
Risha Aprillia. Perempuan licik itu kini tengah menikmati hidup menjadi seorang wanita penghibur. Padahal, dia sendiri tengah hamil muda dan rentan keguguran. Memanfaatkan kehamilan untuk menarik para pria hidung belang, Risha mengabaikan perkembangan janinnya serta dia pun merasa jijik dengan makhluk yang sedang ia kandung. Karena, makhluk itu berasal dari benih para preman yang menggaulinya secara bergilir atas perintah El Barrack dan Mayang.
Meski begitu, rupanya dia tetap menikmati hidup. Hasil dari pekerjaan kejinya, ia dapat membeli rumah meski sederhana. Juga motor bebek walaupun setengah pakai. Setidaknya, dia tak perlu jalan kaki atau berdesakan di dalam angkot. Omongan julid para tetangga bagaikan angin belaka, tak jarang dia melawan ketika omongan dan hujatan semakin menggila dan menguji kewarasan.
Profesinya sangat ia gemari meskipun kadang mendapat pelanggan tua renta, sehingga mengharuskan dia untuk bekerja ekstra bagai quda. Selain nikmat, cuan mengalir bagaikan derasnya arus sungai Aare. Tubuhnya yang semula hitam, kumal, dan bau telah berubah drastis menjadi bersih, semok, dan wangi. Ditambah kehamilannya yang mampu menjadikan auranya semakin memancar dan lekuk tubuh semakin tampak seksi.
Pagi ini, ia mendapat pelanggan seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun. Mereka melakukan janji temu di hotel Alaska. Dengan mengendarai motor bebeknya, Risha mendatangi tempat yang dimaksud si Pelanggan dengan suka cita. Bayangan cuan menari-nari di kepalanya, seolah uang itu dapat berkata 'kemarilah, raih aku!' begitu kira-kira.
Sesampainya di lobby utama hotel Alaska, Risha menghubungi lagi pelanggannya. Karena dia tak tahu di kamar berapa pelanggan itu menunggunya. Juga, hotel Alaska adalah hotel termewah yang baru kali ini ia kunjungi selama menjadi wanita penghibur.
"Kamu di mana, Yah?" tanya Risha melalui panggilan telepon.
"Nomor 2651 lantai tujuh? Ya sudah, aku otewe. Tunggu aku, ya, Yah," ucap Risha manja. Hal ini merupakan nilai plus seorang wanita penghibur yang wajib Risha penuhi, agar profesinya semakin melecit dan masuk kalangan atas.
Setelah menutup panggilan telepon, Risha berlari kecil menuju lantai tujuh dan menemui pelanggannya. Tak perlu waktu lama bagi Risha menemukan kamar tersebut. Cukup sepuluh menit, Risha telah sampai di kamar 2651 itu. Dengan senyum mengembang, Risha mengetuk pintu lalu berdiri terpaku setelah melihat seseorang yang membuka pintunya.
__ADS_1
"Steve?" Risha menggelengkan kepalanya pelan. Dia hendak mundur berniat kabur, tapi laki-laki yang Risha panggil Steve itu buru-buru mencekal lengan Risha lalu menyeret tubuh Risha ke dalam kamar.
"Lepasin aku, Steve!" gertak Risha. Namun Steve abai, dan memilih melemparkan tubuh Risha ke ranjang.
"Kenapa kamu takut sama aku, Rish?" tanya Steve tersenyum smirk.
"Nggak takut. Aku cuma mau melindungi diri saja," kilah Risha, padahal kalau boleh jujur, dia benar-benar takut.
"Kamu menipuku, Rish! Padahal, aku jelas-jelas menerima kamu apa adanya, mencintai kamu dengan tulus. Tentu aku akan mengabulkan semua permintaan kamu! Tapi kamu ... mudah banget lari dengan membawa uang sebanyak itu!" hardik Steve murka.
"Kepepet? Kamu kira aku nggak tahu kisah kamu dengan Seika Annahita? Kamu juga nipu dia, Rish!" ucap Steve tak kalah seru.
"Nggak usah sok tahu, Steve. Kamu nggak tahu apa-apa." Steve sedikit terkejut melihat reaksi Risha yang berubah drastis saat nama Seika disebut. Sendu, berkaca, dan murung.
"Jujur, Rish. Aku nggak permasalahin uangnya. Yang bikin aku kecewa dan marah sampai sekarang itu karena kamu dengan mudah ninggalin aku setelah kamu bilang cinta sama aku." Steve mulai melunakkan nada bicaranya, meski masih terdengar ngeri di telinga Risha.
__ADS_1
"Ya, aku salah, Steve. Maafkan aku," lirih Risha, dan sedetik kemudian isakan mulai terdengar oleh pendengaran Steve.
"Kenapa nangis? Nyesel udah jadi manusia selicik dan sejahanam itu?" ejek Steve.
"Ya. Aku menyesali masa laluku, menyesal telah melukaimu dan melukai sahabatku. Dua orang yang menerimaku dengan tulus." Risha mengusap air matanya, lalu tangannya terulur membuka kancing demi kancing kemeja yang membalut tubuhnya. "Sekarang, segeralah nikmati aku sepuas kamu. Nggak usah bayar. Anggap saja ini bukti permintaan maaf aku," lanjutnya.
"Kamu gila, Rish. Bagaimana bisa kamu sehina ini sekarang? Apa kamu nggak takut dengan penyakit kel*min yang mematikan?" tanya Steve. Matanya fokus dengan dua gumpalan daging yang terbungkus kacamata berwarna merah menyala.
"Aku nggak takut mati. Karena aku masih punya Mama yang menungguku di sana. Justru aku mengharapkan kematian itu segera tiba supaya aku bisa lepas dari dunia yang kejam ini." tangan Risha mulai bergerak membuka kancing kacamata pembungkus gundukan itu. Lalu turun ke bawah, melepaskan rok span hingga tergeletak mengenaskan. "Ayo kita mulai," ucap Risha.
Ibu hamil itu mulai melancarkan aksinya dengan melakukan adegan foreplay, memberi sensasi luar biasa bagi Steve, meskipun ini bukan yang pertama baginya. Lanjut, Risha membuka kancing kemeja yang membungkus tubuh atletis Steve penuh damba.
"Lanjut, Rish," lirih Steve, seraya memejamkan matanya, menghayati sentuhan demi sentuhan dari wanita yang selama ini dicarinya. Nikmat dan menggelora.
"Steve ... maafkan aku," bisik Risha di telinga Steve, lalu meninggalkan gigitan kecil di daun telinga pria berwajah setengah bule itu. Steve mendesis pelan. Karena tak tahan, Steve pun mengangkat tubuh Risha ke kamar mandi dan melancarkan aksinya di sana.
__ADS_1
Lenguhan dan jeritan mulai terdengar jelas. Tak jarang mereka saling panggil nama, saling mencurahkan rindu dan menyalurkan hasrat yang menggebu. Hingga lenguhan panjang mengakhiri pertempuran, pertanda keduanya telah mencapai puncak kemenangan.