Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Nina?


__ADS_3

Aku diboyong El Barrack ke hotel Kintamani yang berada di sekitar terminal Tanah Abang. Tapi sebelum masuk ke dalam kamar hotel, aku lebih dulu diajak El makan di restauran yang berada di lantai satu hotel tersebut.


Dan di sinilah aku berada. Duduk berhadapan dengan El Barrack dengan berbagai macam menu dihidangkan. Rasa lapar membuat air liurku serasa encer dan seperti hendak keluar dari kolamnya. Aku segera melahap makanan yang ada di depanku tanpa ampun.


"Pelan-pelan makannya, Ca. Nggak ada yang mau rebut, kok," tegur El lembut, seraya mengelap ujung bibirku yang tertempel sisa makanan. "Nih, sampai belepotan gini, Bocah," imbuhnya lagi. Seketika mataku melotot mendengar kata "bocah" dari mulutnya.


"Enak aja bocah. Aku udah gede, udah mau masuk dua puluh satu tahun, tau!" sergahku tak terima.


"Iya, kamu itu bidadariku. Bidadari paling cantik di dunia, gitu?" El menaikkan sebelah alisnya, sedangkan aku mengerucutkan bibirku kesal.


"Masa iya harus diprotes dulu baru mau sebut aku bidadari?" protesku tak terima, meski dalam hati tengah berbunga-bunga.


"Sudah ngomongnya, sekarang makan dulu. Habisin, biar cepet gendut, cepet gede, cepet punya dede bayi," candanya dengan tawa yang selalu berhasil menghipnotis setiap jiwa para wanita.


"Terusin sepuasnya, sak bahagiamu." El tergelak mendengar ucapanku. Saat mulutku hendak terbuka untuk mengeluarkan aksi protes lagi, mataku tertuju pada seorang anak kecil yang berdiri di samping pintu restauran. Aku menghentikan semua kegiatanku, tak lupa aku juga meletakkan sendok ke piringnya lagi.


"Kenapa?" tanya El heran. El mengikuti arah pandangku, lalu menyentuh punggung tanganku. "Apa yang kamu pikirkan tentang dia?" tanyanya.


"Apakah dia kelaparan? Apa dia tak punya keluarga?" tanyaku lirih. Perlahan, aku berdiri dan melangkahkan kakiku menuju tempat anak itu berdiri.


"Hai, Dek?" aku berjongkok untuk mensejajarkan tinggiku dengannya. "Apa kamu lapar?" tanyaku lagi, dan anak itu mengangguk lemah.

__ADS_1


"Mau makan?" tanyaku lagi, dan dia mengangguk meski terlihat ragu.


"Tenang, aku orang baik, kok. Masuk, yuk!" aku merentangkan tanganku dan dia menyambut dengan suka cita. Ya, aku menggendongnya lalu ku bawa dia ke tempat dudukku. El tersenyum teduh melihatku yang sedang menggendong anak perempuan itu.


"Kamu duduk dulu di sini, aku akan pesankan makanan untukmu, oke," ujarku tersenyum lebar, dan lagi-lagi dia hanya menjawab dengan anggukan lemah. Aku memesankan ayam bakar dan cah sawi untuknya. Sambil menunggu makanan datang, aku terus mengamati penampilan anak perempuan malang itu.


"Namamu siapa, Dek?" tanyaku lembut.


"Nina," jawabnya lirih.


"Oke, Nina. Rumah kamu di mana? Lalu, di mana orang tua kamu?" tanyaku lagi, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Enam tahun." oh Tuhan ... anak sekecil ini sudah dibiarkan terlantar di jalanan dan sudah dipaksa mencari makan sendiri? Dunia terlalu kejam untuk anak seumuran Nina.


"Lalu, selama ini kamu tinggal di mana?" kali ini, El yang bertanya.


"Aku suka tidur di sana." dia mengacungkan jarinya ke sebuah bangunan kecil yang bertuliskan POS POLISI. Bagai disambar petir di siang bolong mendengar cerita Nina. Bagaimana bisa dia kuat menjalani hidupnya yang sebatang kara tanpa sanak saudara? Bagaimana caranya dia mencari makan setiap harinya? Air mata tak lagi dapat ku bendung, tumpah ruah seperti turut merasakan kepedihan yang selama ini Nina rasakan.


"Kalau gitu, Nina mau nggak tinggal sama Kakak?" aku menatap El tak menyangka. Ternyata hati nuraninya sangat bekerja. Antara terkejut, haru, dan tak menyangka. Sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Tapi Kakak bukan orang jahat, kan? Soalnya, aku sering bertemu sama orang jahat nawarin aku tinggal sama mereka. Tapi aku nggak mau," celotehnya. Aku dan El saling beradu pandang. Tak heran di kota besar seperti Jakarta masih banyak aksi penculikan anak dengan modus diiming-imingi berbagai macam alasan yang disukai anak-anak.

__ADS_1


"Apa aku terlihat seperti orang jahat?" tanya El sedikit ketus. Nina menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu, kamu mau ya tinggal di rumah kakak ini?" tanyaku lagi. Dia mengangguk, dan sekilas aku melihat ada binar kebahagiaan di matanya.


"Anak baik. Kamu akan aku sekolahkan di sekolahan paling bagus di kota ini. Maka, jadilah adikku dan adik untuk calon istriku." El mengarahkan matanya ke arahku, sontak pipiku bersemu merah karena malu dan bahagia luar biasa diakui calon istri oleh pria yang begitu aku cintai. Meski begitu, aku nggak mau terlalu bahagia untuk saat ini. Karena aku takut ada lubang kekecewaan yang dalam di depan sana.


"Kakak mukanya mirip orang jahat yang selalu nemuin aku, loh," kata Nina, yang berhasil membuyarkan lamunanku. Aku menaikkan sebelah alisku.


"Siapa?" tanyaku, seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bukankah biasanya anak kecil selalu berkata jujur?


"Namanya Risha. Dia itu selalu aja nyuruh aku minta uang sama orang, tapi kalau dapet uang, akunya nggak dikasih."


Mataku dan mata El saling bersirobok. Risha? Dia masih hidup? Aku menangkap sirat kemarahan di mata El Barrack, tapi dia mencoba menyembunyikan kemarahan itu. Aku tak tahu maksud dari kemarahan itu apa, tapi yang jelas .. aku masih menaruh dendam di hati ini jika mengingat kejadian-kejadian pahit di masa lalu karena ulahnya. Aku mencoba menguasai keadaan, beruntung seorang pelayan datang dengan membawa makanan yang aku pesankan untuk Nina. Gegas, anak itu mengeksekusi makanan dengan begitu lahap.


Ya ... terkadang, kita harus diuji dengan kejadian-kejadian yang menyakitkan. Seperti dicaci, dihina, difitnah, diolok-olok, diremehkan. dilecehkan, dan lain sebagainya. Baru, kita akan menjadi orang 'mahal' karena kita berhasil melewati kejadian gila itu.


Jadi, buat kalian yang baru mengalami kejadian-kejadian itu. Jangan putus asa, jangan kasih kendor. Kobarkan semangatmu, kibarkan bendera perjuanganmu! Kamu belum kalah, kamu baru mengalah. Terus maju dan tunjukkan kalau kamu nggak lemah dan nggak mudah diinjak! Buktikan bahwa kamu hebat dengan prestasimu!


Ingat!


Harga diri itu MAHAL! Jangan kotori mulut kalian untuk menggunjing atau menyerang balik mereka. Pasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta! Perbaiki diri dan dekatkan diri kepada-Nya. Maka, semua akan indah pada waktunya 😊

__ADS_1


__ADS_2