Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Gusar Karena Antena


__ADS_3

Mayang dan Zack, dua insan itu tengah terdiam tanpa ada yang berniat membuka obrolan. Mayang memang sempat meninggalkan Zack, tapi Zack mengejarnya karena tak ingin sendiri seperti badut kehilangan pelanggan.


Dengan segenap kecanggungan yang ada, Mayang pun akhirnya tak tahan dengan suasana ini.


"Ck, kita jadi satpam atau gimana, sih? Masa cuma liatin mereka doang?" tanya Mayang, bibirnya mengerucut karena bosan hanya melihat kemesraan El Barrack dan Seika yang tak tahu tempat.


"Nona sedang berbicara dengan saya?" tanya Zack, hati-hati.


"Nggak, sama biang lala mini tuh," jawab Mayang, sambil menunjuk area play ground yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri. Zack mengikuti arah pandang Mayang, barulah Zack tertawa.


"Saya bahkan takut menaikinya, Nona," papar Zack serius.


"Kau yang berbadan kekar kaya cakwe bisa takut sama biang lala? Hahaha," ledek Mayang, tapi tawa tersebut tak berlangsung lama. Karena, Mayang tengah dihadapkan oleh tatapan membunuh dari netra coklat Zack.

__ADS_1


Entah mengapa, ditatap sedemikian rupa jantung Mayang bertalu-talu, darahnya berdesir, mulutnya seakan terkunci tak dapat mengeluarkan suara.


"Saya memang kekar, apa Anda terpesona dengan tubuh saya?" tanya Zack dengan berbisik. Sontak hak tersebut membuat bulu kuduk Mayang meremang. Dan karena tak ingin terjebak di suasana horor tersebut, Mayang akhirnya memutuskan untuk menyusul Seika.


Sedangkan di tempat lain, Ali Suprapto tengah duduk meringkuk di sebuah ruangan gelap dan terkunci. Hanya ada tikar dan kasur tipis di dalamnya. Selain itu, juga terdapat almari kecil berisikan beberapa potong pakaian saja yang telah disediakan oleh bodyguard yang diberi wewenang mengurus Ali selama masa pengurungan.


Tanpa cahaya dan tanpa kemewahan. Ali hanya diberi makan nasi bungkus satu hari dua kali dan air mineral saja. Para selir telah lepas entah bagaimana keadaan mereka. Yang jelas, mereka akan lebih bahagia setelah lepas darinya.


"Tuan Ali, ini sarapan untuk Tuan," ucap seorang penjaga dengan ramah. Bagaimanapun juga, tahanannya itu masih kerabat dari bos besarnya.


"Aaaaakkhhh! Sialan! Aku tak bisa begini, bagaimana dengan para istriku?!" teriak Ali dengan gusar, ia menjambak rambutnya frustasi.


Namun, tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan sekelilingnya terasa berputar. Pandangan Ali semakin buram, dan telinganya berdenging. Hingga Ali tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, dia pingsan tergeletak di lantai yang dingin.

__ADS_1


Memang, beberapa hari ini Ali tak pernah menyentuh jatah makanannya sedikitpun. Bahkan, sering kali Ali sengaja membuang makanan sebelum penjaga menutup pintu. Ali frustasi berat karena para istrinya yang tak ada lagi di sisinya. Tentu saja, bagi laki-laki seperti Ali yang hyperseks pastilah tak dapat menahan hasratnya barang sedetikpun.


Antena radio yang kadang suka tegak tiba-tiba, tentu butuh lubang pelampiasan. Hanya itu, Ali bahkan melupakan hartanya.


**


Sayup-sayup, Ali mendengar langkah kaki seseorang berjalan ke arahnya. Tubuhnya terasa semakin menggigil kedinginan. Tulangnya terasa linu, remuk, sakit bukan main. Dengan sisa tenaga yang ada, Ali berusaha membuka mata walaupun berat.


"Sudah sadar, Tuan?" terdengar suara bariton seorang laki-laki, suara yang selalu memenuhi telinganya selama ini. Tangan sosok tersebut terulur meraih tubuh Ali dan membantunya berdiri.


"Istirahatlah di kamar saya, Tuan," ucap Zack lirih. Ya, dia adalah Zack. Ketika di mall beberapa jam yang lalu, Zack mendapat kabar dari anak buahnya kalau Ali pingsan. Dengan langkah tergesa, Zack menuju rumahnya untuk melihat kondisi Ali Suprapto, atas izin El Barrack.


"Biarkan aku di sini! Biarlah aku mati di sini, Zack!" sentak Ali, meskipun suaranya tak menggelegar seperti biasa.

__ADS_1


"Tidak, Tuan! Anda tak boleh mati sebelum Tuan Muda yang menginginkannya."


__ADS_2