Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Maya yang Malang


__ADS_3

Selepas aku keluar dari kamar mandi, ternyata tukang c*bul pengecut itu masih tertidur pulas bahkan mendengkur keras.


Aku bergidik ngeri apabila mengandai-andai apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan semalam. Aku langsung menuju walk in closet untuk berganti baju dan mengolesi salep ke luka lecet di dadaku yang aku buat sendiri.


"Kakek-kakek menggauli seorang gadis di bawah umur. Persis kaya blue film Jepun. Aku nggak mau dicap perempuan kurang sentuhan sampai sudi disentuh dan diraba Ki Sugiyani itu." gerutuku, sembari mengolesi seluruh tubuh bagian depanku menggunakan salep yang aku dapat dari kotak P3K.


Setelah semuanya selesai, aku keluar dari ruang walk in closet menuju dapur untuk memasak. Kali ini, aku lagi pengen banget bikin tongseng sapi. Harusnya sih kambing, tapi karena aku nggak suka kambing sapi pun jadi. Entah nanti rasanya kaya apa.


Aku mulai berkutat dengan bahan-bahan dapur yang aku minta dari koki di lantai satu beberapa hari yang lalu. Tapi tiba-tiba, aku teringat satu orang yang belum lama ini menemaniku di sini. Maya ... aku penasaran dengan kabarnya. Mau tanya sama rumput yang bergoyang, takut disangka orang gila.


Jadilah aku pakai lift menuju lantai 6. Ternyata, lantai 6 ini tak semewah lantai 5. Semuanya sederhana meski tetap terlihat mahal. Aku menyusuri semua penjuru ruangan ini. Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

__ADS_1


Iseng, aku membuka sebuah pintu berwarna hitam mengkilat yang berada di samping dapur. Dalamnya gelap dan pengap. Aku merogoh ponsel di saku celanaku dan menyalakan senter. Saat itu juga, tubuhku lemas dan gemetar melihat pemandangan mengerikan di depanku.


Maya ...


Gadis itu terlihat sangat mengenaskan. Pakaian yang ia pakai sama persis dengan pakaian yang terakhir kali dia pakai sewaktu bersamaku. Bedanya, kini pakaian itu terlihat lusuh dan berubah warna karena terkena noda darah.


Luka ...


"Maya ..." lirihku. Perlahan aku mendekatinya dengan tangan gemetar.


"Apa yang terjadi padamu, May? Katakan, siapa yang membuatmu seperti ini?" tanyaku, dan kali ini aku tak mampu lagi menahan laju air mataku.

__ADS_1


"Ba-ji-ngan," ucapnya terbata. Dan aku tak tahu apa yang dia katakan.


"Ba-ji-ngan." lagi, mulut hitamnya mengeluarkan kata-kata kotor itu lagi. Meski aku tak paham apa yang dia maksud, aku segera merengkuh tubuhnya dan memeluknya. Dalam hati aku berdo'a, semoga Ali Sugiyani itu tak menyusulku kemari. Aku yakin, ini ulah orang edan itu.


Aku mengusap punggungnya yang tampak bergetar. Aku membawanya berdiri perlahan dan menuntunnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia hanya mengikuti arahanku. Tak berontak dan tak berbicara sama sekali. Aku yakin, dia mengalami depresi berat dan jiwanya terguncang hebat.


Di kamar mandi, aku melepas semua bajunya tanpa sisa. Betapa terguncangnya jiwaku kala melihat sekujur tubuhnya penuh dengan luka lebam. Tak hanya itu, kulitnya pun penuh dengan luka bakar. Tuhan ... apa yang terjadi dengan gadis malang ini? Ali ... apa yang kau lakukan dengan gadis cantik ini?


Selepas mandi, aku memakaikan baju yang nyaman untuknya. Dia masih setia diam tanpa kata dengan tatapan kosongnya. Aku menyisir rambutnya yang panjang dan bergelombang.


"Ali ... cukup. Sakit, Ali ..."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2