dengan nama 'My One', dan lalu memanggilnya. Baru satu kali 'tut', panggilannya terhubung.
"Kakak di mana?" tanya Seika cepat, sebelum orang di seberang sana menyapa.
"Aku di EyeClear, Ca. Kenapa?" sahut El Barrack, lalu balik bertanya.
"Aku mau Kakak," kata Seika manja. El tersenyum girang, duduknya pun tak tenang mendengar suara manja kekasihnya. "Aku akan segera pulang. Maaf, aku pergi tidak bilang-bilang. Soalnya aku nggak tega bangunin kamu. Kayanya nyenyak banget tidurnya," terang El dengan nada lembut.
"Oh, maaf, ya. Aku jadi gangguin kamu."
"Nggak, nggak ganggu. Tunggu dua jam lagi aku pulang, Sayang. Kamu mandi, makan, minum obat, nanti aku jemput. Kita jalan-jalan, hem?" berbinar seketika wajah Seika mendengar kata jalan-jalan. Itu yang sedang ia butuhkan. "Oke! Aku tunggu, ya, Kak!" seru Seika, seraya tersenyum lebar.
"Iya. Kamu jaga diri baik-baik di rumah. Jangan keluar tanpa aku, paham?"
"Paham, Kak. Kamu semangat kerjanya, ya, Kak. I love you." pipi Seika merona karena malu sendiri atas kebucinannya.
__ADS_1
"Aku nggak sabar pengen ketemu kamu sekarang. Kamu sangat menggoda iman rupanya, hem?"
"He he he. Udah, ah. Kakak kerja dulu, selamat kerja," ucap Seika tak tahan dengan tingkah alay nya.
"Oke, Calon Istri. I love you so much, Sayang."
"Love you too, Kak," pungkas Seika, dan sambungan telepon pun terputus.
Dengan langkah ringan dan wajah riang, Seika berlari menuju kamar mandi untuk bersiap menyambut kedatangan sosok yang dicintainya. Setelah selesai dengan urusannya, suara ketukan pintu berhasil mengalihkan atensinya yang sedang asyik berhias diri.
"Ada nyonya besar di bawah, Non," kata Mbok Nar. Jantung Seika terasa berhenti berdetak, tubuhnya bergetar. Grogi, takut, dan gugup. Rasa tak percaya diri seolah berhasil menimbulkan aura hitam di sekelilingnya.
"Aku di sini aja, ya, Mbok. Kan nyonya besar nggak tahu ada aku," ucap Seika, yang disambut senyuman hangat oleh wanita tua di depannya.
"Jangan takut, Non. Nyonya besar itu baik, loh. Non Seika jangan gugup. Ayo, kita ke bawah sekarang!" ajak Mbok Nar, seraya menggandeng tangan dingin Seika.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju lantai bawah di mana Yunita berada. Seika dapat melihat sosok wanita berpostur tinggi, langsing, dan elegan. Namun, Seika juga dapat melihat dari penampilannya wanita itu pasti seumuran dengan Mbok Nar.
__ADS_1
"Nyah .." sapa Mbok Nar lembut. Yunita membalikkan tubuhnya, dan langsung terpaku melihat Seika yang sedang menunduk tajam seraya meremas jari-jarinya.
"Ini siapa?" tanya Yunita penuh selidik.
"Ini Non Seika, Nyah. Dia ini kekasih tuan muda," sahut Mbok Nar ragu, sembari menyenggol lengan Seika hendak memberi kode. Seika yang peka sontak mendongakkan wajahnya, lalu menatap Yunita ragu.
"Sa-saya Seika Annahita, Nyonya," ucap Seika gugup. Yunita menyisir penampilan Seika dari ujung kaki sampai ujung kepala. 'Terlalu sederhana,' batinnya.
"Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan putraku?" tanya Yunita, tatapannya menyipit penuh selidik.
"Emmm ... a-anu t-tante--"
"Aih, kebanyakan mikir kamu," decak Yunita kesal, karena tak suka dengan pembahasan yang bertele-tele.
"Saya baru dua bulan sama kak El, Nyonya," jawab Seika lirih.
"Kak El? Wah, sebutan yang lumayan ... manis."
__ADS_1