Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

Pukul empat sore, aku telah masuk di kawasan Kledung setelah melewati Kabupaten Wonosobo. Hatiku berdesir hebat melihat pemandangan indah yang selalu berhasil membuat jiwaku tentram. Hamparan padang rumput hijau terawat, kebun teh menyambut sepanjang jalan, hutan pinus di seberang bukit, dan para petani yang menggendong bakul (keranjang bambu) untuk memanen daun teh.


Aku sangat bersyukur seorang El Barrack putra pemilik Orland Mart sekaligus CEO Eye Clear Optik beserta pabrik lensanya, bersedia mengantarku ke pedesaan seperti ini.


Aku meminta El untuk berhenti di Kledung Resort untuk mengisi perut. Mobil berhenti, aku turun dari mobil mewah itu dan berjalan memasuki restauran dengan senyum yang tak mau pudar. Ya, aku sangat bahagia. Tenaga dan pikiran yang terkuras, serasa pulih seperti semula. Penat dan sesak di dada, lega seketika.


El Barrack mengikuti langkahku dari belakang. Tampak beberapa pengunjung maupun penduduk pribumi menatap El penuh damba, ditambah mobil mewah mengkilap merah menggoda, lengkap sudah kriteria El Barrack sebagai pria sempurna sekaligus pria idaman.


Ada getar cemburu di hati kala melihat begitu banyak perempuan bahkan ibu-ibu menggoda El Barrack dengan senyuman ter-menawan mereka. Tapi, ada rasa bangga dan bahagia pula ketika mengetahui El sama sekali tak menanggapi.


"Jangan melirik yang tak penting. Angkat wajahmu, tatap depan, dan percaya dirilah," bisik El, seraya menggenggam erat tanganku. Aku tersipu, sepertinya dia memang tipe pria setia.


Sesampainya di sebuah meja yang berhadapan langsung dengan suasana alam, aku mendudukkan p*ntatku dan kembali menikmati suasana alam di depanku. Tanpa kaca penghalang, hawa udara pegunungan yang dingin merasuk rongga hidungku.


"Kak, apa kamu kedinginan di sini?" tanyaku, melirik El Barrack yang tampak pucat. Pasti menahan hawa dingin yang tak biasa baginya.


"Tidak. Aku sudah kebal dengan hawa seperti ini," sahut El, dan aku yakin dia gengsi mengakui.


Aku memikirkan cara untuk mengurangi hawa dingin yang dirasakan El Barrack. Akhirnya, aku memilih berpindah posisi duduk supaya berdekatan dengan El. Aku rapatkan tubuhku ke tubuhnya meski hanya melalui samping saja. El menoleh menatapku, dan sontak dia tersenyum lembut. Dia merengkuh pundakku, dan alhasil kami berpelukan.


"Kamu peduli padaku, hmmm? Kamu takut aku kedinginan dan sakit, begitu?" El menoel hidungku, lalu mendaratkan kecupan singkat di puncak kepalaku. Beruntung, suasana di restauran ini sangat ramai. Sehingga, para pengunjung sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Terimakasih," bisikku.


"Untuk?" El menaikkan kedua alisnya.


"Untuk semuanya. Aku mencintaimu, Kak," ucapku jujur.


"Aku lebih mencintaimu. Semoga, Ali segera tertangkap dan kita bisa segera menikah," kata El Barrack, membuat jantungku berdegup kencang. Ah, cinta memang mampu membuat kita kehilangan akal dan logika.


"Nuwun sewu, Mas, Mbak. Badhe ngersakken menopo? Niki wonten daftar menu, monggo dipun pilah," ucap seorang pelayan yang entah tiba-tiba sudah ada di depan El.


("Mohon maaf, Mas, Mbak. Mau pesan apa? Ini ada daftar menu, silahkan dipilih,")


El menerima buku menu, lalu mulai memilih menu makanan. Aku melirik si Waiters yang sedang asyik menatap El tanpa berkedip. Aku mendengus sebal. "Genit sekali," umpatku dalam hati.


"Aku ... nasi lauk rica-rica menthok, sama jamur krispi. Minumnya samain sama calon suami saja," ucapku, sengaja menekankan di kalimat calon suami.


(menthok : itik)


"Nggih, Mbak, siap. Dipun tenggo sekedhap, nggih? Kulo nyuwun pamit," pungkas gadis itu, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat kami.


(Ya, Mbak, siap. Ditunggu sebentar, ya? Saya permisi dulu,")

__ADS_1


Aku terkejut mendengar tawa pecah El Barrack setelah pelayan itu pergi.


"Orang cemburu gitu amat, ya?" oh, jadi dia menertawakan aku.


"Kenapa? Nggak suka kalau aku cemburu. Kamu suka sama dia?" sungutku kesal.


"Enggak, Sayang. Mana ada aku gitu? Lucu aja kamu, tuh." El mengacak rambutku gemas. Sedangkan aku masih setia mengerucutkan bibirku.


Tapi tiba-tiba, datang seorang laki-laki yang sangat amat aku kenal.


"Seika?! Kamu beneran Ika, kan?" tanyanya padaku. El mendadak bermuka masam dan berpaling muka.


"Iya, aku Seika. Kamu Ega, ya?" tanyaku memastikan. Dia mengangguk antusias, matanya berbinar dan sorot matanya masih sama seperti dulu. "Sejak kapan kerja di sini, Ga?" tanyaku basa-basi.


"Baru tiga bulan aku di sini. Sejak perusahaan Papa di Jakarta bangkrut, aku memilih kembali ke sini. Dan, ya ... gini." Ega mengangkat bahunya.


"Aku turut prihatin, ya, Ga. Kamu yang sabar, semangat 45, oke!" agak terkejut mendengar perusahaan orang tuanya bangkrut, setahu aku dia orang paling kaya di Temanggung. Tapi sekarang? Roda memang berputar.


Ega, dia pria yang mengejarku sejak aku sekolah di bangku SMP. Dia kakak kelas, selisih dua tahun sama aku. Dan hari ini, kita dipertemukan kembali jelas dengan status yang berbeda. Dia asli orang Jakarta makanya, dia bisa fasih berbahasa Indonesia. Biasanya, aku pakai bahasa Indonesia saat ngobrol sama dia.


"Puji Tuhan. Kamu tambah cantik aja, Ka? Gimana kabar kamu? Dan ini--"

__ADS_1


"Saya El Barrack, kekasih Seika sekaligus claon suaminya," potong El cepat dan tegas.


__ADS_2