Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Rindu Sahabatku


__ADS_3

Aku tak tahan dengan suara bising di luar. Takut sekaligus penasaran. Seperti ada pertunjukan kuda lumping di desa tetangga, ingin rasa menonton, tapi kondisi kantong selalu bolong. Jadi, cuma bisa dengar musiknya tanpa bisa lihat pertunjukannya.


Aku mengalihkan perhatianku dengan berkomunikasi dengan Rosa melalui video call. Tanpa menunggu lama panggilan pun terhubung. Tampak wajah Rosa yang agak mirip bule muncul di layar ponselku.


"Hai, Bestie? Lu kenapa? Kaya lagi di rumah sakit, ya?" Rosa menyipitkan matanya.


"Ya, aku hampir bunuh diri kemarin, Ros."


"What?! What are you doing, Sei?!" suara Rosa terdengar melengking dan hampir membuat speaker ponselku pecah.

__ADS_1


"Aku nggak tahan sama kelakuan dia yang suka asal nyiksa perempuan, Rose. Aku perempuan juga, aku nggak rela kalau harga diriku tercabik-cabik diperbudak pria tua itu."


"Tapi lu Istrinya, coy. Sadar diri napa?" aku nggak bisa marah begitu saja mendengar pertanyaan Rosa, karena memang apa yang Rosa katakan benar adanya.


"Ya, aku memang Istrinya, Ros. Tapi aku butuh waktu buat menyesuaikan diri juga. Aku udah ngasih kesempatan supaya kita pendekatan dulu. Tapi nyatanya, dia melanggar dan main paksa gitu aja. Aku ngerasa kaya mau diperk*sa, Ros!"


"Ya, gua paham isi hati lu, Sei. Gua aja pasti nggak bakalan sanggup nikah sama aki-aki bau tanah kaya Ali Suparti itu. Tapi kenapa lu sampai mau bunuh diri?" sudah ku duga, dia pasti akan bertanya sedetail mungkin. Katanya, jangan ada dusta dan rahasia di antara kita.


"Gila ... ini gila, Sei. Cerai aja, deh, lu! Jangan terusin lagi pernikahan gila itu," sungut Rosa turut emosi mendengar ceritaku.

__ADS_1


"Tapi kontrakku satu tahun, Ros. Kamu tahu sendiri apa konsekuensinya kalau aku mundur di tengah jalan. Aku mana ada duit segitu?" aku mengusap air mataku pelan, lalu tersenyum di depan layar ponselku.


"Gua bantu cari duitnya aja, ya, Sei? Gua mana tega lu digituin sama laki lu. Pokoknya, gua bakal berusaha buat bebasin lu." aku terenyuh mendengar pernyataan Rosa. Meskipun dia bule antik, tapi dia yang selalu ada untukku baik suka maupun dukaku.


"Ros ... aku hargai ketulusan kamu. Tapi aku nggak mau kamu terseret dalam masalah yang aku buat sendiri. Biar aku yang menanggung masalahku, oke. Kamu cukup bantu aku dengan do'a, tapi kalau mau nraktir bakso aci kuah kikil ya ... dengan senang hati." aku nyengir kuda, aku harus berusaha memperlihatkan sisi kebahagiaanku. Supaya Ros tak terlalu mencemaskanku.


"Kalau itu, sih, gua nggak janji, Sei. Lu, kan, susah keluar rumah. Secara lu pan istri milyarder tingkat sultan bandara sejagat raya, Sei," kekeh Rosa. Ini anak emang paling jago ngelawak. Aku tertawa mendengar celotehan Rosa yang nggak ada habisnya.


Sejam, dua jam, tak terasa tiga jam berlalu. Rosa tak lelah menemaniku ngobrol di kamar mewahku meski hanya lewat video call. Aku bahkan baru sadar tak mendengar suara tembakan-tembakan itu lagi. Sambil bekerja, dia berusaha membuat candaan yang membuatku tak berhenti tertawa.

__ADS_1


Hingga panggilan terputus, tawaku tak hilang begitu saja. Rosa ... aku merindukannya. Aku harap, kita bisa segera bertemu lagi. Kita bertiga bisa kumpul lagi. Aku, Mayang, dan kamu. Supaya kita bisa ngerjain ibu kos lagi, bisa jajan nasi goreng setengah porsi lagi, bisa lulur-luluran lagi.


Ya, aku rindu kebebasanku. Jika boleh mengulang waktu, tak akan pernah aku injakkan kakiku di gudang sembako Ali Suprapto yang membawa petaka terbesar dalam hidupku. Tak akan pernah aku berteman dengan orang yang jelas-jelas urak-urakan dan minim akhlak seperti "dia". Mengingatnya membuat perutku mual dan otakku kembali berkelana ke dalam masa lalu yang membuatku menyesal seumur hidup.


__ADS_2