Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Kamu Milikku


__ADS_3

El Barrack masih setia duduk di samping ranjangku. Teguh sekali pendiriannya, tapi tak seteguh cintanya. Ah, hati ini selalu sakit dan perih acap kali mengingat adegan itu.


Aku lebih memilih pura-pura tidur daripada diberondong pertanyaan oleh pria tampan di sampingku. Tapi lagaknya, El tahu kalau aku cuma pura-pura tidur saja.


"Bukalah matamu. Pura-pura tidur itu melelahkan, loh." aku mendengar suara kekehan El. Kesal, tapi aku hanya mampu menyembunyikan amarahku karena kondisiku yang masih lemah. Sial, sepertinya sangat patut bagiku untuk diberi gelar si Paling Bodoh. Aku hanya mengancam Ali, tapi malah bodohnya aku menjadikan ancaman itu menjadi kenyataan. Aku yang rugi sendiri. Udah sakit, melepaskan Maya begitu saja, aku nggak bisa melindungi orang-orang yang ada di rumah itu, dan pastinya aku sudah menyalakan api permusuhan di antara aku dan Ali Suprapto.


"Sayang?"


"Apa, sih, kamu? Aku tuh bosen dengerin suara kamu!" sentakku, meski masih tetap terdengar lemah.


"Kamu kenapa, sih? Kalau aku ada salah, katakan. Jangan diamkan aku seperti ini. Setidaknya jika kamu berbicara, aku bisa tahu hal yang membuat kamu kecewa. Setidaknya, aku bisa merubah hal yang tak kamu suka. Diam-mu ini menunjukkan rasa tak pedulimu terhadapku lagi. Apa sesakit itu rasa akibat ulahku?"


Nyeri ...


Perih ...


Sesak ...


Sakit ...

__ADS_1


Apa aku terlihat kekanakan?


Apa aku terlihat norak?


Aku termenung menatap langit-langit kamar. Lalu, aku memberanikan diri menatap El yang juga tengah menatapku.


"Apa kamu mencintaiku?" tanyaku, nyaris tak terdengar.


"Sangat, Ca. Aku sangat mencintai kamu." ternyata dia mendengar suaraku yang aku sengaja buat selirih mungkin.


"Tapi kenapa kamu mendua?" aku lirik sekilas matanya melebar seperti tengah terkejut.


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Kak. Kamu memeluk dan mencium perempuan lain yang sangat aku kenal. Kamu bela-belain ke rumah hanya demi dia, tanpa menjengukku sama sekali. Kamu pikir, aku nggak lihat adegan itu?" yah ... lega sudah rasa sesak yang menekan dada. Untuk hasil dan keputusan, aku siap menerimanya.


"Maksud kamu apa, sih?" El menatapku bingung, aku tahu dia pasti hanya pura-pura. "Jelaskan sedetail mungkin. Aku merasa jadi korban pemfitnahan di sini, loh."


Kok bisa?


Aku yang sakit hati, kok dia yang merasa ter-fitness?

__ADS_1


"Kak, aku lihat waktu itu Mayang keluar dengan santainya dan menemui kamu. Lantas kamu memeluk dan menciumnya. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Kak. Kamu nggak tahu, kan, gimana rasanya dikhianati sahabat dan pacar sendiri. Ralat, selingkuhan sendiri. Aku diselingkuhi selingkuhanku, Kak. Lucu kan?!" realita tak sesuai ekspektasi. Aku kira, El akan merasa bersalah dan menjelaskan semuanya.


Nyatanya, dia justru meledakkan tawanya hingga merah wajahnya.


Apa ini?


Apa aku salah paham?


"Eca ... Eca. Lucu banget, sih, kalau lagi cemburu, hmmm? Sayangnya, kecemburuan kamu ini nggak berdasar. Masa, cemburu sama adik sendiri?"


Deg.


"A-adik sendiri?" aku mengernyitkan dahiku.


"Mayang itu adik aku, cuma beda ibu. Ali Suprapto adik Kakekku-Budi Suprapto. Sebenarnya, aku belum siap buat ceritakan semuanya ke kamu. Tapi kayanya kamu udah nggak sabar."


"Sungguh Mayang adalah adik kamu, Kak?"


"Oh, God! Sungguh, Sayangku. Sudah ku putuskan kamu adalah cinta terakhir aku. Aku pastikan, aku akan merebut kamu dari genggaman Ali Suprapto. Kamu harus menjadi milikku."

__ADS_1


__ADS_2