
Percakapan El melalui telepon tadi terus terngiang di telingaku. Kakek Paman, gadis yang bersamanya, dan tawanan yang dispesialkan. Siapa mereka? Kalau kakek paman mungkin yang dimaksud si Juragan Ali. Apa aku perlu menyelidikinya? Kenapa aku merasa yang dia maksud itu aku dan keluargaku?
Selera makanku mendadak hilang karena terus memikirkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut El Barrack. Mulutku mengunyah makanan, tapi lidahku mati rasa seolah yang aku telan adalah makanan hambar.
"Sayang?" El menyentuh punggung tanganku. Aku terjingkat kaget, lalu menoleh menatap El yang berada di samping kiriku. "Ada apa? Ada masalah?" tanya El, tatapannya terlihat sendu.
"Ng-nggak apa," balasku apa adanya. El tampak menghela nafasnya panjang.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Apa aku berbuat salah lagi? Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka?" cecar El. Mendengarnya seperti membuka kesempatan emas untukku bertanya perihal percakapannya tadi.
"Kamu sendiri yang bilang supaya kita saling terbuka apapun masalahnya. Lalu, bagaimana dengan gadis yang berada di tanganmu? Bagaimana dengan tawanan yang dispesialkan bersama anak perempuannya?" aku menatap tajam El Barrack. Akan tetapi, yang ditatap malah mengalihkan pandangan. Seakan menghindari bertemu tatap denganku. "Jawab jujur, Kak! Apa orang yang kamu maksud adalah aku dan keluargaku? Apa aku dan keluargaku pernah mengusik keluargamu, Kak?" entah dari mana asal pertanyaan itu. Karena, tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di benakku. Aku juga merasa El menyimpan dendam dengan Bapak. Hal itu dapat ku lihat dari cara El berbicara dengan Bapak, terdengar ketus dan penuh penekanan.
"Karena aku memang bukan tipe orang yang suka ber-ingkar janji. Maka, aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi tidak sekarang. Habiskan dulu makananmu, kasihan Nina juga kalau di sini terlalu lama," ucap El. Aku mengangguk, lalu segera menghabiskan makananku dengan terpaksa.
**
__ADS_1
Saat ini, aku dan El tengah duduk berhadapan di ranjang. Sedangkan Nina, El meminta orang kepercayaannya untuk membawa gadis kecil itu pergi jalan-jalan.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?" tanyaku membuka percakapan.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, berjanjilah padaku untuk tidak pergi dariku, apapun keadaannya nanti," jawab El, seraya mengecup punggung tanganku.
"Tergantung dengan jawabanmu nanti," balasku tegas. El tampak mengernyitkan dahinya keberatan. "Oke, aku janji." aku menyentak nafasku kasar. Aku lupa kalau yang sedang berbicara denganku adalah orang kaya yang tak bisa dikalahkan.
"Jadi gini. Benar dugaanmu, gadis dan tawanan spesial yang aku maksud adalah kamu dan keluargamu. Tapi tolong, dengar dulu penjelasanku dan jangan menyela pembicaraanku." El menggenggam erat tanganku, seolah dia takut aku lari. Aku mengangguk, meski perasaanku berubah campur aduk tak menentu.
"Jadi, beberapa tahun yang lalu, Ibu Mayang dibunuh oleh seseorang atas suruhan Kakekku sendiri--Budi Suprapto. Kakekku takut kalau Ibu Mayang akan membongkar semua rahasia yang disembunyikan olehnya. Rahasia itu adalah ... Ibu Yunita-Ibunya Mayang adalah selingkuhan Papaku. Tentunya, tak ada orang tua yang sanggup melihat putrinya terluka. Maka dari itu, Kakek menyuruh orang itu untuk membunuh Ibu Yunita agar tak ada orang yang akan membuat putrinya terluka. Tapi sayangnya, Ibu Yunita dibunuh di depan mata kepala Mayang sendiri yang waktu itu baru berusia delapan tahun. Kematiannya sangat sadis dan tragis." El menerawang jauh jendela kamar.
"Orang yang membunuh Ibu Yunita memiliki putri cantik. Saat putrinya berusia sepuluh tahun, dia menyelamatkan Mamaku dari seseorang yang hendak membunuhnya. Dia datang dengan membawa tongkat golf lalu memukul ke daerah intim orang itu. Mamaku selamat berkat dia." El tersenyum garing, lalu menoleh padaku. Aku merasa dejavu dengan cerita El Barrack, tapi mana mungkin aku yang menyelamatkan Mamanya?
"Maka dari itu, aku tak pernah memiliki dendam dengan si Pembunuh Ibu Yunita. Karena bagiku, Ibu Yunita telah menusuk Mama dari belakang, di mana Ibu Yunita adalah sahabat Mama sejak SMP. Tapi Papaku tak terima melihat masa depan Mayang hancur. Oleh karena itu, Papa ingin aku membalas dendam akan kematian Ibu Yunita dan penderitaan Mayang. Sayangnya, aku tak bisa. Karena aku tahu, pembunuh itu sebenarnya orang baik. Hanya saja, saat itu dia membutuhkan banyak uang untuk pengobatan putri bungsunya. Sejak saat itu, aku terus melindungi keluarganya dari belakang. Apalagi, aku telah berhutang nyawa dengan putrinya yang begitu cantik. Melihat dia membuat jantungku merasa berdegup kencang pertama kalinya. Meski saat itu usianya baru menginjak sepuluh tahun."
__ADS_1
"Jangan bilang si Pembunuh itu adalah Bapakku, Kak!" aku menatap tajam El.
"Sayangnya ... iya, Ca. Pembunuh itu adalah Amran Yudistira. Saat itu, dia bekerja sebagai sopir pribadi di rumah Kakek Paman. Tapi, Kakek Paman memperlakukannya begitu kejam. Gaji tak sepadan dan--" El memotong pembicaraannya.
"Dan?"
"Dan dia juga yang telah membunuh Ibu kamu karena tak terima Pak Amran bekerja untuk Kakekku."
Duarrrr!
Ini rumit! Ini sangat tak bisa dicerna dengan logika. Ibuku meninggal karena diabetes, bukan dibunuh. Aku sendiri yang melihat saat-saat terakhirnya! Bagaimana mungkin?
"Racun. Kakek Paman menaruh racun di dalam infus yang tertancap di punggung tangan Ibu kamu."
Duaaarr!
__ADS_1
Kenapa aku tak tahu? Tuhan ... cobaan apa lagi ini? Suamiku pembunuh Ibuku? Air mata telah menganak sungai di pelupuk. Aku tak terima dengan fakta baru ini. Bapakku pembunuh dan Ibuku terbunuh! Serasa ingin menjerit sekuat tenaga, tapi jiwaku rapuh tak berdaya. Bapak membunuh demi Ninda. Tapi yang dibunuh adalah ibu dari sahabatku--Mayang. Apa yang bisa aku lakukan sekarang?
Kenyataan baru ini sontak membuat duniaku terasa gelap. Mata, otak, hati, dan tubuh tak ingin bersatu. Hingga aku tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.