Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Misi Baru


__ADS_3

Aku dan El masih sama-sama diam seribu bahasa. Perdebatan yang terjadi beberapa jam lalu lumayan menguras tenagaku yang belum sepenuhnya pulih. Aku merasa tak lagi punya muka, tak punya lagi keberanian untuk menjalin hubungan dengan El. Dalam hati aku bertanya, apa sebaiknya aku kembali saja ke Ali Suprapto? Menemuinya dan mengikuti semua aturannya? Tapi apa aku sanggup, menghadapi perlakuan gilanya? Mengingat Maya saja membuat ketakutanku terhadap pria tua itu semakin besar.


"Sampai kapan kamu akan begini, Seika? Apa masih kurang, pembuktian cinta aku ke kamu? Apa cuma segini rasa kamu terhadapku?" El mulai membuka suara. Kini, yang ku dengar tak ada lagi kelembutan, melainkan dingin dan menusuk.


"Tolong, beri aku waktu. Ijinkan aku mencerna semua kenyataan yang baru saja aku ketahui. Mengetahui ibu dibunuh adalah luka yang sangat berat buat aku. Mengetahui bapak seorang pembunuh itu seperti kutukan buat aku. Aku yakin, nggak sedikit orang yang akan mengecap aku sebagai anak dari seorang pembunuh jika mereka tahu kenyataannya ." ya, aku putus asa. Aku tak lagi memiliki semangat membara seperti rencana nekatku ke Jakarta kemarin.


El menggeleng pelan. Ada raut penyesalan tersirat di wajahnya yang tegas dan tampan. "Bagaimana mungkin aku menjauhimu, sedangkan keadaanmu seperti ini? Kamu di sini sendiri, Sayang. Masa bodoh dengan masa lalu keluarga kita. Karena yang akan kita hadapi itu masa depan. Kita nggak akan selamanya terjerat dengan masa lalu, itu hanya akan membuat jarak di antara kita," katanya.

__ADS_1


"Ya, benar. Sayangnya nggak semudah itu. Aku butuh waktu buat sendiri saat ini. Tolong, pahami perasaan aku, Kak," lirihku, disertai air mata yang luruh bersamaan dengan pukulan bertubi-tubi yang baru saja aku rasakan.


"Nggak bisa. Aku nggak mau kamu pergi dari sini dalam keadaan kamu yang seperti ini. Biar aku aja yang pergi, oke," katanya memohon. Itu membuat aku tak tega sekaligus merasa bersalah. Tapi emosiku sedang tak stabil, aku cuma butuh sendiri.


Singkat cerita, akhirnya aku menyetujui usul El Barrack. Dan aku nggak tahu El tinggal di mana.


Tak terasa, aku telah menyendiri di rumah yang bernuansa maskulin ini. Entah di mana El Barrack tidur selama dua hari aku di sini. Ya, dua hari sudah aku tak bertemu Nina dan El. Dua hari itu pula aku menolak panggilan Ninda dengan alasan masih sibuk. Padahal, aku cuma belum siap melihat wajah bapak. Wajah yang ku kenal ramah, ceria, bijaksana, dan mengayomi ternyata dulunya seorang pembunuh.

__ADS_1


Bukan lari dari kenyataan, aku masih harus menyusun kalimat agar tak terdengar menyakiti dan menghakimi di telinga bapak nantinya. Bagaimanapun juga, aku tetap menyayangi pria tua itu. Aku sangat mencintainya, melebihi cintaku pada diri sendiri.


Dua hari ini pun El tak ada menjenguk atau sekedar menanyakan kabar barang sekalipun. Aku jenuh, ternyata sangat sepi hidup sebatang kara seperti ini. Memang sih, ada Mbak Atik dan Kang Toyik di rumah ini. Tapi, mereka hanya pekerja. Sulit sekali berinteraksi bebas dengan mereka, entah mengapa.


Di tengah renunganku yang hanya membuat dada semakin sesak, tiba-tiba saja aku ingat dengan Juragan Ali. Di mana dia sekarang? Bukan mengkhawatirkannya, hanya saja ... kalau dia nggak ada bukankah itu baik untuk misi utamaku datang ke kota metropolitan ini?


Terbesit ide untuk ke rumah itu dan mencari ponselku serta memastikan keadaan para maduku. Sebelum misi berjalan, aku lebih dulu berpikir matang mengenai resiko jika sampai misiku gagal. Juga rencana cadangan yang harus aku perbuat nantinya.

__ADS_1


Aku yang memiliki tingkat ke-nekat-an di atas rata-rata, memutuskan sore nanti untuk bergerak. Itu pun kalau El Barrack tak datang ke sini. Jika El datang, aku yakin kalian tahu hasilnya.


__ADS_2