
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuhku bergetar hebat. Takut, cemas, marah, dan menyesal bercampur menjadi satu.
Ali ...
Dia patut mendapat gelar suami terkejam di dunia. Apa baginya wanita itu hanya sebuah boneka tak berharga? Ditindas, disiksa, dipaksa semaunya. Tak adakah rasa iba sedikitpun di hatinya? Sepertinya, aku harus mulai menyelidiki dan mencari jarum di rumah ini.
Aku pun semakin penasaran, jangan-jangan ada korban yang lebih parah dari Maya? Karena sudah dua kali aku melihat Sugiyani itu menyiksa wanita.
Aku beralih menatap Maya yang sudah ku rapikan rambutnya. Tampak lebih baik. Selanjutnya, aku perlu mengobati luka Maya. Mungkin dengan salep aloe vera yang kata Rosa obat seribu jenis luka. Kecuali luka diputusin mantan katanya.
Dia tak menunjukkan rasa perih atau meringis saat aku mengoleskan salep itu ke lukanya yang masih basah. Benar, dia depresi berat.
"Maya, apa kamu sudah makan?" tanyaku lembut, sembari mengoleskan salep ke beberapa luka lainnya yang sudah mulai mengering.
Tak ada jawaban, aku berinisiatif mencari makanan di lantai 6 ini. Gegas, aku membuka lemari es yang berada di samping pintu dapur. Beruntung, masih ada biskuit meskipun sedikit.
Aku mengambil biskuit itu dan kembali ke kamar Maya. Masih sama, gadis malang itu masih duduk di tempat yang sama dan ekspresi yang sama.
Aku menyuapkan biskuit tadi ke mulutnya. Dia merespon, tandanya dia masih bisa merasa lapar dan mendeteksi makanan yang ada di dekatnya.
"Pinter ... habiskan, ya? Biar kamu kenyang dan cepat sembuh. Biar kita bisa main lagi, bisa ngobrol lagi, dan kamu bisa normal kembali." air mataku kembali meleleh tak kuasa membayangkan penderitaan gadis ini.
Dia mengangguk lemah meski tetap dengan tatapan kosongnya. Tapi melihat itu saja sudah membuat aku lega.
"Ika ..."
__ADS_1
Aku terdiam. Aku berpikir, apakah Ika yang dia maksud adalah Seika dan itu aku?
"Iya, May. Aku di sini. Coba tatap aku," jawabku. Tapi dia kembali diam seperti semula. Ku lihat, ada setetes cairan bening jatuh membasahi pipinya yang bengkak dan membiru.
"Maya, ini aku di sini." aku menggenggam tangannya dan mengarahkannya ke pipiku.
"Ika ..." ucapnya lagi.
"Iya, Ika di sini." aku menangis tertahan, dan lalu menggenggam erat tangan Maya. Jiwa yang rapuh, harapan yang melepuh. Maya ... aku harus bisa melindunginya. Aku harus bisa mencegah Ali supaya tidak mendatangi Maya lagi.
"Maya, kamu istirahat dulu di sini, ya? Tidur yang nyenyak," aku merebahkan tubuh Maya ke ranjang yang dibalut seprai merah darah itu dan menyelimutinya. Setelah memastikan dia nyaman, aku mencium keningnya dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Tidurlah. Esok nanti, kamu harus sudah sembuh dan berjuang bersamaku melawan laki-laki bejat itu. Aku dan kamu, tak ada yang boleh menginjak harga diri kita. Aku akan kembali nanti bawain kamu makan siang, oke," ucapku seraya menyelipkan anak rambut Maya ke belakang telinganya. Dia mengangguk, itu artinya dia mendengarku. Aku yakin, dia nyaman bersamaku.
"Mimpi indah, Maya." aku membuka gorden agar tetap terang alami dari sinar matahari, serta menutup pintu dan menguncinya dari luar. Kebetulan, kunci pintu itu tergantung di sana. Aku akan membawa kunci itu bersamaku. Biarlah, si Sugiyani edan itu melihatku dari CCTV. Yang penting, Maya aman di dalam.
"Eca, kamu dari mana saja, hmm?" tanyanya padaku, berhasil membuatku mengerjap.
"Kamu kok bisa di sini? Gimana caranya?" tanyaku lirih sembari menengok ke kanan dan kiri takut orang edan itu melihat kami.
"Ya, tinggal ke sini, lah." El segera merengkuh tubuhku dan mengecup pucuk kepalaku.
"Perempuan hebatku," bisiknya.
"Maksud kamu?" aku mengernyitkan dahiku.
__ADS_1
"Kamu pikir, aku nggak tahu apa yang kamu lakukan tadi?"
"Tadi? Emang aku ngapain?" aku semakin tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan barusan.
"Kamu tak perlu tahu. Tapi yang jelas, aku semakin mencintaimu. Aku tak akan pernah melepaskan kamu, Sayang," bisiknya. Darahku berdesir mendengar rayuannya. Wajahku memerah tersipu malu meski tak terlihat oleh El, karena aku masih berada dalam dekapannya.
"Nggak jelas banget," ucapku ketus. Dia terkekeh lalu melepaskan pelukannya dan berganti mencubit hidungku.
"Kakak! Sakit, ih!" teriakku manja. Tapi dia semakin tertawa lalu mengecup bibirku sekilas.
"Kamu tukang selingkuh, ya?" dia menatapku genit disertai senyuman ejekan.
"Biarin. Kamu juga tukang pacarin istri orang, wlek." aku menjulurkan lidahku, tapi nahasnya malah langsung ditangkap oleh bibir El dan menyesapnya. Gila, adrenalinku berpacu bersamaan dengan debaran jantungku yang begitu cepat. Ada gelenyar aneh mengganggu tubuhku, kulitku, dan panas di area tertentu.
"Kakak ... kalau ada yang lihat bagaimana? Banyak CCTV di sini," bisikku berusaha senormal mungkin.
"Nggak akan ada yang tahu, Eca. Semua aman," balasnya dengan bisikan pula.
"Memang, dia di mana?"
"Dia lagi datangi istri pertamanya di bawah. Jangan takut, kalau aku ke sini berarti kondisi terpantau aman, oke." aku tersenyum menanggapinya lalu memeluknya erat.
"Oh, ****. Benar kata temanku, bahwa istri orang memang sangat menggoda iman," desisnya membuat aku tertawa.
"Dan aku juga baru kali ini menemukan perselingkuhan seindah hubungan kita."
__ADS_1
"Karena suamimu bukan pilihanmu, karena kamu menjadi istri kelima, karena kamu melihat wanita tersiksa di tangannya, karena kamu juga baru tahu wanita tak berharga jika di matanya. Dan aku ... akan menjadikanmu berlian yang tak ternilai harganya. Yang hanya boleh bertahta di hatiku," bisiknya, lalu segera meraup bibirku dengan ganas.