Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Empat Istri Malang


__ADS_3

Di tempat lain, Mayang telah tinggal di sebuah kontrakan yang tak jauh dari Orland Mart. Mayang sengaja mengontrak dan tak memberi tahu papanya agar tak terjadi kericuhan lagi. Ada rasa takut jika Yunita datang dan melabraknya lagi. Anehnya, selama di kontrakan pikiran Mayang justru tertuju pada Ali Suprapto.


Rasa penasarannya terhadap Ali terlalu tinggi. Laki-laki itu tak pernah datang menemuinya lagi. Semenjak kejadian di mana Ali diburu oleh pasukan El Barrack dan Orland, Mayang tak pernah melihat sosok itu lagi.


Dan pagi ini, meski dangan langkah gontai dan dengan kondisi tubuh yang masih lemas, Mayang membawa tubuhnya untuk membersihkan diri. Dia bertekad mencari Ali Suprapto, lalu menghabisi pria tua tak beradab itu. Bagi Mayang, ini adalah waktu yang tepat untuk balas dendam. Mayang yakin, Ali Suprapto tengah lengah dan tak seimbang.


Padahal, Mayang tak tahu jika Ali Suprapto ada bersama kakaknya sendiri.


"Lihat saja, aku pasti akan menghancurkanmu, Ali Suprapto!" Mayang menatap tajam cermin kecil di depannya. Ia remas tangannya dengan kuat.


"Tak akan aku biarkan kau menginjak harga diri wanita lagi." Mayang menatap nyalang cermin tersebut, lalu dia melangkah mantap menuju pintu keluar.


Tujuan utamanya adalah kediaman Ali Suprapto sendiri, atau bisa dibilang mantan rumahnya. Dengan mengendarai angkot, Mayang mantap menuju rumah lamanya itu. Waktu yang diperlukan kurang lebih lima belas menit. Sebentar saja, karena jarak kontrakannya dengan kediaman Ali tak begitu jauh.


Dan benar saja, dalam jangka waktu lima belas menit, Mayang telah berdiri tegak di depan rumah yang tinggi menjulang, mewah dengan interior dan furniture mahal.


"Selamat datang kembali, Majikan," ucap Mayang lirih namun tegas. Matanya menyipit, seolah siap menghadang lawan. Mayang melangkahkan kakinya mantap menuju rumah mewah tersebut. Agak tercengang merasakan suasana rumah yang sunyi, sepi, bagai tak berpenghuni.

__ADS_1


Mayang menekan bel pintu beberapa kali. Namun, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Lelah menunggu, Seika berinisiatif membuka gerbang sendiri. "Aneh. Tak dikunci," gerutu Mayang.


Dengan langkah santai, Mayang berjalan memasuki rumah dengan siulan merdu.


"Hello! Ada orang di dalam?!" seru Mayang. Sekilas dapat Mayang lihat bayangan hitam yang berasal dari arah dapur.


"Siapa di sana?!" teriak Mayang lagi.


Karena tak sabar, Mayang menyeret kakinya perlahan ke arah dapur. Namun, ia tak menemukan siapa-siapa di sana.


Brak!


"Hey! Ada suara di sana?!" teriak Mayang. Langkahnya semakin mantap, keyakinannya tentang adanya penghuni di rumah itu semakin kuat. Hingga sampailah Mayang di lantai satu itu. Benar saja, ada sebuah pintu yang tampaknya baru saja terbuka.


"Siapa di situ?" tanya Mayang waspada. Kembali Mayang melangkahkan kakinya perlahan, sedikit mengendap agar langkahnya tak diketahui musuh.


Brak!

__ADS_1


Mayang menendang kuat pintu tersebut. Matanya melebar saat melihat sosok yang berada di dalam kamar tersebut.


Tika, Mira, Sri, dan Neneng tengah meringkuk ketakutan di pojokan kamar tersebut. Penampilan mereka tak semewah seperti saat terakhir Mayang lihat. Mereka berempat tampak kurus dan memprihatikan. Terutama Neneng. Wanita lumpuh itu tampak pucat, kedua matanya terdapat lingkaran hitam seperti mata panda.


"K-kalian ..." ucap Mayang terbata.


"Mayang, syukurlah kau baik-baik saja," sahut Neneng, lengkap dengan senyum tulusnya.


"Kalian kenapa begini?" tanya Mayang lirih.


"Kami takut keluar. Ada bodyguard Juragan Ali yang mengintai kami," jawab Tika lemah.


"Benar, Mayang. Kami secara tidak sadar disekap tanpa diberi makan. Uang kami habis untuk membayar kerugian atas kejadian penyelundupan Juragan Ali minggu lalu," isak Mira.


"Lalu, di mana Ali?" tanya Mayang geram.


"Dia ditangkap Tuan Orland, Mayang," jawab Neneng dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Papa?"


__ADS_2