Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Kecurigaan


__ADS_3

Keesokan paginya, aku mendengar suara anak kecil dan seorang laki-laki tengah tertawa. Hal itu tentu mengusik tidurku. Lantas, aku paksakan mataku untuk terbuka. Agak terkejut melihat sisi kiri dan kananku kosong. Aku segera melirik jam kecil yang duduk di nakas. Ternyata sudah pukul sembilan. Pantas mereka nggak ada.


Gegas, aku turun dari ranjang lalu mencari dua manusia yang semalam tidur bersamaku. Senyumku terukir menyambut pagi saat melihat dua manusia beda generasi tengah berdandan bersama di walk in closet. Yang tua sedang menyisir rambut, yang kecil tengah memakai krim tubuh milikku. Aroma coklat yang berpadu dengan aroma maskulin tentu saja memberi aroma terapi tersendiri bagiku. Rileks!


Karena tak ingin mengganggu, aku pun memutuskan untuk pergi membersihkan diri. Aku sedikit tercengang melihat kondisi kamar mandi yang begitu berantakan. Bahkan, sabun cair milikku habis tak bersisa. 'Apa mereka baru saja bermain gelembung air di dalam kamar mandi?' tanyaku dalam hati.


Beruntung, masih ada sabun cair milik El Barrack. Jadilah aku mandi, meski sebenarnya aku tak begitu nyaman dengan aroma sabun yang aku pakai. Aroma milk and honey, aku sangat benci itu. Tapi daripada tidak mandi, lebih baik seperti ini, kan? Toh, nanti wanginya juga hilang seiring berjalannya waktu.


Selesai ritual mandi, aku menuju walk in closet berbalut handuk kimono yang membungkus tubuh polosku. Dua makhluk itu entah ke mana perginya. Bodo amat, yang penting aku harus segera pakai baju lalu mengisi perut. Karena, rencana hari ini aku ingin mengintai kediaman Suamiku--Ali Suprapto.


Selesai ganti baju, rupanya dua orang yang hendak ku cari ternyata sudah bersenda gurau di ranjang. Aku tersenyum, mudah sekali El Barrack meluluhkan hati anak kecil. Biasanya, anak kecil yang masih polos bisa merasakan mana orang yang tulus, dan mana orang yang modus. Aku yakin, El tulus menolong Nina. Ngomong-ngomong, aku sendiri belum tahu siapa nama lengkap Nina.


Aku berjalan mendekati El dan Nina. Sadar akan pergerakan, El menoleh lalu menatapku. Aku dapat melihat sinar kebahagiaan di mata El Barrack. Apa dia memang sangat menginginkan seorang anak kecil? Atau adik kecil mungkin.


"Kenapa bengong?" tanya El, yang entah dari mana asalnya El sudah berada di depanku.

__ADS_1


"Aku cuma heran, bagaimana bisa dua orang menghabiskan sabun cair satu botol dalam sekali mandi?" sindirku. El terkekeh, sedangkan Nina asyik menonton serial Upin Ipin di televisi.


"Nina yang numpahin. Mungkin belum tahu cara pakainya."


Benar juga. Tapi kenapa bisa sampai satu botol banget habisnya? Apa nggak lama bilasnya? Pikirku. Tapi ... sudahlah, nggak penting juga.


"Nggak percaya? Tanya Nina, tuh, masih ada anaknya," tantang El. Aku menurut, lalu beralih menatap Nina.


"Nina tadi habisin sabun Kakak, nggak?" tanyaku pelan, takut dia tersinggung.


"Nggak pa-pa, Nin. Kakak cuma tanya, kok. Takut dibikin mainan sama Kak El, makanya tanya kamu. Anak kecil biasanya jujur, kata temen Kakak," ujarku lembut. Nina tersenyum, lalu memelukku erat. Dia pasti nyaman berada di tengah-tengah orang-orang yang mencintainya dengan tulus.


"Kalian belum lapar?" sela El, membuat aku ingat dengan niatku selepas mandi tadi. "Ayo, kita makan di bawah. Perutku keroncongan mulu dari tadi," imbuhnya lagi. El berjalan keluar, sedangkan aku menuntun Nina menyusul El.


Tapi saat aku hendak belok kanan menuju area lift, aku mendengar seseorang tengah berbicara entah dengan siapa.

__ADS_1


"Papa tenang saja. Gadis itu ada di tanganku. Papa fokus ke Mama dan Mayang saja, ya?"


"Aku yakin, musibah ini pasti akan membuat Mama tahu siapa Mayang sebenarnya."


"Zack masih di dalam rumah Kakek Paman, Pa. Laporan terakhir, Zack bilang Ali berada di sebuah bangunan yang berada di bawah tanah. Tapi belum diketahui titik lokasinya. Dia masih berusaha mencari."


"Kalau soal dia ... dia menjadi tawanan yang aku spesialkan di sana."


"Sama anak perempuannya. Tempatnya, aku nggak bisa ngasih tahu Papa. Tapi tenanglah, aku akan mencari informasi tentang masa lalunya."


"Baik, Pa. Jaga dirimu."


Apa ini? Sulit sekali dimengerti. Tawanan yang dispesialkan? Sama anak perempuannya? Siapa maksud El Barrack? Aku menatap Nina kosong. Anak itu menggenggam erat tanganku, lalu menuntunku menyusul El Barrack.


"Hei, kalian baru saja sampai?" tanya El, terlihat sekali gelagat anehnya. Tapi aku memutuskan untuk pura-pura tak tahu saja.

__ADS_1


"Iya, tadi kebelet pipis," jawabku seraya menatap Nina yang juga tengah menatapku.


__ADS_2