
Keesokan paginya, aku merasa tubuhku tertindih sesuatu. Berat di bagian perutku. Perlahan, aku mulai membuka mataku dan lalu sedikit mengerjap karena pantulan sinar matahari masuk ke mataku.
Aku meraba bagian perutku yang terasa berat. Aku sedikit terkejut kala melihat tangan besar bertengger cantik di perut rataku. Aku baru ingat jika semalam Engkong Ali tidur di sampingku.
Tapi ... saat aku sadari ada yang berbeda terjadi dengan tubuhku, aku langsung bangkit duduk sembari menyelimuti tubuh bagian atasku yang terbuka sempurna.
Aku sangat terkejut, sangat cemas, dan sangat takut. Apalagi melihat tanda merah di dua buah dadaku. Aku beringsut turun dari ranjangku dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bukan, tepatnya membersihkan bekas Engkong Ali.
Air mataku mulai membanjiri pipi tirusku. Gegas, aku mengambil ponsel yang aku sembunyikan di belakang meja riasku sebelum melakukan ritual pembersihan diri.
Sesampainya di kamar mandi, aku segera membersihkan tubuhku menggunakan sabun yang aku tuang sebanyak mungkin, lalu menyikatnya menggunakan sikat gigiku. Aku nggak peduli rasa panas yang perlahan merayap di dadaku. Aku terus menyikatnya sampai aku merasa puas dan lega.
Setelah itu, aku menuju bath up yang ada di atas, dan segera berendam di sana. Seketika, perih dan panas menjalar di dadaku yang aku sikat tadi. Tapi aku nggak peduli, aku menangis sejadi-jadinya sembari mencoba menghubungi selinganku.
"Sayang ... tumben pagi-pagi udah nelpon. Kangen?" tanya El di seberang sana.
"Kakak ..." aku semakin tak mampu menahan laju air mataku kala mendengar suara khasnya. Suara yang selalu aku rindukan.
"Hei, are you okay?"
__ADS_1
"Kak, dia ... dia menodaiku," isakku, sambil meremas ponselku kencang.
"Maksud kamu apa, Ca? Tenang dulu, baru cerita."
"Kak, semalam aku tidur dengan Juragan Ali. Yang aku ingat, semalam tu baik-baik aja. Bahkan, kita buat kesepakatan untuk tidak saling menyentuh. Tapi saat aku bangun tadi, tubuh atasku udah nggak pakai apa-apa. Banyak sekali bekas merah di ... di--"
"Aku paham. Tapi kamu nggak apa-apa, kan?"
"Aku nggak apa-apa, tapi aku merasa jijik, Kak. Aku nggak sudi," di sini tangisku semakin menjadi-jadi. Masa bodo, aku nggak rela jika tubuhku dinikmati kakek-kakek minus akhlak seperti dia.
"Tapi kamu kan belum dinodai, Sayang. Baru pemanasan itu."
"Tapi aku nggak sudi, Kak. Dia bukan Suami yang aku idamkan. Dia tua dan punya istri tak cuma satu."
"Hei, Cantikku. Biasanya cantik kok jadi kucel gitu? Udah, yang penting bagian lainnya kan masih aman. Lain kali hati-hati, kalau dia mau tidur sama kamu, gembok dulu baju kamu biar nggak diraba-raba lagi. Lagi, kalaupun dia mau yang lebih, itu kewajiban kamu buat melayani dia, loh."
"Tapi aku takut, Kak. Masa, aku jadi kaya artis Jepun, sih? Aku sama dia cuma nikah di atas kertas aja. Dan hanya satu tahun, Kak. Aku ingin, sampai waktu bebasku tiba, aku masih tetap memiliki mahkotaku.
"Kakak akan terus berusaha untuk bebasin kamu, Sayang. Kamu yang sabar dulu. Semua akan indah pada waktunya, dan suram jika karmanya tiba. Sama sepertimu dan sepertiku. Kamu menanti pelangi, aku menanti mendung."
__ADS_1
"Kok bisa?" aku mengernyit heran.
"Kamu tersiksa di sana, aku di sini nyiksa orang demi bebasin kamu."
"Nyiksa orang gimana?"
"Lupakan. Eh, itu kamu kelihatan sama aku nggak malu, hmm?"
Sontak aku melebarkan mataku, lalu menatap bagian dadaku yang untungnya tetap tertutup air dan busa. Meski begitu, aku tetap malu dan salah tingkah.
"Kakak mesum!" teriakku. Aku mulai bisa tertawa jika sudah mendengar candaan El.
"Ya sudah, Kak. Aku ganti baju dulu, ya? Aku takut Ali dengar pembicaraan kita."
"Loh, emang kamar mandi kamu nggak kedap suara?"
"Nggak tahu, sih. Ya sudah, aku tutup dulu, ya?
"Baiklah. Tetaplah tersenyum, jangan terlihat habis menangis, oke."
__ADS_1
"Oke, Kak. Bye ..."
Aku menyentak nafasku kasar. Ternyata, menceritakan masalah kita ke orang lain memang sangat membantu meringankan beban. Tapi ... harus pandai pilah-pilih teman cerita juga. Karena, jaman sekarang banyak ditemui makhluk yang di depan es krim di belakang belatung.