Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Perdebatan Konyol


__ADS_3

Aku masih menatap makam Maya sendu. Rasa bersalahku masih bergelayut manja di lubuk hatiku. Bibir ini tak berhenti berucap kata maaf meski yang ku ajak bicara hanyalah sebuah batu nisan.


El merangkul pundakku, dia sangat pengertian. Memberiku ruang untuk berbicara dengan makam Maya agak lama.


"Maafkan aku, May. Andai aku tak nekat waktu itu, andai aku menuruti permintaan Ali, andai aku--"


"Cukup, Ca. Apa yang kamu katakan ini, hah? Berpikirlah dengan logis. Apa yang terjadi dengan Maya itu takdir yang Tuhan tetapkan untuknya. Lagi, seandainya kamu menuruti permintaan Ali, apa kamu bisa menjamin Maya tetap selamat?" El Barrack mengecup keningku lama. "Sekarang, kita harus segera melanjutkan perjalanan sebelum keberadaan kita diketahui orang-orang Ali." aku mengangguk patuh, lalu dengan sisa tenaga yang ada, aku membawa tubuhku berdiri dengan bantuan El.


"Aku pergi dulu, ya? Lain kali, aku pasti ke sini. Sekali lagi, maafkan aku atas kebodohanku. Maafkan aku." aku mengusap air mataku. Dan segera, aku beranjak pergi meninggalkan pemakaman penuh bunga itu.


**


Selama dalam perjalanan, aku tak bisa mengembangkan senyumku lagi. Pikiranku kosong, hati dan jiwaku rapuh. Lagi-lagi aku menyebabkan orang lain kehilangan nyawa mereka. Padahal, El Barrack sudah berusaha membuka topik pembicaraan supaya perhatianku teralihkan. Tapi sayangnya, aku sama sekali tak tertarik.


Aku tetap dengan diamku, sakitku, dan sejuta sesalku. Air mata ini tak dapat lagi berkumpul di pelupuk mata. Jatuh luruh mengiringi sejuta penyesalan yang tengah ku rasa.

__ADS_1


"Penyesalan itu memang akan hadir belakangan. Tapi, penyesalan juga tak akan merubah sesuatu yang sudah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Kita hanya mampu merubah apa yang harus dirubah, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. Jangan jatuh di lubang yang sama, karena kita pantas disebut bodoh jika sampai itu terjadi. Ingat, masa depan itu kita yang menentukan. Sedangkan penyesalan hanya akan membawa kita ke lubang hitam dan terhambat masuk ke indahnya masa depan." papar El Barrack panjang lebar.


Aku terdiam.


Benar ...


Aku tak boleh terjebak dengan masa lalu. Aku harus terus melangkah ke depan. Bukankah masa lalu itu harusnya menjadi sebuah kenangan?


Tapi, sesak sekali jika mengingat perjalananku yang terjal dan berlubang. Apalagi, saat ini posisiku bukan gadis lajang atau gadis jomlo lagi. Melainkan perempuan bersuami dan sudah memiliki hak serta kewajiban sendiri.


Itu yang membuat otakku terus terganggu. Aku ingin segera bebas, meski harus menyandang status sebagai seorang janda. Tapi setidaknya itu lebih baik. Aku tak mungkin terus menyatu dengan Ali Suprapto, aku tak mungkin menuruti hawa nafsu memperbudak miliknya yang tak bisa dikendalikan.


"Mereka ada yang sama denganmu, ada yang memang murahan, dan ada yang memang mencintai Ali, Ca. Mungkin, kita bisa menolong mereka. Tapi apa mereka mau mengikuti jalan yang kita buat?" tanya El, ada benarnya juga. Karena selama ini, yang baik denganku cuma Mbak Mira dan Mbak Neneng saja. Dua lainnya cuek dan tak mau tahu denganku.


"Sebelum kita coba, kita nggak akan tahu hasilnya, Kak," balasku.

__ADS_1


"Baik, tapi sekarang kita harus sampai ke Vila Gunung Sumbing dulu. Baru nanti kita pikirkan urusan lainnya." aku mengangguk, dan menggenggam tangan kiri El yang sedang bertengger di pahaku. El tersenyum, lalu membawa tanganku ke bibirnya dan dikecupnya.


Aku tersipu, aku yakin wajahku pasti merona malu. Jantung ini selalu berdebar kencang saat momen sweet ini berlangsung.


"Udah bersuami, dikecup gini aja udah salting," goda El padaku, sembari menampilkan senyumnya yang menawan.


"Memang kenapa kalau aku malu? Cuma orang gila yang nggak punya malu, termasuk kamu." aku menjulurkan lidahku, senang bisa membalas ejekan El.


"Nggak pa-pa orang gila. Toh, kamu juga tergila-gila padaku, bukan?" aku mengerucutkan bibirku. Lelaki ini memang paling bisa memelintir perkataan orang.


"Nggak ada yang tergila-gila. Kamunya aja yang terobsesi macarin aku, sampai dah tahu bersuami aja masih aja diembat," kekehku, kali ini dia pasti kena mental. Tapi, wajahnya kok biasa aja.


"Kamunya mau. Gimana, dong?"


"Kamu ngejar mulu, gimana juga?"

__ADS_1


"Nikah aja, yuk!"


Baru aku bisa merapatkan bibirku. Aku yang kena mental ini ...


__ADS_2