
Seika Annahita. Gadis itu masih menyandang gelar sebagai seorang gadis perawan, masih bersegel dan belum tersentuh sama sekali. Meski terikat dalam janji suci, keduanya justru saling mengingkari. Saling berjauhan tanpa bertukar kabar. Yang satu berpaling, yang satu panen karma. Lalu, siapa yang salah di antara keduanya? Bukankah mereka sama saja? Saling berkubang dalam lumpur dosa yang disengaja.
Di belakang rumah yang sederhana namun tampak mewah, sosok Seika tengah duduk berhadapan dengan ibu dari kekasih gelapnya. Bukan, lebih tepatnya selingannya. Yunita tak henti-hentinya menatap Seika intens. Merasa tak asing dengan wajah perempuan di depannya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Yunita ketus.
"Saya dari kota Temanggung, Nyonya," jawab Seika setengah takut.
"Terus kamu di sini numpang hidup sama anak saya?" Yunita menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak, Nyonya. Saya tinggal di sini cuma sementara waktu saja. Itupun karena suatu hal." Seika masih setia menundukkan wajahnya, sekaligus menyembunyikan kecemasannya.
__ADS_1
"Benalu!" ucap Yunita, sedikit menaikkan nada suaranya. Seika tersentak, tubuhnya bergetar takut sekaligus bingung apa yang harus ia lakukan.
"Saya sama sekali tak bermaksud membebani kak El, Nyonya. Saya di sini--"
"Jangan banyak alasan kamu! Kamu ini perempuan, tinggal satu atap sama laki-laki. Mana harga dirimu?" Seika terdiam seribu bahasa. Benar apa yang dikatakan Yunita, di mana harga dirinya sebagai perempuan yang dijunjung tinggi kedudukannya? Kalau saja hal itu terjadi di kampungnya, pasti aksi penggerebekan telah dilaksanakan oleh para pemuda, lalu diarak masa keliling desa.
"Maaf, Nyonya. Saya bersalah. Saya akan pergi sekarang juga," ucap Seika pasrah. Kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, tentu sangat rentan terhadap tekanan.
"Mau ke mana? Kamu pikir anak saya mainan?" entah apa yang dipikirkan Yunita. Seika pun tak paham dan semakin bingung. Ibarat layangan yang ditarik ulur sembarangan. Yang semula ingin pergi kini ditarik lagi, entah permainan macam apa yang akan Yunita lakoni.
"Tunggu El pulang baru pergi. Tapi ingat! Jangan libatkan aku atas kepergianmu." ucap Yunita penuh ancaman.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang pergi dari sini tanpa izin dariku!" seru El yang entah bagaimana caranya bisa tiba-tiba muncul.
"El, sejak kapan kamu pulang?" tanya Yunita, tapi El tak menatap Ibunya sama sekali. Matanya terus tertuju kepada perempuan yang juga tengah menatapnya sendu.
"Sayang, kamu masuk ke kamar dulu, ya! Aku mau bicara sama Mama," suruh El kepada Seika, dengan nada yang begitu lembut.
"Tapi, Kak. Aku--"
"Ssssstt ... menurutlah padaku, Cantik." El mengacak rambut Seika, lalu meninggalkan kecupan mesra di sana. Sontak Yunita melebarkan matanya, merasa malu dan salah tingkah melihat tingkah putra tunggalnya yang begitu blak-blakan. Seika sendiri begitu patuh menuruti permintaan El Barrack. Dengan langkah pelan tapi pasti, Seika meninggalkan sepasang ibu dan anak yang sebentar lagi pasti akan berperang memperebutkan kekuasaan.
Sesampainya di kamar, Seika meraih ponsel yang berada di atas meja riasnya. Jari-jari lentiknya bergerak membelai lembut layar ponsel, lalu dicarinya kontak seseorang yang sangat ia rindukan. Bapak! Ya ... seperti apapun itu, sejahat bahkan sekejam apapun itu, orang tua tetaplah manusia yang paling berjasa dalam hidup kita, terutama ibu.
__ADS_1
Seika hanya mengirim pesan melalui chat di suatu aplikasi. "Bapak, aku baik-baik saja. Bapak di sana jaga diri, ya! Jangan mikir macem-macem. Aku sayang Bapak." begitu kira-kira isi chat yang diketik langsung oleh jemari lentik Seika. Setetes cairan bening jatuh menempel di layar ponsel dengan latar belakang foto dirinya dan El Barrack yang sedang berpegangan tangan.
"Aku rindu bapak. Tapi aku takut tak bisa mengendalikan diri jika mendengar suaramu yang pernah membunuh ibu sahabatku," isak Seika, di tengah ingatan yang mulai bermunculan.