
Aksi panas dan bergairahku tak berlangsung lama. Karena, tiba-tiba El mendapat panggilan misterius dari seseorang. El juga menjauhiku sebelum mengangkat panggilannya.
Tak berselang lama kemudian, El datang lalu mengacak rambutku.
"Kakak! Aku kan udah rapi!" teriakku sebal. Tapi tersangkanya cuma tertawa menanggapi.
"Oh, ya, Sayang. Aku harus pergi sekarang," ucapnya lembut sembari menatapku sendu.
"Baiklah."
"Cuma itu?" dia mengernyitkan dahinya.
"Lalu?" aku cuma pura-pura nggak tahu. Padahal, sebenarnya aku tahu apa yang dia mau.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," ucapnya lesu. Aku tersenyum singkat lantas menarik tengkuknya dan ku cium bibirnya yang selalu membuatku terhanyut oleh kerinduan yang menggebu.
Tak berlangsung lama, aku memutus tautan kami lebih dulu. Karena aku tahu dia tengah terburu. Ku dengar nafasnya menderu cepat seperti laju adrenalinku. Tapi mau bagaimana lagi, begini saja sudah dosa besar. Apalagi melakukan yang lebih.
"Aku akan datang di lain waktu. Kamu jaga dirimu baik-baik. Ada orang-orangku di sini yang mengawasi dan menjagamu."
"Baiklah. Kamu juga hati-hati, ya, Kak. Aku mencintamu." dia tersenyum manis padaku. Tampak binar bahagia di matanya yang bening.
"Aku lebih mencintaimu, Sayang. Aku pergi dulu." dia mengecup dahiku dalam, lalu pergi lewat jendela yang aku sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba di sana sudah ada orang yang membantunya keluar.
Sejenak, aku baru sadar ini adalah lantai lima. Bagaimana bisa dia turun? Aku segera berlari ke balkon. Tapi El sudah nggak ada. Entah bagaimana bisa dia keluar dan masuk tanpa sepengetahuan Ali.
Aku memutuskan untuk masuk lagi dan mulai berkutat dengan dapur setelah beberapa jam aku tinggal.
Tak membutuhkan waktu lama, aku telah selesai membuat tongseng sapi. Perutku berdendang mencium aroma sedap dari masakanku. Secepatnya aku mengambil nasi dan segera menikmati hasil masakanku.
Selesai dengan kegiatan sarapanku, aku menyisihkan sebagian tongseng buatanku untuk Maya.
Sarapan sudah, mandi sudah, bersih-bersih sudah. Sekarang saatnya jalan-jalan ke seluruh rumah ini. Barang kali aku mendapat petunjuk kelemahan Ali Sugiyani itu.
Aku masuk ke lift lalu memencet tombol angka 1. Ya, karena di sana ramai orang berlalu-lalang sepertinya aku bisa menemukan petunjuk, semoga saja. Sambil menunggu sampai lantai 1, aku akan memberi tahu sesuatu pada kalian dan ini rahasia, ya?
__ADS_1
Ini foto Suamiku, dia sendiri yang mengirim fotonya melalui pesan WhatsApp.
Ini kekasihku, El Barrack Eclair. Ini foto profil WhatsApp nya yang aku simpan di galeri ponselku. Dan aku sangat mencintainya.
Ini aku waktu pertama kali memperkenalkan diri di Orland Mart. Rosa yang mengambil fotoku dan mengirimnya padaku. Katanya rindu.
Aku telah sampai di lantai 1 dan benar, suasananya ramai. Ada para bodyguard yang sedang apel, para koki yang sedang sibuk membereskan dapur, para ART yang sedang melaksanakan tugas masing-masing, dan ada juga tukang kebun yang sedang mulai menanam bunga kesayanganku--begonia rex butterfly.
Aku memindai seluruh penjuru ruangan paling mewah dan ramai ini, tapi sosok yang aku cari sama sekali tak ada.
Aku mulai berjalan sembari menyapa orang-orang penghuni rumah ini. Mereka sama ramahnya, kecuali bodyguard yang mukanya seram-seram.
Sampai tiba aku di sebuah pintu berwarna gold berukir dua naga yang sedang saling mengait seperti sedang beradu. Aku mendengar teriakan seorang wanita seperti kesakitan.
Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, aku memutar knop pintu itu dan ternyata tidak dikunci. Aku membuka secara perlahan, dan pandangan pertama yang aku lihat adalah sebuah lukisan besar bergambar seorang laki-laki yang tertusuk duri berwarna gold.
"Bang ... maafkan aku. Aku tak sengaja," isak seorang perempuan dari dalam kamar. Aku paham siapa pemilik suara perempuan ini.
"Dasar perempuan tak berguna! Sudah ku katakan pelan-pelan, Neneng! Bodoh sekali kamu, hah!"
Plak! Plak!
"Sakit, Bang ..." rintih mbak Neneng.
Tanganku bergetar ketakutan. Jadi, ini sifat asli Suamiku?
Aku memberanikan diri masuk ke kamar bernuansa emas itu. Aku sangat terkejut melihat mbak Neneng jatuh tersungkur di lantai dengan muka berdarah. Aku lihat dengan jelas bibirnya robek dan mata membiru.
Aku segera berlari mendekati mbak Neneng saat tangan Ali kembali hendak melayangkan amukan yang entah ke berapa kalinya.
"Tampar aku, Agan," ucapku tegas dan penuh penekanan.
"Darling, sejak kapan kamu bisa di sini?" sudah menyiksa maduku, masih bisa memanggilku Darling? Nggak tahu malu sekali dia.
__ADS_1
"Katakan, kenapa Agan bisa sangat ringan tangan sama wanita? Kenapa Agan selalu menyiksa wanita?! Katakan!" sentakku, membuat pria tua di depanku terjingkat kaget.
"Darling, kamu nggak perlu ikut campur urusan aku dan dia. Kamu nggak tahu masalahnya, Darling." dia mencoba merengkuh pundakku tapi aku mundur menghindar.
"Jangan sentuh aku. Aku muak sama kelakuan Agan." aku memutar badan lalu membantu mbak Neneng berdiri dan aku dudukkan di kursi rodanya.
"Mbak ikut aku keluar, ya? Aku obatin lukanya," ucapku dengan nada lembut. Tapi tatapan mbak Neneng justru menyiratkan kebencian terhadapku.
"Darling, mundur."
"Tidak," jawabku tegas.
"Seika Annahita." aku membalikkan tubuhku lalu menghadapnya.
Plak!
Dia menamparku keras. Panas dan perih aku rasakan di seluruh wajahku. Tapi bukan aku jika aku menangis. Aku justru tersenyum lalu menatap manik matanya.
"Lagi," ucapku tegas seraya tersenyum dingin.
Plak!
Dia menamparku lagi. Tapi aku berusaha untuk tetap berdiri tegak meskipun kakiku bergetar menahan sakit luar biasa di wajahku.
"Ya, lagi." aku semakin melebarkan senyumanku. Tapi aku heran saat aku lihat tangannya bergetar sebelum melayangkan tamparan ketiganya padaku.
"Kenapa? Nggak sanggup? Nggak pa-pa. Teruskan saja, Ali Suprapto. Asal kamu tahu, hanya laki-laki pengecut yang berani melawan wanita. Hanya laki-laki pecundang yang berani melawan wanita tak berdaya seperti mbak Neneng. Aku yakin, kamu bukan terlahir dari rahim seorang wanita, melainkan dari rahim seorang laki-laki," cibirku tertawa mengejeknya.
"Darling, baru semalam kita akur. Tolong, jangan bikin runyam suasana keharmonisan kita yang baru mulai terjalin, oke," rayunya padaku, tapi aku muak mendengar suaranya.
"Sejak kamu menyakiti para istrimu, sejak kamu menamparku barusan, kamu sudah bukan Suamiku lagi. Untuk masalah kencan kita, lupakan. Aku nggak minat lagi. Anggap saja kita ABG yang baru saja putus hubungan. Kita cuma mantan sekarang." aku melangkahkan kakiku, lalu mendorong kursi roda mbak Neneng untuk aku bawa keluar dan aku obati.
Hai, kaum halusiners!
Menurut kalian, gimana visual tokohnya?
Cocok apa enggak?
__ADS_1