
Tak terasa mentari mulai lelah dan menuju peraduannya. Bulan menyapa malu-malu, pesona jingga merayu-rayu. Aku menatap akhir senja yang memamerkan keindahannya. Rasa haru sekaligus sedih menyeruak relung hatiku.
"Aku ingin sepertimu yang indah pada waktunya ... tapi aku ragu, apakah itu berlaku untukku?" gumamku lirih, seraya menatap lurus ke langit jingga. Perempuan cengeng ini tak pernah absen menangis barang sehari saja. Cukup dua tetes air mata, aku tak ingin berlarut dalam kesedihan. Aku tak ingin air mataku kering karena terlalu banyak air yang aku keluarkan.
Tiba-tiba saja, sepasang tangan kekar melingkar cantik di perutku. Aku acuh, karena aku kira itu tangan El Barrack. Tapi--
"Kau tak merindukanku, Darling?" bisik pemilik tangan itu tepat di telingaku.
Deg!
Aku tak bisa mengendalikan debar jantungku. Tubuhku bergetar hebat, pun disertai keringat dingin yang muncul di pelipisku.
"A-agan?" tanyaku terbata.
"Ya, Darling. Kau tak merindukanku?" tangan pria tua yang saat ini masih sah menjadi suamiku merayap naik ke dadaku. "Aku belum sempat mencicipi ini, udah pergi aja," gerutunya.
"Agan kenapa ke sini?" tanyaku dengan bodohnya. Aku memejamkan mataku erat, tubuhku terasa kaku dan sulit bergerak. Hendak menepis tangan nakal Ali saja tak mampu.
"Kenapa bertanya seperti itu? Kamu istriku, Seika. Is-tri-ku," katanya penuh penekanan.
"Istri yang akan kamu siksa secara perlahan, begitu?" tanyaku sengit. Aku mengerahkan seluruh tenaga untuk berbalik menghadapnya. Wajah menyebalkan itu kembali berhadapan denganku, dan masih tetap sama. "Mau Agan apa menyusulku kemari?" tanyaku lagi.
"Jelas aku ingin menjemputmu pulang, Darling. You are my wife." aku tersentak saat salah satu tangannya menarik pinggangku hingga tak ada jarak di antara aku dan dia. Dapat ku rasakan deru nafasnya yang memburu. Bau alkohol menyengat masuk ke rongga hidungku. Mabuk!
__ADS_1
"Tapi aku nggak mau ikut kamu, Pembunuh!" seruku, dan lalu berusaha lepas dari pelukannya. .
"Lalu mau kamu apa? Kamu mau menikah sama cucuku, begitu?"
Deg!
Apa dia tahu hubungan terlarangku dengan El? tanyaku dalam hati.
"Kenapa? Kaget karena aku tahu hubungan kamu sama Barrack?" Ali tersenyum penuh arti. Perlahan dia berjalan mendekatiku, semakin dekat hingga aku terus melangkah mundur. Aku semakin takut, takut kejadian Maya terulang lagi.
"Aku hidup tersiksa di ruang bawah tanah, kamu malah enak-enakan pacaran sama cucuku! Aku kehilangan sebagian hartaku, kamu malah pergi meninggalkan aku! Aku kurang apa sama kamu, Seika?! Susah payah aku mencoba mengendalikan keinginan untuk menyentuhmu, supaya kamu betah tinggal sama aku. Tapi ini balasan kamu? Kamu malah selingkuh di belakang aku?!" sentak Ali. Aku sangat takut, dia memancarkan api kemarahan yang begitu membara. Dia mencengkeram daguku kuat. Mulutku pun terkunci rapat.
"Aku sungguh mencintai kamu, makanya aku memperlakukan kamu sebaik mungkin. Aku takut kamu terluka oleh tanganku, Sei! Tapi tidak untuk sekarang. Nggak ada lagi keringanan buat kamu. Cukup pelarian gila kamu ini!" Ali semakin kalap. Dia mendorongku hingga aku jatuh terjerembab ke lantai. Ngilu di bagian punggung tak lagi ku hiraukan. Aku takut ... tolong aku, Tuhan! Batinku menjerit.
