
Malam yang syahdu, sunyi, dan sepi. Aku menatap langit-langit kamar meski remang-remang karena, hanya disinari lampu tidur. Tanganku terulur untuk mengelus surai hitam panjang bocah kecil cantik di sampingku. Bosan, aku beralih menatap sosok laki-laki yang sedang menjemput mimpi di alam tidur.
Tidak! Dia belum tidur rupanya. Aku bisa melihat kilatan mata yang tengah menatapku tajam. Lagi-lagi aku dibuat terkejut setengah mati karena ulahnya. Kenapa pula dia senang amat membuatku terkejut?
"Kak?" bisikku.
"Kenapa?" jawabnya, juga turut berbisik.
"Kok belum tidur?" tanyaku.
"Aku tak biasa tidur di tempat sempit," jawabnya singkat dan logis.
"Kalau gitu, kita tukar tempat aja, gimana? Biar aku yang tidur di sofa, Kakak tidur di sini," usulku, masih dengan mode bisik-berbisik.
"Kamu pikir, aku nggak bisa tidur di sini, gitu?"
"Bukan, aku cuma nggak mau badan Kakak pegal-pegal besok pas bangun tidur. Kalau aku, kan, udah biasa." aku mencebikkan bibirku kesal.
__ADS_1
"Kenapa nggak kita tidur di situ aja? Ranjangnya luas, cukup untuk tidur bertiga," usul El, tapi malah bikin aku bergidik ngeri. Masih terbayang kelakuan Ali yang begitu kejam memperlakukan wanita.
"Tidak, jangan. Kakak di situ saja," jawabku cepat, dan lalu berusaha memejamkan mata. berharap rasa kantuk segera tiba. Tapi sayang, semakin dipaksa malah semakin mata ini enggan terpejam. Rupanya, kantukku masih ingin bersembunyi di alam sana.
Aku mendengar El terkekeh pelan. Entah mengapa, aku merasa dia tengah menertawakanku. "Ada yang tertawa tapi bukan hantu," sindirku.
"Ada yang nggak ngantuk, tapi bukan kamu," balas El Barrack menyindirku sepertinya.
"Tau, ah!" aku segera berbalik badan memunggungi El Barrack. Tapi, aku malah mendengar suara langkah kaki mendekatiku.
"Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan? Apa aku berbuat salah lagi?" tanya El lembut, seraya merebahkan tubuhnya ke sisiku.
"Dengar! Aku memang salah karena selalu berucap kasar terhadapmu, aku selalu memarahimu hanya karena masalah sepele. Aku minta maaf untuk itu. Maka, ijinkan aku untuk terus mencoba memperbaiki diriku dan terus berusaha untuk menghindari menyakitimu. Jadi, beri tahu aku jika aku bersalah. Tegur aku, kalau perlu tampar aku sesukamu. Aku nggak main-main menjalin hubungan denganmu, Nenek Muda. Aku serius ingin selamanya melaju kisah asmara hanya denganmu," papar El panjang lebar. Awalnya, aku sempat terenyuh dengan perkataan El Barrack, tapi saat aku mendengar kata Nenek Muda, moodku kembali rusak.
"Kenapa diam?" El melingkarkan tangannya ke pinggangku, lalu aku dapat merasakan hangat nafas El menyapu tengkukku yang terbuka bebas. Ya, dia mengecup tengkuk lalu neralih mengecup kepalaku.
"Aku selalu dihantui perilaku kasar Ali terhadap para wanita, Kak. Melihatmu seperti melihat Ali," ucapku jujur. Tubuhku dapat merespon cepat sentuhan El sehingga, getaran akibat ketakutan muncul begitu saja.
__ADS_1
"Bukankah, kamu udah biasa merasakan sentuhanku?" El semakin mengeratkan pelukannya. "Seperti ini," imbuhnya.
"Untuk malam ini, setelah aku mendengar Risha masih bebas di luar sana, aku merasa ketakutanku semakin besar. Aku nggak tahu, tiba-tiba bayangan Ali waktu menyiksa Mayang, Mbak Neneng, dan Mbak Mira melintas di kepalaku. Aku merasa ... semua laki-laki--"
"Sssst. Tidak denganku, Sayang. Sekarang aku tanya, apa aku pernah berbuat lebih terhadap tubuhmu sekalipun aku tahu kamu juga menginginkan hal yang sama?" aku menggelengkan kepalaku pelan. Ya, aku ingat. Saat itu, aku tengah bertengkar hebat dengan Ali. Lalu, aku keluar dari rumah dan dikejar orang-orang Ali. Sampai akhirnya aku bersembunyi di kolong jembatan dan bertemu dengan El. Aku bersembunyi di rumah El, lalu kami sempat melakukan adegan panas, tapi El segera mengendalikan nafsunya.
"Aku serius mencintaimu, Ca. Aku hanya ingin kamu, meskipun bapak kamu pernah mem-" ucapan El terpotong. Aku dapat melihat raut wajah cemasnya.
Mem? Mem apa? tanyaku dalam hati.
Aku menaikkan sebelah alisku. Aku menghela nafasku panjang, lalu membalikkan badanku menghadap El Barrack. "Bapak pernah mem apa?" tanyaku tegas.
"Maksud aku, bapak kamu pernah membuat kamu terlantar. Sehingga, kamu kurang perhatian seorang Ayah," balas El, tapi terdengar gugup di telingaku.
"Dari mana kamu tahu aku pernah ditelantarkan Bapak?" seingatku, aku tak pernah menceritakan masa laluku kepada orang lain selain Rosa dan Mayang.
"Jelas aku tahu. Bapak kamu, kan, dulu pernah kerja di tempat Ali Suprapto. Aku masih ingat semuanya. Apalagi, waktu kamu menangis karena mau naik mobil mewah si Ali. Aku masih ingat."
__ADS_1
Ya, mungkin begitu. Tapi ... kenapa aku merasa ada yang disembunyikan El Barrack dariku?