
"Lalu, di mana Papa menyembunyikan kakek paman ya?" Gumam Mayang lirih. Tangannya berusaha mengobrak-abrik laci meja yang berada di ruang kerja Ali Suprapto, berharap menemukan petunjuk.
Mayang menghela nafasnya kasar merasa lelah karena tak menemukan petunjuk sedikitpun. Bukan khawatir, melainkan obsesinya untuk menghancurkan Ali Suprapto dengan tangannya sendiri.
Singkat cerita, Mayang memutuskan untuk menemui Orland dengan cara membuat janji temu rahasia di tempat biasa. Bermodal secuil kertas berwarna hijau bertuliskan 'temui aku @13.00pm', Mayang menitipkan kertas kecil itu kepada seorang yang selalu ia percayai menyimpan rahasianya, yakni bodyguard Orland.
"Siap, Nona Muda," ucap bodyguard bernama Rian itu, setelah menerima kertas pemberian Mayang. Lalu, Rian segera memutar badan dan berjalan menuju pintu masuk.
Suasana halaman parkir sangat sepi, seolah mendukung Mayang dalam menjalankan misinya. Seperginya Rian, Mayang segera melangkah cepat menuju tempat yang akan membawanya bertemu dengan Orland. Dia memilih berangkat lebih awal karena dia hanya menaiki angkot. Tentu akan terlambat jika dia berangkat menggunakan patokan waktu perjanjian. Apalagi, Orland sangat menghargai waktu.
Lima belas menit kemudian, Mayang telah sampai di sebuah tempat yang selalu menjadi tempat rahasia dirinya dan ayahnya bertemu. Di sebuah danau, dengan hamparan rumput hijau. Pohon beringin tua dengan akar yang menjuntai ke bawah, bangku panjang tua di bawahnya dengan bunga tulip yang mengelilinginya. Sungguh sejuk dan asri. Mayang duduk di bangku tersebut sembari menghirup aroma bunga tulip dalam-dalam.
Jenuh menunggu Orland yang tak kunjung datang, Mayang memutuskan berjalan mengelilingi danau yang hanya dihuni beberapa orang saja. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda-mudi yang tengah dimabuk asmara, yang akhirnya berujung nafsu, gairah, kesesatan, dan kemaksiatan. Tiba di bawah rimbunan pohon bambu, pandangan Mayang tertuju pada dua sosok yang tengah bercengkerama. Tawa mereka terdengar jelas di telinga.
"Sudah, Kak. Aku geli," ucap seorang perempuan, dengan tawa yang begitu renyah.
Merasa tak asing dengan suara tersebut, Mayang memberanikan diri mendekati dua sosok di balik pohon bambu itu. Kedua mata Mayang melebar, terkejut sekaligus bahagia melihat siapa dua sosok tersebut.
"Kakak!" seru Mayang. Sontak, dua sosok itu menoleh ke arah Mayang, dan terjadilah tatap demi tatap yang memicu genangan bening di pelupuk mata.
"Mayang ..." lirih El Barrack. Kakinya bergerak perlahan mendekat ke arah sang adik yang telah lama tak ditemuinya.
Mayang berlari dan menghambur ke dalam dekapan sosok laki-laki beda ibu itu. "Aku merindukanmu, Kak," isak Mayang, seraya memeluk El Barrack erat.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja, Anak Nakal?" tanya El, lalu menyentil dahi Mayang keras.
"Awwww! Sakit, Kak!" teriak Mayang meringis kesakitan, sambil mengelus dahi.
"Jangan suka ilang-ilangan. Sudah besar kok hobi petak umpet. Masa kecilmu bagaimana?" ejek El, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang begitu menawan. Lalu, matanya melirik penuh arti ke arah bidadari cantik yang tengah diam mematung menatap dirinya dan Mayang yang tengah melepas rindu.
"Ih, ngaco! Kakak aja yang tidak mencariku sama sekali," cibir Mayang kesal. Mengingat beberapa hari yang lalu, di mana dirinya disekap Yunita tanpa diberi makan, dan hanya minum air dari keran. Miris ...
"Maaf. Aku mencarimu, tapi papa menyuruhku supaya berhenti mencarimu, dan--"
"Papa!" seru Mayang, memotong pembicaraan El yang belum selesai. El menaikkan sebelah alisnya heran. "Aku sedang membuat janji temu sama papa, Kak. Aku pergi dulu," ucap Mayang terburu. Saat hendak enyah dari tempat tersebut, langkah Mayang dibuat terhenti mendadak ketika ingat ada satu orang lagi yang belum disambutnya.
"Astaga! Seika!" seru Mayang, lalu berlari dan menghambur ke pelukan Seika. Lalu mencium pipi Seika berkali-kali, hingga si empunya tertawa geli.
"Aku kira kamu akan melupakan aku, Mayang," ucap Seika, membalas pelukan Mayang. El menggelengkan kepalanya melihat kelakuan antik adiknya.
"Maafkan aku, May." entah untuk apa maafnya, yang jelas Seika hanya ingin meminta maaf sebanyak mungkin kepada sahabatnya itu.
"No problem, Sei. Aku tahu maksud kamu." Seika mengangkat wajahnya, dan menatap manik mata Mayang lekat.
"Kamu sudah tahu, kan, siapa pembunuh ibuku?" tanya Mayang, tersenyum lembut.
"May ..." kedua mata Seika memerah, dan hujan kembali turun membasahi lahan putih dan mulus tanpa cela itu.
__ADS_1
"Papa bilang sama aku, katanya kamu sudah tahu siapa yang membunuh ibu. Tapi aku tidak peduli. Kamu tetap sahabat terbaikku. Aku telah kehilangan ibu, dan aku tak ingin kehilangan sahabatku, yaitu kamu. Masa lalu biarlah berlalu. Aku anggap kematian ibuku adalah sebuah takdir. Sedangkan manusia tak ada yang bisa mengubah takdir. Aku percaya, Tuhan mengirim kamu untukku, sebagai pengganti ibu yang telah bahagia di sana, dengan perantara ayahmu," papar Mayang tulus.
Seika semakin dibuat mati kutu, merasa paling jahat dan tak tahu apa yang harus ia perbuat.
"Aku tahu siapa pembunuh ibu sejak kecil, dan aku baru tahu jika dia adalah ayahmu setelah kita satu bulan bertemu. Awalnya, aku memang ingin membalas dendam. Namun, semakin lama rasa benciku terhadapmu berubah menjadi rasa sayang layaknya sahabat dekat, bahkan keluarga. Kamu yang baik dan tulus, mampu mencairkan bongkahan es di hatiku menjadi cair dan hangat. Selamat Seika, kamu telah membuat hati musuhmu lemah dan bertekuk lutut di hadapanmu." Mayang kembali memeluk Seika, air matanya jelas membanjiri pipinya.
*Ternyata, menyimpan kebencian tidaklah nikmat
Balas dendam hanyalah nikmat sesaat
Balas dendam dan kebencian adalah pemicu hati yang baik menjadi jahat
Abaikan provokator, agar hati tak tersesat
Karena waktu berputar semakin cepat
Sedangkan melupakan kejahatan, adalah proses yang lambat
Pupuk kebaikan dan ketulusan agar semakin lebat
Karena sejatinya, yang paling memaafkan adalah yang paling hebat.
Mayang*.
__ADS_1
Hola!
Adakan yang rindu dengan author bawang ini? ðŸ¤