
Sudah seminggu Seika tak buka suara. Setiap pagi Seika diurus Mbak Atik dari keperluan mandi hingga sarapan. Sedangkan makan siang sampai tidur menjelang, El Barrack yang turun tangan. Berbagai macam pengobatan dan terapi telah ditempuh, tapi Tuhan belum menunjukkan jalan untuk sembuh.
Dokter Amellia mengungkapkan, bahwa sebenarnya saraf reflek Seika bekerja dengan baik. Hanya saja, otak dan hati Seika seakan menolak untuk sadar dan bangun. Seolah-olah Seika belum siap menghadapi kenyataan yang tengah menimpa hidupnya. Hal itu sontak membuat El Barrack kecewa. Namun, pria 25 tahun itu tak putus asa sama sekali. Dia terus menghujani Seika dengan ribuan cinta dan kasih sayang.
Seperti halnya pagi ini, di saat semua orang sibuk dengan pekerjaan, sama halnya dengan El Barrack yang sibuk mendorong kursi roda yang tengah diduduki Seika. Sengaja, El Barrack membawa Seika jalan-jalan dan mengajaknya berbicara meski yang diajak ngobrol hanya diam seperti patung. Hari libur yang tak sama seperti dulu. Jika dulu El akan mengisi weekend-nya dengan iseng-iseng bermain golf atau bertemu kangen dengan teman-teman lamanya. Kali ini, El justru malah sibuk merawat perempuan malang yang tengah sakit.
"Sampai detik ini ... aku masih bisa bersyukur karena hidup berkecukupan. Meskipun aku dilimpahi ribuan masalah pun, aku masih bisa membawa tubuh ini untuk pergi bersenang-senang. Tapi tidak untuk mereka, bukan?" kata El, matanya menatap dua anak kira-kira berusia tujuh tahun yang sedang asyik memungut sampah yang laku dijual.
"Hanya saja, jika aku boleh berharap ... aku ingin kita seperti dulu lagi, Sayang. Aku juga dapat kabar kalau Ali bersedia menceraikan kamu dan tiga istri lainnya. Berita yang cukup bagus, right? Aku akan segera menikahimu dan kita akan hidup bahagia bersama anak dan cucu kita. Bagaimana? Apa kamu bersedia?" tanya El Barrack, pria dengan tinggi 185cm itu memposisikan tubuhnya agar sejajar dengan posisi duduk Seika.
__ADS_1
"Cepat pulih, Sayang. Aku kesepian ..." ucap El Barrack lirih. Betapa ia merasa sangat payah menghadapi hari-harinya tanpa senyum tawa Seika. Betapa sepinya setiap dentingan waktu tanpa tingkah polos Seika. Ya, El Barrack baru menyadari bahwa Seika sepenting itu dalam hidupnya, sangat berpengaruh dalam mood kesehariannya.
"Kamu adalah perempuan yang aku cintai setelah Mama. Kamu tahu, Mama memiliki watak yang tak berbeda jauh denganmu. Mama cengeng tapi kuat, sangat peduli dengan orang lain melebihi dirinya sendiri, tak terobsesi dengan harta, dan memiliki senyum yang indah sepertimu. Sangat mirip, bukan?" di sini, El dapat melihat cairan bening jatuh ke pipi Seika yang semakin tirus.
"Ali ..." kata Seika, terdengar lirih dan bergetar. El mencengkeram kuat celananya, rahangnya mengeras, marah ... sangat marah mendengar wanitanya justru memanggil Ali dalam kondisi mentalnya yang sangat down.
"Kenapa dia, Ca?" tanya El, dengan intonasi penuh emosi namun tertahan. "Kenapa dia, hmmm?" tanya El lagi.
Bruk!
__ADS_1
El Barrack terjingkat kaget mendengar suara seseorang jatuh di belakangnya. Dan ketika El berhasil menoleh ke belakang, mata El mendelik tajam melihat seorang laki-laki terkapar mengenaskan. Lalu, El menatap seseorang yang tengah berdiri tepat di depannya.
"Zack?" El menatap Zack penuh selidik.
"Maaf, Tuan. Tadi pagi saya mendapat laporan kalau orang ini berhasil kabur. Untungnya, saya menaruh alat pelacak di tengkuknya. Sehingga, memudahkan saya untuk menemukan keberadaannya. Sekali lagi, maafkan saya, Tuan," papar Zack penuh hormat.
"G*blok! Bagaimana bisa dia kabur, hah?!" sentak El Barrack murka.
"Maafkan saya, Tuan. Kebetulan, pagi tadi saya menemui klien di pabrik lensa EyeClear. Saya tidak berani mengganggu hari libur Tuan, makanya saya yang terjun langsung ke lapangan. Tapi ternyata, pilihan saya malah berakibat fatal." Zack menunduk tajam. Lalu, dia melirik sekilas tangan Seika yang tengah berusaha kuat mencekal tangan El Barrack.
__ADS_1
"Tuan ..." lirih Zack, seraya menatap lurus tangan Seika yang bergerak. El Barrack yang melihat itupun mengikuti arah tatapan Zack. Betapa terkejutnya El melihat Seika yang sedang berjuang keras ingin menyentuh tangannya.
"Sayang?" El pun membiarkan tangan Seika bergerak dengan sendirinya. Dia mengawasi pergerakan Seika, lalu berpindah menatap Zack. "Bawa dia ke pos tujuh," titah El tegas, dan dibalas anggukan patuh oleh Zack.