Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Sindiran Pedas Seika


__ADS_3

Sejak kejadian pemukulan mbak Neneng, aku semakin menjaga jarak dengan Ali Suprapto. Aku menjauhinya, bahkan menghindari kontak mata dengannya. Seperti pagi ini, aku yang sibuk dengan bahan-bahan brownies di lantai satu, pura-pura tak lihat saat pria 55 tahun itu berjalan di depanku.


Dan ini sudah hari kedua aksi diam ku berlangsung. Anehnya, aku tak melihat Mayang sama sekali. Akses ke lantai tujuh ditutup sehingga mustahil untukku mengunjunginya. Aku cuma ke lantai enam untuk menengok Maya serta merawatnya.


Brownies yang aku buat ini juga untuknya. Entah mengapa, aku merasa senang saat melihat mulutnya mengunyah hasil masakan aku. Dia tak pernah menolak apapun yang aku suapkan ke mulutnya. Dia juga sudah bisa tersenyum saat aku ajak dia berceloteh ria.


Meski tatapan matanya masih saja kosong. Tapi setidaknya, ini lebih baik daripada saat aku lihat dia kemarin.


"Ehem!" Ali pura-pura berdehem sembari melipat kedua tangannya di atas bar, di mana aku sedang mengocok adonan kue di sana menggunakan mixer.


"Sendirian aja, Neng?" suara pria tua itu sangat membosankan. Muak sekali aku dengan dia.


"Kok diam? Masih marah? Apa lagi butuh sentuhan Agan, nih?" godanya, sekilas aku lihat bibirnya tersenyum mesum menatapku. Tapi aku masih bergeming.

__ADS_1


"Oh, ayolah, Darling. Jangan diamkan aku begini. Nggak bisa aku, ih," rengeknya manja. Lucu juga, tapi aku masih tetap bergeming. Malas mengeluarkan suara untuknya.


"Seika!" teriak mbak Mira yang berlari mendekatiku dengan senyum sumringah.


"Kenapa, Mbak?" tanyaku heran. Tak biasanya mbak Mira tersenyum secerah mentari seperti ini.


"Adek, nanti aku boleh cobain browniesnya, ya? Boleh?" hmmm ... ternyata ada semut di balik permen. "Boleh, kalau gitu Mbak duduk dulu di situ. Temenin aku bikin kuenya, ya?" balasku ramah.


"Oke, Adek yang paling baik." dia segera bergegas ke meja makan sembari bermain ponsel. Meski tetap dibatasi, tapi bagi kami para kaum istri bersyukur masih tetap diberi kebebasan bermain ponsel. Semua aktivitas kami di dunia maya diawasi ketat oleh hacker Ali Suprapto.


Ali berdecak kesal melihatku merespon baik kedatangan mbak Mira, tapi tidak dengan kedatangannya.


"Oke, Agan minta maaf, oke. Jangan marah terus. Agan nggak bisa, Darling," rengeknya. Tapi justru aku malah semakin benci dengan perkataannya.

__ADS_1


"Gitu?" aku menaikkan sebelah alisku. Dan dia mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaanku.


"Siapa yang kamu siksa?" tanyaku sinis.


"Neneng, Darling," jawabnya lirih.


"Minta maafnya ke aku? Usia aja yang tua, otaknya masih kaya anak TK," omelku. Tanpa sadar, aku semakin berani membantah semua aturannya dan semakin bisa melawannya.


"Dia yang salah, Darling." dia masih tak terima disalahkan kalau begini.


"Mau aku atau siapapun yang salah, mau seberapa besar salah kami, kalau kamu masih pakai acara kekerasan, yang ada kamu yang disalahkan, Ali Suprapto!" aku menghentikan aksi mixerku, lalu menatap pria tua di depanku tajam.


"Aku sudah bilang, bukan? Kalau kamu masih ingin bermain kasar dengan wanita, bunuh aku lebih dulu, Agan. Kita bukan boneka, kita bukan robot. Kita manusia yang sama-sama punya hati, perasaan, dan logika. Tapi sayangnya, dari ketiganya itu kamu nggak punya. Logika, hati, dan perasaan kamu kalah dengan dua ilmu hitam dalam tubuh kamu. Yaitu, ego dan obsesi. Memalukan!" aku menekankan setiap perkataanku. Mbak Mira menggelengkan kepalanya kode peringatan, tapi aku acuh.

__ADS_1


"Tapi aku cuma mau mereka memuaskan aku, Darling," elaknya. Aku menggelengkan kepalaku pelan, tak menyangka dengan jawaban frontalnya.


"Pergi ke Bandun*an, Sem*rang. Kamu akan mendapat kepuasan di sana. Daripada di rumah jadi pengecut, mending ke sana. Iya, kan?"


__ADS_2