
Aku menajamkan mataku hanya demi membaca gerak-gerik si tua bangka ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku melindungi Maya sekaligus melindungi diriku sendiri. Tapi sayangnya, tenagaku tak mampu.
Terbukti dengan aku yang dengan mudah jatuh tersungkur di bawah kakinya saat dia menarik paksa tanganku. Tubuhku terguncang ketakutan. Entah mengapa, di posisi seperti ini tenagaku terkuras habis tak bersisa. Lemas seperti orang puasa.
Aku hanya mampu berdo'a dalam hati, semoga Tuhan mengirimkan malaikat penolong untukku. Aku pun mempersiapkan mental untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Ada besar kemungkinan, aku akan kehilangan mahkotaku nanti.
"Darling ... kenapa kamu nggak mau nurut sama aku, sih? Kalau kamu nurut, aku akan berlaku lembut padamu. Aku tak ingin menyakitimu, Darling," bisiknya, lalu mengendus pipiku yang pasti sudah berubah memerah karena marah.
"Kamu wangi sekali. Pakai sabun apa, sih? Aku suka sekali aroma tubuh kamu ini." dia mencekal buah dadaku dan meremasnya dengan kencang. Bukan kenikmatan yang aku dapatkan, melainkan rasa marah dan ketakutan yang melebur menjadi satu.
"Ika ..." aku mendengar Maya memanggil namaku. Dia pasti tahu aku dalam bahaya.
"Ssssst ... kamu diam saja, Honey. Aku sudah bosan dengan tubuhmu. Aku butuh yang baru." dia tertawa sinis menatap Maya, lalu berjalan mendekati Maya yang duduk dengan pandangan kosong.
"Kamu sudah diperlakukan baik oleh istri tercintaku. Makanya, sekarang kamu jangan ganggu dia yang sebentar lagi akan merasakan kenikmatan dunia." entah apa penyebabnya, yang pasti ku lihat Ali tengah mencekik leher Maya yang hanya bisa pasrah dengan wajah memerah.
Segera aku mendekati Ali dan menarik tangannya.
"Hentikan, Ali Suprapto! Atau aku akan bunuh diri sekarang juga!" teriakku murka.
__ADS_1
Ya, aku menemukan pisau yang biasa aku gunakan untuk mengupas buah setiap kali Maya selesai makan.
"Silahkan! Mati saja kamu, Seika! Maka, kau dan Maya akan mati bersama!"
Deg.
Orang tua ini benar-benar gila. Dia memang suhunya penindas para wanita. Aku bingung, apa lagi yang bisa aku lakukan?
"Baiklah, karena aku juga sudah lelah. Aku akan mati sekarang juga. Setidaknya, aku lebih tenang di sana daripada hidup bagai di penjara seperti ini!" sebenarnya, aku juga tak yakin dengan keputusanku. Apalagi, aku juga berjanji untuk membebaskan para korban orang gila ini. Aku terjebak dengan rencanaku sendiri.
Aku menggoreskan pisau ke pergelangan tanganku. Aku nekat, sangat nekat. Bahkan, aku tak memikirkan nasib bapak dan Aninda di kampung yang selalu membutuhkan aku.
Bersamaan dengan itu, aku melihat bayangan hitam tidak cuma satu. Ada banyak, sekitar lima bayangan dari balik tirai jendela. Mereka hendak masuk ke kamar Maya. Dan setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi.
**
Mata berat, kepala terasa berputar, tubuhku kaku untuk bergerak. Remang-remang, aku mendengar sayup-sayup orang yang tengah berbicara. Tapi mata ini enggan untuk terbuka. Tubuh lemas tak bertenaga. Sejenak aku lupa apa yang terjadi denganku.
Aku buka paksa mataku yang kurang ajar ingin selalu terpejam. Lalu aku mendengar langkah kaki seorang mendekatiku.
__ADS_1
"Eca?" aku sangat mengenali suara ini. Suara laki-laki yang saat ini aku benci, laki-laki yang telah resmi aku beri gelar penghianat.
"Sayang ... apa yang kamu rasakan sekarang? Pusing? Sakit? Yang mana yang sakit? Maaf, aku terlambat datang." El Barrack, perhatianmu hanya kebohongan belaka. Perhatianmu hanya membuat luka di hati ini semakin menganga.
"Kok diam?" El hendak mengecup kepalaku, tapi aku tepis. Masih ada bekas kulit Mayang di bibirnya, aku tak sanggup membayangkannya.
"Sayang, ada apa? Apa kamu marah karena aku terlambat datang?"
"Pergi." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Nampak dahi El berkerut, mungkin dia bingung dengan ucapanku.
"Oh ... kamu mau aku belikan apa?" aku tersenyum miring, sok perhatian. Aku benci perhatiannya, aku benci suaranya, aku benci penghianat cinta.
"Pergi, El Barrack," ucapku tegas.
"Sayang, apa salah aku?"
Cih, si paling nggak bersalah. Aku muak mendengar suaranya. Hati ini seperti mati rasa, seakan semua ucapan laki-laki hanya dusta belaka. Seakan semua laki-laki seperti Ali semua. Mungkin ini yang namanya trauma. Ya, aku telah mengingat semua kejadian sebelum aku berada di ruang yang bau obat menyengat.
Lalu, aku teringat dengan seseorang yang ingin aku lindungi.
__ADS_1
"Maya?"