
Singkat cerita, kini Seika telah berhasil melewati masa mental down-nya. Dia mula bisa diajak ngobrol, walaupun terkadang masih sering melamun. Tapi setidaknya, dia sudah mulai menanggapi pertanyaan orang lain. Misalnya, 'mau makan apa?' atau 'mau mandi sekarang?'. Dan itu sudah cukup bagi El Barrack.
Pak Amran sendiri masih belum tahu kondisi putrinya. Kebutuhan sehari-harinya ditanggung El sampai biaya sekolah Ninda. Bukan tak peduli, Pak Amran dilarang menyusul Seika dengan alasan Seika sedang dalam pekerjaan baru dengan gaji lumayan besar. Ada sedikit rasa curiga tentang El Barrack, namun Pak Amran selalu mendapat pesan dari Seika jika dirinya diberi kehidupan yang layak di Jakarta oleh El Barrack. Padahal yang mengirim pesan tersebut adalah El sendiri. Ya, lewat pesan itu juga El melarang Pak Amran menghubungi nomor Seika melalui panggilan telepon atau video. Karena takut dipecat, katanya.
Membaca pesan tersebut, Pak Amran merasa lega. Kebohongan El Barrack memang tersusun dengan rapi. Sampai-sampai, Pak Amran tak merasa curiga tentang silsilah keluarga El Barrack. Seandainya Pak Amran tahu, mungkin Seika akan dilarang dekat dengan El. Tentu hal itu akan menjadi hal terburuk dalam hidupnya.
Lain halnya dengan Mayang. Hari ini, Mayang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Bukannya bahagia, justru Mayang menampakkan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Bolehkah saya tinggal di sini sedikit lebih lama, Dok?" tanya Mayang kepada seorang dokter yang baru saja selesai check up kondisi Mayang.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu bahagia sudah diperbolehkan pulang?" Dokter pun mengerutkan keningnya heran.
"Saya lebih senang tinggal di sini meskipun harus merasa kesepian," sahut Mayang lesu.
"Jadi gitu? Tapi, rumah sakit ini hanya diperuntukkan orang-orang sakit, Nona. Sedangkan untuk orang-orang yang memiliki masalah pribadi seperti Nona, sepertinya butuh teman curhat, bukan tinggal di rumah sakit," papar dokter, seraya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Ada Tuan Orland yang sangat menyayangi Nona. Juga ada Tuan Muda yang tak kalah sayangnya kepada Anda. Sedangkan di luar sana, banyak sekali orang yang benar-benar tak punya keluarga. Anak kecil pun banyak yang bernasib sama. Mereka rela mengemis, ngamen, bekerja apapun demi sesuap nasi. Menataplah ke bawah, jangan ke atas. Karena di atas ada Tuhan yang akan selalu membawa kita kepada rencana terbaik-Nya." Dokter itu mengelus surai hitam Mayang penuh kasih, lalu menyelipkan anak rambut Mayang ke belakang telinga. "Sebenarnya, semua hanya tentang bersyukur. Kalau misalkan Nona bertanya kepada anak-anak di luar sana 'maukah kalian berada di posisiku?', tentu mereka akan dengan senang hati menerima. Lalu bagaimana dengan Nona? Maukah Nona bertukar posisi dengan mereka?" tanya dokter, lembut.
"Dokter benar. Sepertinya, aku terlalu cengeng dan lemah, ya?" tanya Mayang, sembari tersenyum garing.
"Cengeng dan lemah itu manusiawi. Manusia sempurna sekalipun pasti akan menangis apabila dia mengalami kesulitan tanpa mendapat jalan keluar. Manusiawi. Menangislah, agar Nona lega." Seketika, Mayang berhambur memeluk dokter paruh baya dan meraung di sana.
"Aku takut, Dok," raung Mayang. Sang Dokter tersenyum lembut dan mengusap lembut kepala Mayang yang menempel di perutnya.
__ADS_1
"Tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ada Tuhan penguasa dari yang paling berkuasa. Mintalah kepada-Nya agar diberi jalan. Dia-lah yang paling tepat dimintai pertolongan," sahut Dokter, mencoba menenangkan Mayang.
"Saya mau ikut Dokter saja."