
Pukul tujuh malam aku menginjakkan kakiku di terminal Tanah Abang. Pertama, aku merenggangkan tubuhku supaya otot-otot yang tegang dapat lemas kembali. Kedua, aku mencari tempat untuk beristirahat. Mataku tertuju ke Endomaret yang berada tepat di seberang terminal.
Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju tempat perbelanjaan itu. Tenggorokanku terasa kering kerontang minta dibasahi. Aku memantapkan langkah untuk membeli sebotol minum Kamua dan sebungkus Mari Roti. Lumayan untuk mengganjal perut.
Bertahan hidup di kota Metropolitan dengan uang satu juta itu tak cukup untuk dua minggu. Aku harus lebih irit dan lebih pandai mengelola keuangan.
Meski bekum cukup kenyang, tapi setidaknya perutku tak lagi berdendang. Aku duduk di teras Endomaret sembari menatap lalu lalang kendaraan melintas. Aku menghela nafasku panjang. Terkadang, melihat orang-orang yang berkeliaran macam tak ada masalah membuat aku iri. Seperti hanya aku yang memiliki masalah paling berat di dunia ini. Padahal, ini hanya tentang bersyukur dan tidak. Aku tak bisa selalu menatap ke atas, aku perlu menatap ke bawah juga. Karena dengan menatap ke bawah, aku bisa lebih bersyukur meski diterpa ujian seperti ini. Kadang, yang di atas saja bisa mendung, apalagi yang bawah, kan?
Saat sedang asyik-asyiknya merenung dan berintrospeksi diri, tiba-tiba ponselku berdering nyaring. Aku meraih ponsel yang aku taruh di saku samping jaketku. Mataku terbelalak lebar saat membaca nama pemanggil di layar ponselku. Ya, El Barrack! Ceroboh! Kenapa pula ponsel tak ku matikan?
"Halo, Kak?" tanyaku hati-hati.
"Lagi di mana, Ca?" tanya El terdengar lembut. Pikirku, El pasti belum tahu kepergianku.
"Aku di kamar, Kak," jawabku mantap.
__ADS_1
"Beneran? Nggak bohong, hem?"
"Beneran, Kak. Kenapa?" di sini perasaanku mulai was-was, tercium bau kecurigaan di seberang sana.
"Aku lihat ada bidadari cantik sekali sedang sendirian. Bolehkah aku mendekatinya?" terus terang sekali laki-laki satu ini. Dasar buaya karatan!
"Y-ya silahkan! Terserah kamu saja," balasku ketus. Aku segera memutus sambungan telepon. Kesal sekali mendengar kalimatnya yang terlalu terus terang.
"Hem!"
Sambungan telepon sudah dimatikan, tapi kenapa ada suara yang sama di belakangku? Apa karena aku terlalu cemburu dan halusinasi seperti ini? batinku.
Aku mencoba menepis prasangka buruk dan halusinasi yang kian menjadi. Tapi aku semakin mencium aroma yang familiar di hidungku.
"Tak sopan memutus sambungan telepon tanpa salam. Apalagi dalam keadaan salah paham." kali ini, halusinasi itu kian menjadi nyata. Apa ini yang namanya fakta tapi fatamorgana? Aku masih diam mematung tanpa berkedip. Hingga sepasang tangan besar merengkuh pinggangku, memelukku dari belakang. Aku terkejut dan memberontak, tapi tenaganya terlalu kuat.
__ADS_1
"Anak nakal! Siapa yang menyuruhmu ke sini, hem?" tanya El tanpa melepas pelukannya. Aku terdiam, jadi ini nyata? Bagaimana bisa El mengetahui pelarianku?
"Jangan bengong. Jawab aku, kenapa kamu ke sini tanpa bicara dulu sama aku? Apa kamu nggak memikirkan keselamatan kamu? Apa kamu nggak tahu, aku di sini sedang berjuang untuk kebaikan bersama? Apa kamu nggak mikir resiko kalau kamu sampai ketemu Ali, terus kamu dibawa dan disekap di gudang favoritnya, terus kamu dicecar pertanyaan tentang kepergian kamu sewaktu kamu di rumah sakit, ha? Kamu mikir, nggak?" cecar El, meski dengan intonasi yang lembut tapi penuh penekanan dan kekecewaan.
"Aku nggak bisa biarin Mayang dalam bahaya, Kak," jawabku apa adanya.
"Terus dengan cara apa? Dengan cara bertukar posisi, begitu?" El menaikkan sebelah alisnya.
"Aku pikir, yang diincar Ali itu aku. Jadi, dengan aku kembali ke dia dan menuruti semua perintahnya, semua akan aman," jawabku terisak. Ya, aku menangis. Selemah ini aku jika di hadapan orang yang membuat aku nyaman. Entah dengan Bapak, Ninda, Rosa, Mayang. atau El sekalipun.
"Terus kamu siap melayani nafsu psikopatnya? Dia penyiksa seksual, Eca. Sudah lebih dari sepuluh gadis yang terbunuh karena ulah dia. Kamu siap mati? Kalau kamu mati, kamu bisa lari dari masalah gitu? Enggak, Ca. Bisa jadi setelah kamu nggak ada, Ninda yang jadi sasaran empuk Ali. Otak kamu di mana, Ca?!" kali ini nada El mulai meninggi. Salahku karena tak mendengarkan pesan El.
"Kita harus berjuang melumpuhkan Ali, Ca. Hukum di Indonesia itu nggak sebanding dengan penderitaan para korban. Hukum rimba yang harus kita gunakan buat kasih pelajaran ke dia. Jadi, kita perlu perhitungan matang-matang buat nangani masalah ini. Percaya sama aku, oke." El menangkup pipiku, lalu mencium kedua mataku. Aku mengangguk patuh, lalu menyandarkan tubuhku ke tubuh El yang selalu membuat jiwaku nyaman.
"Aku nggak mau kamu terluka, Sayang. Biarlah untuk saat ini posisiku adalah seorang pebinor kata orang. Tapi setidaknya, kita saling mencintai dan saling berjuang untuk menegakkan keadilan. Untuk masalah Mayang dan mamaku, aku rasa papa saja cukup."
__ADS_1