Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Benteng Yang Roboh


__ADS_3

Aku memilih duduk di ayunan yang berada di balkon kamar El. Menikmati suasana pegunungan yang asri, mendengar nyanyian pohon cemara. Damai tapi bertolak belakang dengan suasana hatiku saat ini. Aku merasa perih jika memutar kembali memori-memori saat El membentakku atau saat dia mengataiku dengan kata-kata pedas.


Aku menghirup nafas dalam, lalu aku keluarkan perlahan. Lumayan, sesak yang sempat menekan dada sedikit kendur. Hanya saja, air mata yang mendesak ingin keluar tak mampu ku tahan. Menetes dari satu dan semakin lama semakin deras.


Aku menyeka air mataku dengan ibu jariku. Terlalu lebay rasanya kalau baru pacaran sudah seperti ini. Aku harus menampilkan sisi tangguhku. Demi bapak dan Ninda!


Dan saat aku hendak masuk ke kamar itu lagi, aku menabrak seseorang. Aroma yang familiar di hidungku. Ya, El Barrack. Entah sejak kapan dia datangnya. Tapi yang jelas, berhadapan dengannya hanya menambah luka di hati ini semakin menganga. Apalagi melihat tatapan matanya yang sering berubah-ubah.


"Menangis dalam diam merupakan salah satu cara seorang wanita meluapkan emosi yang tertahan," ucap El santai.


"Oh ya? Sejak kapan pekerjaan kamu berubah jadi sok tahu dan sok bijaksana?" tanyaku dengan santai pula, biar terlihat elegan di mata El.


"Sejak kamu hadir dalam hidupku, dan menjadi hantu dalam tidurku." aku tahu El tengah menggodaku. Entahlah, semakin ke sini sikapnya sering susah ditebak.


"Jika benar aku adalah hantu dalam tidurmu, kenapa tak kau lupakan semua hal yang berbau hantu? Misalnya, sesajen atau kuburan mungkin." aku menampilkan senyum tipisku, meski mataku masih belum mampu menatap langsung wajah El Barrack.

__ADS_1


"Hantu itu terlalu cantik dan terlalu sayang untuk aku lupakan. Biarlah dia hadir dalam setiap kedip mataku. Asal kamu tahu, hanya dengan melihatnya saja, aku merasa beruntung karena telah dipertemukan oleh hantu secantik kamu," ucap El lembut, dia menatapku intens. Tapi aku masih enggan menatapnya. Benteng ini harus kokoh, tak boleh roboh hanya karena dihujani rayuan palsu.


"Lalu, bagaimana jika hantu itu tak lagi mengagumimu dan tak mau lagi hadir dalam mimpimu?" aku memberanikan diri menatap wajah tampan El. Aku meneguk saliva kasar saat melihat langsung jakunnya yang menonjol dan bergerak naik turun.


"Aku akan berusaha mencari cara untuk menghadirkannya kembali, meski harus bermain jaelangkung sekalipun," bisik El, seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Oleh karena itu, aku melangkahkan kakiku ke belakang untuk menghindari akhir dari adegan itu.


"Ca, sebenarnya ada apa sama kamu? Kenapa sejak sampai di sini, kamu beda?" tanya El, agak kesal sepertinya.


"Aku hanya belum mood aja. Maafin aku," ucapku, dan aku beranjak melangkahkan kakiku masuk ke kamar. Tapi El menahan lenganku, lalu membawa tubuhku ke pelukannya.


"Katakan, apa salahku? Apa karena kata-kataku tadi?" aku bergeming tak berniat menanggapi. "Katakan, Ca? Apa kamu sakit hati atas ucapanku tadi? Kalau iya, maafkan aku," imbuhnya lagi.


"Iya apa? Jangan bikin aku hilang kesabaran, Ca," ucap El, dan kali ini penuh penekanan.


"Silahkan! Silahkan marahi aku! Aku udah biasa, Kak. Aku udah biasa sama sikap kamu yang berubah-ubah. Aku udah biasa sama kata-kata kasar kamu. Aku udah biasa sama siksaan apapun!" seruku, mulai hilang kendali.

__ADS_1


El nampak diam dan menatapku semakin dalam. Aku salah tingkah, tapi mulutku sudah terlanjur mengeluarkan uneg-uneg yang menumpuk di dalam sana.


Aku dan El saling diam hingga beberapa waktu. Sampai akhirnya, El menghela nafasnya kasar lalu menarik tanganku dan membawaku ke dalam kamar. Dia menghempaskan tubuhku ke ranjangnya. Aku bergetar ketakutan, aku berpikir mungkin aku akan disiksa, ditampar, atau dihajar. Tapi ternyata, dia mengukung tubuhku yang terlentang di ranjang.


"Sebenarnya aku membawamu kemari untuk berpamitan. Karena malam ini, aku harus kembali ke Jakarta. Tapi malah ada kejutan dari kamu. Sepertinya, ada yang harus aku tuntaskan di sini sebelum aku kembali nanti," kata El, lalu dia mencium dahiku lama.


"Maaf jika selama ini aku sering marah-marah nggak jelas sama kamu. Maaf jika selama ini aku sering berlaku kasar ke kamu. Maafin aku, Sayang. Aku nggak nyangka kalau kamu yang selalu nurutin semua kata-kata aku, ternyata tengah terluka batinnya akibat ulahku sendiri."


"Kak, kamu berat," ucapku, berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Please, Ca. Jangan menghindar terus. Kita selesaikan ini baik-baik, ya? Aku nggak mau cinta kamu ke aku berkurang hanya karena kita minim komunikasi," bisik El, lalu mengecup hidungku. Aku tersipu, wajahku terasa panas mendapat perlakuan semanis ini.


"Aku merasa tak pantas berada di sisimu, Kak. Aku ini orang biasa, miskin pula. Sarjana bukan, konglomerat bukan, aku cuma seorang budak. Aku terlalu berani menerima cinta kamu yang seluas samudera. Sikap kamu ke aku selama ini sudah sangat baik, akunya yang terlalu sensi. Aku terlalu egois mengharapkan kamu selalu manis, padahal aku belum pernah ngasih apapun buat kamu selain masalah," paparku, dan tampak El menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu mengukur cinta hanya dari segi harta dan tahta saja? Jika iya, maka itu salah." El merubah posisinya menjadi berbaring di sampingku dan memelukku.

__ADS_1


"Cinta itu pengorbanan, ketulusan, melindungi, menghargai, dan mengasihi. Cinta itu nggak kenal logika karena, dia berasal dari hati. Jadi, jangan berpikir aku dan kamu itu beda kasta. Cinta akan menyatukan kita. Aku janji, aku akan memperbaiki kesalahan-kesalahan aku. Jangan kurangi kadar cinta kamu ke aku, meskipun hanya 0,1% saja. Maafkan aku, ya?" dengan bodohnya aku mengangguk patuh, lalu melupakan pendirianku yang ingin membangun benteng Takeshi.


Tapi, bisakah El menepati janjinya untuk tak melakukan kesalahan-kesalahan itu lagi?


__ADS_2