
"Di mana orang itu, Pa?"
"Dia di tangan kakakmu."
"Aku tak percaya. Mereka bilang, Papa yang menangkap dia."
"Mereka? Siapa mereka?"
"Para istri dia, Pa. Mereka bilang, suami mereka ada di tangan Papa."
"Apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dia?"
"Menghabisi nyawanya."
"Menghabisi, atau hati kamu memiliki maksud lain?"
Ya, setengah jam yang lalu percakapan itu benar terjadi. Dan kini, Mayang tengah duduk bersandar di tempat yang sama dan bergelut dengan rekaman obrolan antara dirinya dan Orland.
__ADS_1
"Maksud lain? Apa maksud Papa? Aku cuma ingin menghabisi dia saja," gumam Mayang lirih.
"Ehem!" Suara deheman yang berasal dari belakang Mayang, berhasil membuat lamunan gadis itu buyar. "Menyendiri di tempat sepi. Untuk gadis cantik seperti Anda, bukankah ini bahaya?"
"Zack! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Mayang terkejut sekaligus kesal.
"Saya sedang mengantar tuan muda berkencan, Nona. Apa yang Nona lakukan di sini? Dan bersama siapa?" Zack masih setia berdiri mematung di belakang Mayang, matanya menerawang jauh ke danau hijau yang dingin memanjakan mata.
"Aku bersama para pengawal dan beberapa kekasih," sahut Mayang ketus.
"Di dunia ini, ada beberapa orang yang memilih menyendiri di tempat sunyi, merenung, interospeksi diri, atau hanya sekedar mengosongkan pikiran. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang yang tengah memiliki masalah hidup." Zack memasukkan kedua tangannya ke sisi saku celananya, lalu matanya melirik Mayang yang masih terpaku dalam diam.
"Orang yang memiliki kebiasaan seperti ini, biasanya mereka tidak suka berbagi masalah dengan orang lain. Lebih tepatnya, mereka memilih memendam perasaan atau masalah mereka sendiri. Sedangkan memendam masalah bukan hal yang baik. Karena, bisa menyebabkan beberapa penyakit hingga kematian." Mendengar ocehan Zack, kedua mata Mayang melebar. Tanduk di kepalanya mendadak keluar.
"Kamu menyumpahi aku mati, hah?" Mayang berdiri dan berbalik menatap Zack. "Kamu pikir, aku selemah yang kamu bayangkan? No, Zack. Aku sudah terbiasa menghadapi masalahku sendiri." Mayang melangkah mendekati Zack sambil berkacak pinggang. "Cewek kuat sepertiku, tak akan mudah mati hanya karena sebuah masalah kecil," bisik Mayang tepat di telinga kiri Zack.
"Jangan mesum di tempat umum!" Teriak seorang perempuan dari belakang Mayang dan Zack. Keduanya sama-sama terkejut dan langsung saling menjauhkan diri.
__ADS_1
Seika tertawa girang melihat tingkah konyol Mayang dan Zack. Dalam hati, Seika berniat untuk menjodohkan keduanya.
"Simpan niat konyolmu itu," ucap El Barrack tegas.
"Bagaimana kamu tahu aku memiliki niat seperti itu?" Kedua mata Seika menyipit, heran dengan otak El Barrack yang tidak pernah salah menebak.
"Aku terlalu mudah menebak isi kepala anak di bawah umur sepertimu," celetuk El Barrack, yang berhasil mengundang aura mendung di sekitar dua insan yang tengah di mabuk asmara itu.
"Lalu kenapa kamu mau memacari anak di bawah umur? Kamu omes? Oh, Nobita Omes!" Seika memalingkan wajahnya kesal. Tak terima dirinya disebut anak di bawah umur. "Ingat! Di bawah umur gini, nyatanya telah bersuami," imbuhnya lagi.
El terdiam mati kutu, tak beda jauh dengan pasangan lain yang sama-sama tengah menyimak perdebatan El dan Seika.
"Sepertinya, kita di sini tak terlihat oleh mereka," bisik Mayang.
"Benar. Jiwa kejombloan saya meronta-ronta," sahut Zack.
"Kamu duda, kalau kamu lupa," ejek Mayang, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Zack.
__ADS_1