Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Mayang vs Yunita


__ADS_3

"Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya, Mayang?!" tanya Nyonya Yunita Eclair penuh penekanan.


"S-saya ... saya karyawan Orland Mart, Nyonya," jawab Mayang, tangannya gemetar ketakutan. Antara gugup, cemas, takut menjadi satu.


"Bohong! Kalau memang kamu hanya karyawan biasa di sana, kenapa Suamiku sampai rela menghabiskan ratusan juta buat kamu, hah?!" sentak wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang mendekati kepala lima.


"Sungguh, Nyonya. Saya hanya karyawan biasa," elak Mayang, nyalinya semakin menciut ketika melihat tatapan tajam wanita di depannya.


"Oh, jangan-jangan ... kamu simpanan Suamiku, hah?! Atau kalau tidak, kamu anak selingkuhan Suamiku, iya?! Jawab, Mayang!" sentak Nyonya Yunita, tangannya mencubit lengan Mayang hingga membuat si empunya meringis menahan sakit.


Ya, Yunita Eclair dan Mayang yang dikabarkan hilang diculik Ali Suprapto sebenarnya itu adalah salah paham. Karena nyatanya, Yunita lah yang menculik Mayang.


Saat itu, Yunita iseng membersihkan ruang kerja suaminya. Namun, ketika tangannya bergerak merapikan beberapa berkas yang berada di atas mejanya, selembar kertas putih jatuh ke lantai. Karena penasaran, Yunita pun mengambil kertas itu dan membacanya.


Bola matanya bergerak meneliti inci demi inci huruf dan angka yang tertera di sana. Pupil matanya semakin membesar, terkejut dan tak percaya tentunya. Bagaimana bisa suaminya mentransfer sejumlah uang ke rekening karyawan tokonya sendiri? Rutin setiap bulan dan dalam jumlah yang tidak sedikit, pasti ada udang di balik batu, pikirnya saat itu.

__ADS_1


Emosi tak terkendali, curiga melanda hati, akhirnya gelap mata menguasai. Dengan mengendari mobil sendiri, Yunita pergi menuju tempat Mayang berada yaitu, Orland Mart.


Sesampainya di Orland Mart, Yunita baru tahu kalau ternyata Mayang tak lagi bekerja di sana. Semakin bertambah amarah di hatinya. Kecurigaannya semakin menguat.


"Awas kamu, Pa. Kalau sampai aku tahu kamu ada main sama wanita lain, aku lebih baik mati," gerutu Yunita, tatapannya tajam menatap jalanan padat khas kota Jakarta.


Yunita merogoh ponselnya, lalu menelepon seseorang.


"Hallo, In. Selidiki keberadaan Mayang, sekarang," ucapnya kepada seseorang di seberang sana.


"Bodoh! Mayang karyawan Orland Mart itu. Bentar, aku kirim fotonya. Pokoknya, aku mau infonya sekarang."


"Pucuk dicinta, ulampun tiba. Kena kamu, Mayang." Yunita segera menepikan mobilnya.


Mayang yang saat itu tengah berjalan santai dan hendak menikmati kopi seraya cuci mata melihat para barista, sedikit terkejut melihat mobil yang tak asing berhenti di depannya. Jantungnya berdebar semakin kencang tatkala pemilik mobil membuka pintu dan menampakkan kaki jenjangnya.

__ADS_1


"Nyonya Yunita .." sapa Mayang ramah, meski detak jantung berpacu tak normal.


"Masuk mobil!" titah Yunita tegas.


Mayang meneguk saliva kasar, dengan penuh keterpaksaan dan kecemasan, Mayang pun memasuki mobil mewah itu.


Selama dalam perjalanan, tak ada percakapan sepatah katapun dari mulut keduanya. Saling bungkam dan tegang. Mayang meremas ujung kaos oblongnya erat, telapak tangannya basah oleh keringat.


Ingin berteriak minta tolong, itu ide yang konyol. Hendak menghubungi kakak laki-lakinya, ponsel tak dibawa. Alhasil, dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Berharap, tak ada hal buruk nantinya.


Singkat cerita, Mayang dan Yunita telah sampai di sebuah rumah kecil dan sederhana. Tampak terawat terlihat dari halaman rumah yang nampak asri dan bersih.


"Keluar!" Mayang mengangguk patuh. Jantungnya berdetak semakin kencang. Langkah kakinya terasa ditimpa beban yang sangat berat. Tapi dia harus maju, sekarang atau nanti hasilnya pasti tetap sama, pikirnya.


Mayang dan Yunita bersama-sama memasuki rumah kecil yang Mayang tak tahu siapa pemiliknya. Rumah itu terletak di pinggiran kota yang jarang dikunjungi manusia. Hanya ada beberapa rumah di kawasan itu.

__ADS_1


Duduk berhadapan saling tatap dalam diam. Suasana terasa mencekam padahal tak ada hantu di sekitar mereka.


"Jelaskan ini!" Yunita mengeluarkan selembar kertas yang ia temukan di ruang kerja suaminya.


__ADS_2