
Malam menjelang, aku terpaku dengan keheningan yang membuat hati ini terhimpit kesepian. Aku rindu kampung kelahiranku, aku rindu Bapak dan Adikku, aku rindu kebebasanku, dan aku rindu senyum lepasku layaknya anak kecil yang bebas berapresiasi dan beraktivitas.
Air mataku menetes mengiringi setiap denting kesunyian malamku. Ibu ... bisakah kau datang menemaniku sekarang seperti dulu kau yang selalu ada saat aku butuh pundakmu? Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Dia sudah tidur lelap di sana.
Ibu ... ijinkan aku bercerita tentang perjalanan hidupku selama kau tak ada. Bercerita tentang bagaimana caraku melewati masa suka dan duka. Meski hanya dalam mimpi, aku ingin meluapkan segala keluh-kesah yang penat di dada. Tuhan ... jaga dia untukku, lelapkan tidurnya dalam lembut halusnya belaian kasih-Mu. Sampaikan rinduku padanya, sampaikan maafku untuknya, dan sampaikan cinta sayangku pula.
Aku tak kuasa menahan air mataku. Tangisku semakin pilu, seiring dengan bayangan-bayangan masa lalu tentang aku dan Ibuku. Hanya kita berdua yang tahu, seperti apa sempurnanya kebahagiaan waktu itu. ðŸ˜
Saat tangis ini mulai mereda, ponselku berdering. Aku lirik sekilas layar ponsel yang terbuka. Tertera nama El Barrack di sana. Dengan berat hati, aku ambil ponsel tipis keluaran terbaru dan usap tombol hijau menggunakan ibu jariku.
"Ya, Kak. Ada apa?" tanyaku kepada seseorang di seberang sana.
"Buka pintunya, Sayang. Aku ada di depan!" serunya, membuat jantungku mencelos karena keterkejutan. Apakah dia marah padaku?
"Baik. Tunggu sebentar." tanpa mematikan sambungan telepon, aku membawa tubuhku turun dari ranjang dan berjalan perlahan menuju pintu yang masih berlapiskan baja anti peluru.
Aku pencet tombol di atas pintu, dan dalam sekejap semua lapisan ruangan hilang. Aku buka pintu dan segera menundukkan wajahku.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya El, penuh selidik.
"Tak apa, aku cuma takut kamu masih marah," jawabku jujur.
"Marah? Marah kenapa?" dia tersenyum garing, sungguh tak berperasaan.
"Sudahlah, masuk saja dulu. Aku lemas," jawabku malas. Aku memutar bola mataku jengah, entah mengapa aku merasa hati ini bosan. Bosan dengan keadaanku dan dengan suasana hatiku yang kacau.
El menatapku tanpa berkedip ketika aku mengangkat wajahku.
"Hei, kamu menangis?" tanyanya lembut, sembari menyentuh pipiku. "Katakan, apa yang membuatmu menangis? Kamu takut dengan kejadian tadi? Apa kamu terlalu merindukanku?"
El merengkuh pundakku, mengusap rambut panjangku, dan mengecup puncak kepalaku.
"Tidakkah kamu berpikir, apa yang terjadi padamu adalah bagian dari rencana Tuhan? Libatkan Tuhan dalam setiap hembusan nafasmu. Tuhan pasti telah menyusun rencana yang paling indah untukmu," bisiknya lembut dan menenangkan.
Ya, mendengar bisikannya hatiku mendadak adem dan nyaman. Ketenangan menyelimuti jiwaku.
__ADS_1
"Bebaskan aku, Kak. Aku ingin bebas seperti sedia kala. Saat aku bebas memilih menu makanku, bebas memilih jalan meski penuh liku. Bukan yang seperti ini," isakku, dan aku semakin membenamkan wajahku ke dadanya.
"Pasti, aku pasti akan membebaskanmu. Bersabarlah dan ketahuilah, saat ini Ali tengah kelimpungan mencarimu. Apalagi sekarang semua bisnisnya tengah diambang kehancuran. Papaku turun tangan setelah tahu Mayang masuk ke rumah itu," ujarnya, tapi tetap saja kecemasanku tak kunjung hilang.
"Aku takut orang-orang di dalam sana menjadi korban juga, Kak. Maya saja depresi berat, bagaimana dengan yang lain?"
"Aku tahu niat kamu baik, tapi setidaknya lindungi diri dahulu. Baru nanti setelah semua terkendali, kamu bisa memulai rencanamu." benar, kalau aku saja tidak bisa melindungiku, bagaimana bisa aku melindungi orang lain?
"Yang kamu inginkan sekarang itu kebebasanmu dan kebebasan orang lain, bukan?" aku mengangguk mengiyakan. "Jadilah kuat, biar nanti kamu nggak mudah dikalahkan oleh mereka. Aku akan selalu mengiringi langkah baikmu. Kita akan menghancurkan Ali dan kerajaannya, oke." aku mengangguk lagi, dan semakin mengeratkan pelukanku.
"Berjanjilah, untuk selalu di sampingku, Kak."
"Aku yang harusnya berkata seperti itu, Ca. Aku mencintaimu."
Hai, Readers!
Ini benar-benar real curahan hatiku yang sedang sangat merindukan sosok Ibu.
__ADS_1
Untuk kalian yang sedang merindukan Ibu, kita saling berpelukan dan menguatkan, yuk!