
Aku melangkah mundur sampai tubuhku kepentok dinding pojok kamar. Belum sampai dia mencium bibirku saja, aku sudah merasa geli dan jijik duluan. Emang sih, dia nggak jelek-jelek amat. Tapi ingat kelakuan dia sama para perempuan yang kasar dan nggak berprikesuamian bikin aku agak ilfil juga.
"Darling, jangan menghindar. Takut jatuh cinta beneran sama aku, ya?" godanya. Serasa mau muntah nih perut denger ocehannya.
"Nggak, Agan. Tapi aku belum terbiasa berciuman dengan seorang kakek. Ups." bodoh sekali, nih mulut emang kaya ember bocor, bablas terus.
Beruntung, kakek Sugiani nggak marah. Dia malah tersenyum smirk. "Aku emang tua. Tapi ingat, tua-tua gini Suami kamu," ucapnya penuh penekanan, dan aku merasakan itu.
"Maaf, Agan. Bolehkah aku meminta waktu sebentar buat gosok gigi? Aku takut mulutku bau." aku pikir, alasanku ini berhasil mencegah perbuatan keji si Kakek Sugiani. Tapi ternyata--
"Aku udah biasa cium yang bau-bau. Apalagi, baunya yang itu. Gairahku semakin memuncak dan ah ... membayangkannya saja udah bikin aku pengen, Darling. Kita itu sekalian aja, yuk!" apa-apaan ini?! Wajahnya bisa tersipu malu dan merah merona lagi.
"Nggak, Agan. Aku nggak mau, aku lagi bocor deras banget. Nggak ah, jijik," kilahku.
"Nggak papa. Udah biasa nyicip yang gituan. Enak, kok. Malah licin-licin geli gimana ... gitu. Sensasinya beda, lebih enak pas lagi bocor."
__ADS_1
"Enggak! Sekali nggak, ya enggak! Kok Agan ngeyel, sih?!" sentakku diiringi tangisan yang aku buat selebay mungkin.
Dan kali ini, jurusku benar-benar berhasil. "Ah, cup, cup, cup, Darling. Maafin Agan, kamu takut, ya?" aku menganggukkan kepalaku, sambil sesekali aku usap air mata buayaku. Takut beneran tapi aku mencoba mengendalikan ketakutanku dengan menangis sejadi-jadinya dengan dalih menolak karena lagi bocor, bukan karena jijik sama dia. Otomatis tubuhku bergetar sendiri, kan?
"Ya udah, kamu istirahat aja, ya? Agan temenin kamu bobo sekarang, ya?" meski ini juga ide yang buruk, tapi nggak seburuk dengan berhubungan intim dengan dia. Jadi, aku menyetujuinya dalam kurung terpaksa.
Aku berbaring di ranjang besarku, dituntun Suamiku. Dia merebahkan kepalaku, dan lalu dia ikut berbaring di sampingku serta memeluk tubuhku dari belakang.
"Aku mencintaimu, Seika. Sungguh, aku mencintaimu. Mencintaimu selama 10 tahun sangat menyiksaku. Jangan pernah bermimpi untuk meninggalkanku," bisiknya. Dan aku baru tersadar, 10 tahun mencintai. Bukan waktu yang sebentar. Bagaimana bisa dan dari mana dia mengenalku selama itu?
Aku memberanikan diri untuk mempertanyakan masalah itu.
"Benarkah itu ceritanya? Aku memang ingat Bapak pernah kerja di sini, tapi aku nggak ingat Agan ngasih aku permen, tuh," ucapku ketus.
"Masa?"
__ADS_1
"Iya, beneran. Aku nggak inget." aku memang nggak ingat sama sekali kejadian itu.
"Mungkin kamu udah pikun kali."
"Kok gitu? Paling Agan yang mengada-adakan cerita." aku mulai risih dengan tangannya yang usil ke mana-mana. Kali ini, tangannya sudah merayap ke bagian atas dadaku. Tubuhku meremang, risih juga. Sontak aku menampar tangannya yang udah kurang ajar. Lagi-lagi, aku berdosa karena menghalangi Suamiku untuk mengambil haknya.
"Kok nampar Agan? Agan nggak ngapa-ngapain loh, Darling ..."
"Bisa diam, kan, tangannya? Aku belum terbiasa, Agan. Kita tuh lagi masa PDKT. Jadi, sabar aja dulu. Kalau udah deket, malah aku yang ngasih tanpa Agan minta tau!"
"Ada acara PDKT segala rupanya. Baiklah ... kita pendekatan dulu biar kaya pemuda jaman now," kekehnya seraya mengusel tengkuk dan bahuku gemas.
"Yang muda tuh aku, kalau Agan udah kadaluarsa," ejekku. Lumayan menghibur juga godain aki-aki mesum ini.
"Seika!"
__ADS_1
Happy Adha Mubarak!
Mohon maaf lahir dan batin🥰