Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Siasat Ali


__ADS_3

Tiga hari sudah aku dirawat di rumah sakit. Selama itu pula El tak pernah absen menemaniku. Hanya menemani saja, sedangkan keperluan mandi, ada suster khusus yang membantuku.


Kondisiku mulai membaik. Tinggal lemas dan sesak yang masih betah tinggal di tubuhku. Tapi, El sangat menjaga pola makanku. Aku yang pecinta makanan lemak ini, harus merubah kebiasaan buruk dengan memakan makanan berserat. Aku merasa rindu berat dengan lemak sapi, kulit kentucky, bakso iblis depan pangkalan ojek, dan keripik pisang yang super renyah dan gurih bikin nagih.


Dengan kedisiplinan dan penjagaan ekstra El, aku merasa kulitku semakin lembab dan segar. Sepertinya, dia sudah terbiasa menerapkan empat sehat lima sempurna sejak dini. Makanya, dia kaget melihat selera makanku yang nggak beraturan. Berkat dia juga, tubuhku cepat pulih dan sehat kembali.


Seperti pagi ini, air liurku kembali mencair saat tiba-tiba aku melihat video dari aplikasi Tok-Tok yang memperlihatkan seorang wanita tengah mukbang bakso isi sambal setan. Gegas, aku mengalihkan pandanganku menatap El Barrack penuh harap. El menyipitkan matanya, sepertinya tahu apa yang aku inginkan.


"Boleh, ya?" aku rela memasang puppy eyes demi makanan tak sehat ini.


El tampak menghela nafas panjang, lalu menatapku penuh cinta. "Aku akan membawamu ke tempat itu. Dengan syarat, kamu harus sembuh total dulu," bisiknya.


"Kalau sudah begini, aku bisa apa?" gerutuku. Aku berjanji, akan membuat pola makan El ikut ke pola makanku. Biar nggak kerempeng kaya layangan.

__ADS_1


Saat sedang menghayal andai El benar-benar menjadi layangan, tiba-tiba aku melihat bayangan seseorang dari balik kaca jendela kamarku. Aku menajamkan penglihatanku. Tak mungkin itu orang El Barrack. Kalau dia orang El, mana mungkin mereka mengendap-endap di balik jendela? Pasti menghadap langsung ke tuannya.


"Ada apa, Ca?" tanya El, berhasil mengejutanku.


"Kak, aku kaya lihat bayangan lari di situ, deh," ucapku, seraya menunjuk jendela yang tertutup gorden putih menggunakan jari telunjukku.


"Kamu kebanyakan halusinasi kayanya, deh, Ca. Kasian, mana masih muda lagi." aku merasa ingin tertawa sekaligus kesal mendengar celotehan El Barrack. Sejenak, aku mampu melupakan kehadiran sosok bayangan hitam itu.


Tapi sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Karena, tiba-tiba saja ada yang melempar kaca jendela menggunakan batu. Beruntung, kaca jendela itu tebal sehingga, tidak mudah retak.


"Ca, aku telepon Zack dulu sebentar, ya?" tanpa menunggu persetujuanku, El sudah berlalu dari hadapanku. Ada rasa takut terselubung di hatiku. Aku takut, ini bagian dari rencana Ali Suprapto.


Lagi, kali ini aku melihat empat bayangan sekaligus melintas dari balik kaca jendela. Mereka terlihat membawa benda seperti pistol. Entah penglihatanku yang eror atau memang itu kenyataannya. Tapi hatiku berkata, sebentar lagi akan terjadi peperangan besar. Aku semakin was-was karenanya.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan tampaklah sosok El yang sudah berubah raut wajahnya. Dia terlihat marah dan murka. Wajahnya memerah dan matanya menggelap. Itu semakin menguatkan dugaan-dugaan burukku.


"Ca, suami kamu tahu kalau kamu ada di sini. Mereka yang di luar itu orang-orang Ali yang diutus mencari keberadaanmu," ujar El datar.


"Lalu?" kedua alisku terangkat, kata-kata El terdengar ambigu di telingaku.


"Ali ingin kamu dan Maya kembali, kata Zack. Tapi, Ca, tak mungkin Ali akan melupakan kejadian kemarin dengan mudah. Aku yakin, ada rencana lain di balik permohonannya membawamu kembali. Dengan kondisinya yang tempramen, dia pasti akan ngamuk besar saat tahu kamu nggak ada dan pasukannya berhasil dilumpuhkan. Secara, Ali Suprapto terkenal akan kegilaannya, kekejamannya, kehebatannya, dan kekayaannya. Tiba-tiba ada berita tentang lumpuhnya pasukan elit Gold Dragon. Aku harap, kamu tidak menyetujui dengan mudah untuk kembali ke sana," papar El panjang lebar.


"Gold Dragon?" dari sekian panjang kalimat yang terlontar dari mulut El, hanya nama itu yang berhasil menembus telingaku.


"Gold Dragon itu nama organisasinya. Sedangkan milik Papaku itu Silver Dragon, dan milikku pribadi yang masih tersembunyi adalah Silver Moon. Mereka semua terlatih dan terbukti ketangkasannya. Aku harap, kamu tidak akan membocorkan masalah ini. Hanya aku, kamu, dan Zack yang tahu."


"Kenapa aku kamu libatkan, El?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Karena, kamu spesial di hatiku." El mengerlingkan matanya genit. "Ingatlah ini, orang-orangku memiliki tanda bulan sabit di balik jari kelingkingnya. Jangan sampai keliru, oke."


"Baiklah, aku mengerti. Untuk saat ini, aku hanya bisa menuruti perintahmu dan mempercayaimu. Karena, cuma kamu tempatku berlindung saat ini. Aku mencintaimu, Kak," bisikku. El menatapku sendu, lalu mengecup lama dahiku.


__ADS_2