Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Restui Kita


__ADS_3

"Mama ngapain ke rumahku kalau hanya untuk menyakiti Eca?"


"Eca? Panggilan yang begitu cantik, secantik wajahnya. Tapi tak seindah kelakuannya! Kamu jangan dengan mudahnya membawa masuk gadis di rumah ini, Nak. Dia orang lain, malu dilihat tetangga, El!" seru Yunita murka.


"Aku menolongnya, Ma! Dia sedang depresi berat. Dia juga sebatang kara di kota ini," bela El tak terima.


"Depresi? Jadi dia gila? Makin nggak karuan, makin ngaco. Kamu pacaran sama gadis gila?" mata Yunita melotot, emosinya semakin naik ke ubun-ubun. Merasa tak habis pikir dengan kelakuan putra tunggalnya.


"Dia nggak gila, Ma! Dia sudah sembuh. Dia ... dia juga yang menjadi penyelamat Mama waktu Mama hampir dicelakai orang!" terpaksa El mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ia harap kali ini hati Mamanya akan luluh.


"Penyelamat? Maksudnya?"


"Dia itu gadis yang menyelamatkan Mama dari tragedi kecelakaan sepuluh tahun lalu. Dia yang mendorong tubuh Mama supaya terhindar dari mobil itu. Dia kehilangan banyak darah saat itu demi Mama." nafas El memburu, keduanya sama-sama terbalut dalam jeratan api emosi. Juga, El merasa heran dengan Yunita yang begitu mudah menyakiti orang lain. Yunita memiliki watak seperti ayahnya—Budi Suprapto yang angkuh dan keras, namun memiliki hati yang rapuh.

__ADS_1


"Benarkah? Mana buktinya?" tantang Yunita.


"Percuma saja aku jelaskan panjang lebar, kalau hati Mama sudah diliputi rasa benci terhadap Eca. Lagipula kalau misalnya aku jelaskan, itu tak akan merubah rasa benci Mama terhadap kekasihku menjadi restu, kan?" El menatap sinis ibunya.


"Apa-apaan kamu, El? Kok kamu jadi berani ngelawan Mama?!" Yunita mulai menurunkan nada bicaranya satu oktaf.


"Karena Mama tidak menghargai tamuku," ucap El ketus.


"Beri Mama waktu untuk mencerna semuanya. Mama nggak bisa menerima orang lain dengan mudah, Nak. Mama belum tahu asal-usul dia, bibit, bebet, dan bobotnya juga," isak Yunita lemah. El terenyuh melihat wanita yang telah melahirkannya begitu frustasi. Entah apa penyebabnya. Tangan El bergerak merengkuh pundak wanita paruh baya itu, lalu dipeluknya tubuh rapuh itu erat.


"Maafin Mama, Nak. Mama butuh pelampiasan, Mama butuh hiburan, butuh sandaran. Pokoknya Mama itu stres," omel Yunita, yang justru mendatangkan tawa di bibir putranya. "Kok malah ketawa?" tanya Yunita tak terima.


"Mama stres kenapa? Skincare habis? Atau mau punya bayi lagi?" goda El.

__ADS_1


"El ... kamu mau punya adek di usia kamu yang setua ini? Nanti dikira anak kamu, loh," canda Yunita, merasa suasana hatinya mulai membaik.


"Kalau gitu, biar aku yang buatin Mama cucu aja, gimana?" sontak kedua mata Yunita melebar. Tangannya terulur mencubit pinggang putranya sampai terdengar suara rintihan dari bibir buah hatinya yang sudah mulai dewasa.


"Sakit, Ma. Emang, ya, perempuan itu bibir tersenyum tangan berulah. Kenapa, sih, Ma?" decak El sebal.


"Karena kodratnya laki-laki itu menerima, mengalah, dan merasa bersalah," ucap Yunita, dan keduanya tertawa bersama. Suasana tegang berubah menjadi musim semi di mana bunga-bunga indah mekar kembali.


**


Sedang di dalam kamar, Seika tengah asyik bercengkerama dengan Rossa melalui panggilan video. Seika mendapat nomor ponsel Rossa dari Zack. Dan Zack sendiri diminta langsung oleh El untuk mencari tahu keberadaan serta semua data pribadi Rossa. Dan ternyata, Rossa masih setia di Orland Mart.


"Aku kangen kamu, Sei. Gila, nggak ada kamu rasanya hampa," ucap Rossa di seberang sana.

__ADS_1


"Aku juga kangen kamu, Ros. Kapan kita bisa ketemu lagi, ya?" Seika menundukkan wajahnya, sungguh rindunya terhadap kedua sahabatnya begitu besar.


"Sabar, ya. Aku yakin badai pasti akan berlalu. Dan kita bertiga akan kembali bersama."


__ADS_2