
Di hari ketujuh Seika menikah dengan kakek Ali, pagi-pagi sekali aku mengirimkan pesan untuk melakukan pertemuan pribadi padanya. Tentu dia menyetujuinya. Di sebuah restauran yang terdapat room private, aku memilih tempat itu.
Aku nekat untuk balas dendam dan menghancurkan. Tapi sehari sebelumnya, aku berunding dengan kak El dan Papa. Mereka tampak ragu, dan yakin setelah aku meyakinkan mereka. Katakanlah aku ini arogan, menyeramkan, gagal move on, atau apalah. Tapi perlu kalian ketahui, di sini aku membela kaum wanita yang dijadikan budak nafsu atas kebiadaban kakek tak tahu diri itu.
Bahkan, saat itu aku melihat dengan jelas saat aku hendak membeli beras di sana. Saat itu, aku mendengar suara teriakan seorang perempuan di dalam ruangan yang pintunya tertutup di sudut gudang besar itu. Herannya, semua orang di gudang itu beserta para pekerja gudang seakan-akan tak mendengar teriakan itu.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mendekati ruangan itu. Saat sampai di depan pintu, suara teriakan itu semakin jelas terdengar. Aku semakin memberanikan diri untuk membuka pintu yang kebetulan tak dikunci.
Seketika aku melebarkan mataku kala melihat pemandangan yang begitu mengerikan terjadi di hadapanku. Seorang gadis berusia sekitar 20 tahun tergeletak dengan penampilan acak-acakan, berlumuran darah, dan kaki yang terbuka lebar. Aku bahkan melihat dengan jelas area intinya karena menghadap ke pintu.
Hatiku semakin hancur saat aku melihat lansia gila dan psikopat itu menggauli gadis tersebut sembari menggores kulit mulus gadis malang itu menggunakan pisau kecil tapi tajam dan mengkilat. Dan setelah itu, aku tak tahu kejadian selanjutnya karena bodyguard kakek Ali menarikku pergi dari tempat itu.
Saat itu juga, aku teringat kejadian beberapa tahun lalu kala aku dipaksa merasakan betapa tersiksanya hidup hanya dengan seorang ibu tapi hanya sekejap.
Aku nggak bisa melupakan kejadian di mana waktu itu ibu dengan sekuat tenaga mempertaruhkan nyawanya demi aku! Aku melihat darah keluar dari kepala ibu begitu deras. Kaki kanan ibu yang terpotong sebatas mata kaki, dan perut berlumuran darah. Dan itu siksaan sebelum ibu tiada yang dilakukan pak Arman waktu itu.
"Pergilah, Nak! Larilah!" begitu teriakan ibu yang masih kerap terngiang di telingaku.
__ADS_1
Tapi saat aku hendak lari, pak Amran mencekal pergelangan tanganku. Kukira, aku akan mati saat itu juga. Tapi ternyata ...
"Maafkan Bapak, Nak. Maafkan Bapak!" teriak pak Amran dengan raungan tangis yang begitu memekakkan telinga setelah melihat ibu yang tak lagi bergerak.
Aku tak mengerti apa yang dia maksud, tapi yang jelas saat itu juga dia bersujud di kakiku dan mencium dahiku, hingga setelahnya aku tak sadarkan diri.
Pertemuan aku dengan kakek Ali di restauran itu memang berlangsung lama. Kami duduk berhadapan, dan hanya kami berdua di ruang itu.
"Kek, aku tak mau banyak basa-basi sama kakek. Tapi sekarang, aku butuh uang dua milyar. Aku ... tertipu investasi bodong. Aku takut Papa tahu dan marah, Kek. Tolong aku," begitulah aktingku, yang menurutku lumayan berbakat.
"Dua milyar bukan uang sedikit. Apa yang akan kamu berikan padaku?" tampak seringai muncul di wajahnya yang jelek dan tak menarik sama sekali itu.
"Hmmm ... cukup percaya diri. Tapi sayangnya, itu nggak cukup." lansia lupa umur itu nampak menghisap rokok panjang dan besar yang terselip di sela jari telunjuk dan jari tengah.
"Sungguh? Kalau Kakek masih perjaka, aku pikir keperawananku tak sebanding dengan dua milyar. Tapi Kakek kan udah nggak perjaka. Kalau dihitung dengan rumus biologi, umur Kakek kehilangan keperjakaan sampai sekarang ditambah banyaknya wanita yang Kakek tiduri, sepertinya punya Kakek udah bolong sebesar paralon bendungan. Harusnya aku yang rugi, Kek," seketika Kakek tersedak asap rokok sampai matanya berair. Kurasa dia tersentil dengan ucapanku.
"Kapan kamu butuh uang itu?" aku nyengir kuda dan menenggak lemon water milikku.
__ADS_1
"Nanti sore, ada?" tanyaku.
"Baiklah,"
Tapi siapa sangka keputusanku mengambil waktu sore itu justru mempertemukan aku dengan Seika di hotel. Juga sebelum Seika datang, datang pula preman yang tiba-tiba sok cari muka padahal ujung-ujungnya cuma minta cuan. Ngadu lagi. Cih, badan aja yang kekar, tapi mulut kaya ibu-ibu yang suka tawar menawar di pasar.
Aku berusaha diam dan mengendalikan emosiku kala mendengar nama Seika dan Kak El yang preman itu jadikan obyek pemerasan uang.
"Benar, Juragan. Saya melihat laki-laki tampan memeluk Seika di pinggir sungai jalur selatan. Tapi kayanya, Seika tidak sadarkan diri. Terlihat dari kakinya yang lemas dan berlumuran darah," adunya.
"Lalu?"
"Lalu, pria tampan itu menggendong Seika dan dia rebahkan tubuh Seika di mobil BMWnya," huh, kompor sekali.
"Apa ini pria yang kamu maksud?"
"Benar, Juragan. Sepertinya, mereka saling mencintai,"
__ADS_1
Ada yang rindu?
Maaf, ya. Kemarin ... aku mengurus proses pernikahan adikku. Sibuk banget. Malamnya, tiap aku udah lihat kasur dan bantal mataku berasa kaya lengket gitu😂 ketiduran deh!