Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Prasangka Buruk


__ADS_3

Kini, aku sedang berada di lantai enam untuk melakukan aktifitas rutin, yaitu menyuapi Maya makan. Brownies buatan ku sangat disukai Maya. Aku semakin optimis untuk Maya sembuh.


Ngomong-ngomong, Ali Suprapto sudah tahu mengenai Maya yang sudah ada di tanganku. Tapi dia nggak berani mengusikku. Entah mengapa, dia lebih banyak menuruti keinginanku dibanding menuruti hawa nafsunya.


Bahkan, setelah kejadian penyiksaan mbak Neneng, dia tak lagi mengunjungi ku waktu malam. Atau karena mengunjungi yang lain, aku nggak peduli.


"Nah, Maya udah kenyang?" tanyaku padanya, dan dia mengangguk menjawab pertanyaanku.


"Maya, segeralah sembuh. Aku butuh kamu untuk membantuku membebaskan wanita-wanita yang tersiksa di tangannya," ucapku sendu. Lagi-lagi, aku merasa sesak yang teramat setiap kali mengingat perlakuan kasar Ali terhadap wanita.


"Ika ..." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Tapi itu saja aku sudah bahagia, daripada diam terus.


"Iya, Ika di sini. Maya mau apa?" tanyaku seraya menyisir rambut panjang Maya.


"Ika ..." kalau sudah begini, aku lebih memilih diam. Karena dia nggak akan berhenti menyebut nama itu kalau aku nggak diam.

__ADS_1


Setelah selesai menguncir rambut Maya, aku menuntun Maya ke balkon supaya dia bisa menghirup udara luar.


"Kamu suka?" tanyaku.


"Ika ... Ika ... teri-ma kas." ucapannya terpotong, tapi aku tahu apa maksudnya.


"Sama-sama anak cantik. Duduk dulu di sini, ya? Kita nikmati udara dulu sepuasnya." aku menatap jalanan besar di bawah, tampak mobil berdesakan bahkan saling berebut jalan hanya demi mencapai tujuan.


Rasanya ada nyeri di ulu hati tiap melihat keadaan luar yang bebas. Aku ingin bebas seperti mereka. Aku ingin hidup leluasa seperti burung-burung yang terbang di angkasa. Tak ku sadari, air mata meleleh di pipiku dan langsung terhapus oleh ibu jari Maya.


"Makasih, Maya. Aku cuma sedih aja, kenapa mereka yang di luar sana bisa bebas. Sedangkan kita di sini, mau pupita aja harus izin sama Ali Sugiyani itu. Apa kamu turut merasakan apa yang aku rasakan?" Maya bergeming tak menanggapi ucapanku.


Tapi saat aku sedang menikmati pemandangan di bawah sana, mataku fokus dengan sebuah pemandangan yang memperlihatkan sebuah mobil hitam tengah berhenti di depan gerbang rumah besar ini. Kaca jendelanya terbuka memperlihatkan sosok berkaca mata hitam duduk di dalam mobil itu.


Tak jelas karena posisinya jauh. Tapi aku tak asing dengan mobil itu.

__ADS_1


"Kaya kak El, deh. Ngapain dia di sana cuma mengamati sekitaran?" gumamku.


Dan saat aku sedang fokus dengan dugaan-dugaan yang aku buat sendiri, tiba-tiba datang seorang perempuan yang berasal dari rumah ini.


"Mayang?" aku menajamkan penglihatan ku.


"Kenapa mereka bertemu dengan cara mengendap-endap seperti itu?" mataku semakin terbelalak saat aku melihat El turun dari mobil hanya untuk memeluk Mayang.


Dadaku nyeri, sangat perih. Beginikah rasanya cemburu dan kecewa menjadi satu?


"Kok mereka bisa seakrab dan semesra itu?" gerutuku. Saat ini El tengah mengusap rambut Mayang dan mengecup dahi Mayang.


Hatiku seperti tertusuk seribu duri melihat kemesraan mereka. Apa El selingkuh? Lalu sejak kapan? Kalau iya, bukankah itu berarti Mayang menusukku dari belakang? Atau jangan-jangan aku yang jadi pelakor di sini.


Tes!

__ADS_1


Setetes air mata jatuh ke pipiku. Sakit sekali rasanya dihianati sahabat sendiri.


__ADS_2