Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Takut


__ADS_3

Semenjak kejadian kemesraan Mayang dan El, aku lebih menjaga jarak dengan El. Setiap detik dia menghubungiku, tapi aku mengabaikannya. Aku lebih fokus dengan kesembuhan Maya.


Suamiku sendiri sama sekali tak mengunjungiku. Hanya saja, dia sangat memperhatikan giziku. Setiap hari mengutus koki untuk membawakan bahan-bahan makanan dari bawah. Tapi tetap saja aku merasa diperlakukan seperti seorang tawanan.


Ingin mencium jalan aspal aja nggak bisa.


Siang ini, aku membawakan rendang sapi untuk Maya. Seperti biasa, aku menaiki lift untuk sampai ke katakan saja rumah Maya. Aku berusaha untuk tidak memikirkan sosok El lagi, yang akhirnya akan membuatku terpuruk.


Padahal kalau boleh jujur, aku sudah menaruh banyak harapan padanya. Harapan untuk bebas dan hidup dengannya selamanya.


Sesampainya aku di lantai enam, aku bergegas memasuki kamar Maya yang kunci pintunya selalu aku bawa. Aku buka pintu itu lalu terlihatlah sosok yang hidupnya kini bergantung padaku.


"Ika ..." sapanya lirih tanpa melirikku. Aku tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"Ya, aku datang. Waktunya makan siang, Maya!" seruku. Aku menyuapinya makan sampai habis tak bersisa. Nyatanya, dia tipe orang yang tak pilah-pilih makanan. Apapun dia makan.


"Pinter! Udah habis nih, makanannya. Sekarang minum, yuk!" aku mengambil air putih dalam botol di samping nakas, lalu menyodorkannya ke mulut tebal Maya.


Setelah semuanya selesai, aku mencuci piring bekas makan Maya dan membuatkan teh hangat untuknya di dapur.


Tapi saat aku hendak membawa minuman ke kamar Maya, ternyata Ali sudah ada di belakangku. Dia lingkarkan kedua tangannya di perutku. Aku yang belum siap menerima perlakuan itu sontak terkejut dan tak sengaja menjatuhkan gelas ke lantai yang berakhir pecah, remuk, persis seperti nasibku.


"Kamu kok bisa di sini?" sekuat tenaga aku berusaha untuk mengendalikan detak jantungku dan getaran tubuhku agar dia tak tahu.


"Ini rumahku. Terserah aku mau di mana, bukan?" dia mulai menjilati tengkuk dan leher belakangku dengan ganas.


"Gan, aku mau ke kamar Maya dulu, ih. Mundur, bisa?" aku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di perutku. Sayangnya, susah sekali.

__ADS_1


"Sebentar. Biarkan aku seperti ini dulu. Kamu pasti lagi nggak halangan, kan?" aku sangat terkejut saat tangan kanannya menerobos masuk ke dalam rok bawahku yang panjangnya di atas lutut. Tubuhku semakin gemetar ketakutan, sudah ku pastikan wajahku kini pasti pucat pasi.


"Ah, belum basah. Kamu nggak nafsu sama aku, hmm?" dia mulai memainkan jemarinya di sana dengan nakal meski masih terbalut kain penghalang. Aku adalah tipe perempuan yang wajib memakai celana pendek atau dalaman ketika memakai dress.


Aku mulai memberontak. Aku tarik tangan yang kurang ajar menjelajahi gua mistisku. Lalu aku hempaskan hingga si empunya oleng. Aku berlari ke kamar Maya, lalu aku tutup pintu dan menguncinya.


Sayangnya, ternyata orang gila itu memiliki kunci cadangan. Sehingga, dengan mudah dia membuka pintu kamar. Aku berusaha melindungi Maya dengan menyembunyikannya di belakang tubuhku. Meski aku tahu, itu tak akan berarti.


"Darling ... kenapa kamu selalu menghindariku? Sudah cukup aku memberimu waktu untuk mempersiapkan diri. Sekarang, siap nggak siap kamu harus bersedia melayaniku," ucapnya disertai senyum mesum yang sangat aku benci.


"Haruskah aku layani laki-laki kurang ajar dan tak berperasaan sepertimu?" tanyaku dingin, masih tetap berusaha menyembunyikan ketakutan yang amat luar biasa.


"Harus. Kalau kamu tidak mau, maka Maya yang akan menggantikan kamu. Karena dia bukan istriku, dia hanya budak nafsuku. Sama seperti Mayang, sahabatmu."

__ADS_1


__ADS_2