
Mendengar perkataan Zack, Ali justru tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya. Tentu Zack dibuat bingung sekaligus waspada.
"Apa yang kau pikirkan, Zack? Kau takut padaku?" tanya Ali, tersenyum smirk. "Katakan pada cucu tak tahu diri itu, aku sudah siap menjemput ajalku. Suruh dia mendatangiku untuk membunuhku," imbuh pria tua itu.
Zack terdiam, ia hanya bisa menatap Ali Suprapto dengan tatapan melas dan tak tega. Namun, Zack tak bisa berbuat apa-apa, karena semua yang terjadi juga berasal dari kelakuan bejat Ali Suprapto sendiri. Akhirnya, Zack meninggalkan Ali suprapto seorang diri.
Seperginya Zack, Ali meninju udara dan berteriak frustasi. "Aaaaakkhh! Sialan! Kapan aku bisa keluar dari sini? Aku ingin melihat Seika, aku merindukan dia. El Barrack sialan!" teriaknya murka.
Ya, Ali masih menyimpan cinta yang begitu besar untuk Seika Annahita. Sayangnya, cinta itu bertepuk sebelah tangan. Karena cintanya, kesayangannya, telah direbut oleh cucunya sendiri. Sungguh hukum karma benar adanya. Manusia akan menuai hasil dari perbuatannya. Jika yang ditanam adalah kebaikan, maka yang dituai adalah kebaikan pula. Jika yang ditanam adalah keburukan, maka yang dituai adalah keburukan pula.
Percayalah, apa yang kau tanam itulah yang akan kau tuai. Berbuat baiklah, maka kalian akan mendapatkan hal yang baik pula. Jika ada manusia yag berbuat buruk, tapi dia selalu mendapat kenikmatan yang tiada tara, maka sesunggunya Tuhan telah membencinya. Ingatlah, dunia ini adalah ujian. Kaya, miskin, good looking, bad looking, pintar, ataupun bodoh, itu semua adalah ujian dari Tuhan. Jangan sampai kita tergolong manusia yang dibenci Tuhan dan dibiarkan terlantar di jalanan.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan yang tengah dialami oleh Ali Suprapto, dia tengah dihujani karma walupun belum seberapa dengan penderitaan para korbannya.
Sedang di tempat lain, El Barrack dan Seika baru saja sampai di rumahnya. Dengan senyum kebahagiaan yang tak surut, El menggenggam erat tangan Seika dan mereka masuk ke dalam rumah dengan hati berbunga.
"Sayang, istirahatlah," bisik El Barrack, sambil mengecup mesra hidung bangir Seika.
Seika tersipu malu, gadis itu meyembunyikan wajah malunya di dada bidang El Barrcak, sangat manja. "Kakak jangan bikin aku panas terus, dong! Aku malu," katanya.
Namun, tawa mereka terhenti saat terdengar suara pintu terbuka. El Barrcak sangat yakin, jika pintunya telah terkunci otomatis. Dan tak mungkin orang lain tahu. El mengambil senjata terlebih dahulu untuk berjag. Ia yakin, tak mungkin ada orang lain yag bisa mnerobos masuk ke rumahnya.
"Sayang, kamu masuklh ke kamar. Kunci pintunya, oke," ucap El Barrack, sambil meninggalkan kecupan mesra di dahi Seika.
__ADS_1
"Tidak, Kak. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu. Jika memang orang itu berniat membunuh kamu, maka kita harus mati bersama," jawab Seika. El Barrack menatap tajam Seika, namun Seika tak gentar. Dia kekeh akan menemani El Barrack apapun yang terjadi.
"Baiklah ... tapi, kamu harus selalu di belakangku. Jika nanti sesuatu terjadi, kamu harus lari lebih dulu sejauh mungkin, mengerti?" tanya Seika mewanti-wanti. Seika mengangguk menanggapi.
Akhirnya, mereka melangkah dengan hati-hati menuju ruang utama. Seika merasa ketakutan luar biasa. Namun, Seika harus bisa menemani El Barrack bagaimanapun caranya dan apapun kondisinya. Karena selama ini yang banyak berkorban adalah El Barrack. Sedangkan Seika merasa dirinya hanyalah beban bagi El Barrack.
"Diamlah dan jangan panik, paham?" El Barrack meremas lembut tangan dingin Seika.
Sesampainya di ruang utama, El Barrack melihat ada sosok laki-laki bertubuh tegap menghadap ke pintu keluar. Tingginya hampir sama dengan El Barrack, hanya saja tubuhnya sangat kekar.
"Aku telah peringatkan, jangan berhubungan dengan perempuan itu!"
__ADS_1