"No! Aku mau sekarang. Sudah cukup selama ini aku dibohongi sama kamu! Kamu pikir aku nggak tahu, saat aku ingin kamu malah pura-pura haid? Jangan kamu pikir aku gampang dibodohi, Seika!" mata Ali melotot tajam, dibumbui seringaian yang membuat bulu kudukku meremang.
Ali terus maju mendekatiku, mengukung tubuhku, dan ... dia robek baju atasku. Aku memberontak hebat, tapi tubuhnya terlalu kuat untuk aku kalahkan. Mulutku tak berhenti meminta tolong. Sayangnya, tak ada yang mendengar jeritanku.
Orang-orang di mana? Kenapa nggak ada yang mendengar teriakan aku?
Ali terus berusaha membuka helai demi helai benang yang menempel di tubuhku. Nahasnya, aku memakai celana boxer milik El saat ini. Memudahkan Ali untuk melepas celanaku, terkoyak mengenaskan di lantai. Dan tinggallah aku yang hanya memakai sepasang dalaman berwarna hitam, mengenaskan!
Tenagaku habis, aku lelah, aku menyerah. Aku cuma bisa meminta kepada Tuhan supaya mendatangkan penolong untukku. Supaya aku tetap bisa menjaga kehormatanku dari pria bejat yang bertengger cantik di atasku.
__ADS_1
"Nah, tinggal sedikit lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya, Darling," ucapnya, dapat aku lihat matanya menerawang tajam ke bagian sensitifku. Tangannya melayang dan menampar p*yu*ara kiriku.
Plak!
"Awww ... sakit!" jeritku.
"Rasakan sensasinya, Darling. Nikmat, bukan?"
Deg!
Apa ini yang selalu Ali lakukan tiap berhubungan intim dengan para istrinya, juga Maya? batinku. Harga diriku hilang bersamaan dengan tamparan demi tamparan yang Ali daratkan di kedua gumpalan daging milikku. Sakit, panas, ngilu bercampur menjadi satu. Tapi apalah daya? Tenagaku habis, aku tak lagi bisa melawan. Hanya air mata yang menjadi saksi bisu kejadian menjijikkan ini.
"Sekarang, aku mau yang ini." Ali menatap bagian sensitifku dan tersenyum smirk. "Rasakan sensasinya, lama-lama kamu akan suka. Aku sudah terlalu lapar berhari-hari tak ada wanita yang bisa aku sentuh," ucapnya, seraya menempelkan jari telunjuknya di sana. Aku mendesis pelan, ada gelenyar aneh menjalar ke tubuhku, sulit dijelaskan.
Tapi semakin lama, gerakan jari itu semakin cepat dan semakin menekan hingga aku merasa ngilu dan sakit luar biasa. Aku mencoba memberontak lagi, tapi Ali mengeluarkan pistol dari dalam saku jaketnya. Aku pun terdiam ketakutan.
"Sakit ..." rintihku.
"Cukup diam dan rasakan, Seika!" sentak Ali, dan dia tampar pipiku. Sakit ... hanya itu yang aku rasakan. Dia terus bermain kasar di sana. Aku tak tahan dengan rasa sakit itu. Sangat sakit meski terhalang oleh kain segitiga berwarna hitam. "Kamu cantik sekali, Darling." Ali memejam dan mendesis.
"S-sakit ... tolong ..." rintihku lagi. Barulah aku melihat sosok yang datang dari belakang Ali. Aku tersenyum lega, tapi kembali meringis saat Ali dengan teganya mencubit bagian sensitifku sampai mataku mendelik saking sakitnya. Bersamaan dengan itu, sosok itu melangkah cepat lalu menarik kerah Ali dan dia pukul pipi Ali dengan kepalan tangannya mentah-mentah.
"Kalian diam di situ! Jangan ada yang masuk!" seru El, entah untuk siapa. Tapi aku lihat, El melirik ke belakang.
__ADS_1
"Cucu tak tahu diri yang memacari neneknya sendiri."