Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Buccin


__ADS_3

"Steve, aku harap kamu tidak menyimpan dendam lagi padaku," celetuk Risha, keduanya tengah berendam dengan tubuh Risha bersandar ke tubuh Steve. Ya, Risha membelakangi Steve posisinya.


"Tentu tidak, Sayang. Aku sudah bisa menikmati tubuhmu saja sudah cukup."


Deg!


Ini bukan kali pertama telinga Risha menangkap kalimat sarkas ini. Tapi kenapa kali ini terasa beda? Risha merasa tersayat, seakan dirinya tak berharga di mata Steve. Risha terpaku, otaknya melanglang buana. Teringat hubungannya dengan Steve tempo dulu yang penuh warna. Saling berpelukan dalam suka dan duka. Tapi sekarang laki-laki itu telah menganggap dirinya rendah. Memang rendah, tapi kenapa sakit jika kalimat itu terlontar dari mulut Steve?


"Kenapa bengong? Mau nambah?" tanya Steve sembari menangkup dua gundukan kenyal yang memiliki topping choco chips hambar.


"Tidak. Aku lelah," sahut Risha ketus, lalu beranjak mengambil handuk kimono berwarna putih.


"Ada yang salah dengan kalimatku?" tanya Steve, sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Tidak ada. Kamu memang benar. Gadis sepertiku cocok mendapat gelar murahan, mudah dinikmati. Ya ... apa yang bisa diharapkan dari gadis murahan sepertiku?" kedua mata Risha merembes, air matanya menggenang di pelupuk. Panas, mendesak ingin keluar.


"Maafkan aku tadi berkata demikian terhadapmu." Steve berdiri menyusul langkah gontai Risha, lalu memeluknya dari belakang. "Maaf," lirihnya kemudian.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, mereka telah mengenakan baju lengkap. Hanya tinggal selembar check yang Risha harapkan. Tak ingin munafik, memang itu yang Risha butuhkan. Risha terdiam menatap jendela yang berada di ketinggian. Sangat menawan hati pemandangan di depannya, sukses membuat Risha iri apalagi mereka bisa indah tanpa ujian, pikirnya. Langit biru berhias burung yang bebas terbang bagai tak ada beban. Padahal Risha tengah lupa, bahwa yang dia lihat adalah ketinggian. Di mana, bagi sebagian manusia berpikir isinya adalah kebahagiaan, kekayaan, kesehatan, keabadian, dan kesempurnaan.


Padahal ... langit menyimpan duka. Kadang hujan, mendung, bahkan petir yang menyambar. Alangkah baiknya menatap ke bawah. Lihat tanah! Kita berasal dari tanah, makan dari tanah, hidup di atas tanah, dan mati menjadi tanah. Lihat lagi ke bawah! Ketika kita melewati jembatan, kadang di bawah jembatan ada kehidupan. Yaitu mereka yang tak punya rumah untuk berteduh. Melawan hawa dingin, berperang dengan krisis ekonomi. Lalu, apa yang membuat kita tak bisa bersyukur? Dan apa yang bisa kita pamerkan, sedangkan semua yang kita miliki merupakan milik Tuhan?


Risha mengusap air matanya, lalu mengalihkan pandangannya kepada Steve yang sedang asik bertelepon dengan seseorang.


"Kalau gitu, aku pulang sekarang, oke," kata Steve dengan orang yang berada dalam panggilan.


"See you," pungkas Steve, lalu memutus panggilan teleponnya.


"Siapa? Kaya penting," ucap Risha penuh tanya.


"Selamat ya! Ternyata udah nikah aja kamu," ujar Risha sambil terus menampakkan senyuman yang hambar bagi penglihatan Steve.


"Aku tak mencintainya. Aku menikahinya karena aku merasa melihatmu saat menatapnya." Steve menunduk dan tertawa garing. Risha masih bergeming. "Aku merasa udah nggak waras, Rish! Aku mencintai kamu yang bahkan bagi sebagian laki-laki nggak ada nilai plusnya. Penipu, anak punk, jauh dari kata cantik, jauh dari kata sempurna. Dan aku begitu tergila-gila sama kamu. Apa ini yang namanya cinta itu buta?" Steve menertawakan dirinya sendiri, dengan kepala masih setia tertunduk.


"Makasih atas cintamu yang sempurna itu, Steve. Maaf, aku terlalu dalam menyakitimu," isak Risha, lalu dalam sekejap Steve telah berhasil merengkuh tubuh kurus Risha dan turut mengeluarkan isakan pilu. "Sampai saat ini rasa itu masih sama, Sayang. Aku masih sangat mencintaimu," ucapnya.

__ADS_1


"Tapi kamu milik orang lain, Steve," tolak Risha halus.


"Aku tak mencintainya. Aku juga tak bisa bertahan lama dengannya," ujar Steve, masih terus membelai lembut rambut Risha.


"Kenapa?"


"Bukankah cinta tak bisa dipaksakan?" Risha pun paham, lalu dia membenamkan wajahnya di dada bidang Steve yang mengeluarkan aroma maskulin.


Tak bisa terlalu lama di kamar hotel, Steve pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dengan bekal ciuman mesra dan nomor kontak Risha, Steve berjalan keluar hotel membawa senyuman dan kebahagiaan yang terpancar nyata di wajahnya.


"Ingat! Telepon aku kalau istri kamu nggak ada, oke," ucap Risha manja, sebelum Steve meninggalkan gadis itu. Tak lupa, Steve meninggalkan beberapa lembar uang berwarna merah untuk kekasih simpanannya.


**


Di rumah El Barrack.


Laki-laki itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dengan wajah lesu, El melangkahkan kakinya menuju kamar pribadi yang berada di dalam ruang kerjanya. Tak lupa, ia juga menghidupkan layar ponselnya untuk memastikan keadaan pacar istri orangnya melalui CCTV yang terhubung dengan ponsel.

__ADS_1


El tersenyum tipis kala melihat Seika-nya masih damai dengan tidurnya.


"Bisa selama itu tidurnya?" kekeh El Barrack. Seketika, lelahnya hilang setelah melihat kekasih yang begitu dicintainya, penyelamat ibunya, tengah tertidur lelap dengan wajah yang begitu damai dan menggemaskan. Rindunya tak tertahan lagi. Ingin rasanya saat itu juga dia memeluk perempuan itu dan mengatakan 'i love you'. Sayangnya, masih ada beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan. Tiba-tiba saja, ia merasa EyeClear begitu merepotkan.


__ADS_2