
Hi, My Readers!
Bab sebelum ini udah aku revisi, ya! Selamat membacaš„°
Acara makan selesai, aku dan El melanjutkan perjalanan menuju vila. El memilih melewati jalur desa Garung, Kledung. Jalan yang masih setapak, pemandangan alam yang masih asri, dan para petani yang tengah melakukan tugas mereka masing-masing, membuat jiwa nostalgia meronta-ronta. Aku menghirup dalam udara segar yang belum terjamah polusi sama sekali ini.
Sepertinya, El merasakan yang aku rasakan juga. Dia mengurangi kecepatan, lalu meraih ponsel lalu mengabadikan momen indah ini. Namun, baru sampai durasi beberapa menit saja, ponsel El berdering. Tampak keningnya mengkerut.
"Kenapa, Kak?" tanyaku penasaran.
"Zack ... aku angkat dulu." aku mengangguk patuh, tapi telingaku siap menyerap suara pembicaraan mereka.
"Ya, Zack. Ada apa?"
"..."
"Apa?! Bagaimana bisa?!"
"..."
"Gila! Dia benar-benar manusia tanpa hati. Usahakan, Papa jangan tahu tentang ini dulu. Aku akan segera kembali."
"..."
"****! Kamu awasi saja dulu, jangan bergerak sebelum ada perintah dariku. Aku nggak mau mereka terluka sedikitpun."
Telepon selesai.
"Ada apa, Kak?" tanyaku cepat. Firasatku tiba-tiba buruk.
"Mama dan Mayang hilang secara bersamaan. Sepertinya, aksiku mulai terendus Ali. Aku yakin, Ali pasti merancang rencana untuk memancingku keluar." El menyentak nafasnya kasar dan terlihat resah. Siapapun itu, jika mengetahui ibu dan adik terancam bahaya pasti tak akan tenang.
__ADS_1
"Tenang dulu, Kak. Jangan berpikir negatif dulu. Aku yakin, Ali tak akan tega menyakiti mereka," ucapku, berusaha meredam emosinya.
"Ini bukan tentang tega dan tidak tega, Ca. Tapi, ini tu tentang nyawa dua wanita yang sangat berharga dalam hidupku. Mereka pasti sangat ketakutan!" ucap El, sedikit meninggikan nada bicaranya. Dan di sini, aku merasa aku bukan siapa-siapa untuknya. Ada rasa nyeri saat El menyebut Mayang dengan sebutan wanita berharga. Ah, aku terlalu cemburuan rupanya. Bukankah wajar kalau El menghawatirkan adiknya?
Aku hanya bisa diam dan tak berani mengeluarkan kata-kata lagi, atau aku yang akan sakit hati.
**
Akhirnya, aku telah sampai di Vila yang akan menjadi tempatku bersembunyi. Ternyata, di sana sudah ada Bapak dan Ninda, ada juga sekitar sepuluh penjaga berseragam hitam. Mereka terlihat kekar dan terlatih.
Aku mengambil koper dan menyeretnya masuk ke Vila. Tapi, koperku direbut oleh salah seorang penjaga. "Biar saya bawakan, Nona," katanya. Aku tersenyum dan mengangguk.
Sampai di depan pintu, aku disambut oleh dua orang yang sangat aku rindukan. Ya, Bapak dan Ninda.
"Mbak Ika!" seru Ninda, lalu berlari dan memelukku erat.
"Dek, Mbak Ika sesak nafas, ki, lho," ucapku dengan senyuman sumringah juga.
"Sorry, Mbak. Aku terlalu seneng sampeyan bali. Aku kangen Mbak."
("Sorry, Mbak. Aku terlalu senang kamu pulang. Aku kangen Mbak.)"
"Mbak yo kangen, banget malah," balasku, sembari mengusap rambut panjang Ninda.
("Mbak juga kangen, banget malah.")
"Wes ... wes. Melbu sek, Nduk. Ra ilok mandheg ning tengah lawang," sela Bapak yang sedari tadi menatap kami dengan sorot mata bahagia.
("Sudah ... sudah. Masuk dulu, Nak. Pamali berhenti di tengah pintu.")
Akhirnya, aku dan Ninda menuruti ucapan Bapak. Kami masuk ke Vila sambil bergandengan tangan. Sekilas, aku menoleh ke belakang mencari keberadaan El. Ku lihat dia tengah berbicara penting dengan salah seorang penjaga.
__ADS_1
Aku terus mengamati Vila yang terlihat klasik. Semua terbuat dari kayu jati. Dari dinding hingga lantai.
"Apik, to, Mbak?" tanya Ninda tiba-tiba.
("Bagus, kan, Mbak?")
"Iyo. Tapi, koyo medeni. Kabeh seko kayu ngene ki, po ra ono medine?" aku bergidik ngeri.
("Iya. Tapi, kaya ngeri. Semua dari kayu gini tu, apa nggak ada hantunya?")
"Alah. Medine wes wedi karo aku, Mbak," canda Ninda. "Aku tak noto kamarmu sek, yo, Mbak. Klambi-klambi ben ditoto Mbak Atik," pungkas Ninda, lalu pergi meninggalkanku di teras samping vila.
Aku mengedarkan pandanganku. Dan tiba-tiba, aku mendengar orang tengah berbincang.
"Jangan sampai kawasan ini terdeteksi Gold Dragon. Ini kawasan khusus untuk Seika dan keluarganya. Apalagi, Gold Dragon mengincar Seika, kekasihku. Dan juga, jangan sampai ada yang membahas tentang Ibunya Seika."
Deg.
Ibuku? Maksudnya apa?
"Tapi, Bos. Ketua Ali bilang kalau Anda mau Nyonya Besar dan Nona Mayang kembali, Anda harus mengembalikan Nona Seika."
"Itu urusanku. Seika tak boleh tersentuh Ali sedikitpun. Dia milikku."
"Tapi, Nona Seika istri sah Ali, Bos."
"Diam atau kau ku bunuh sekarang juga."
Ada rasa bahagia saat mendengar El bilang kalau aku miliknya. Tapi ... mana mungkin aku membiarkan keluarga El terancam bahaya karena aku? Aku harus melakukan sesuatu.
"Nduk, jane opo, to? Kok ujug-ujug dewe kon pindah umah ngene? Sampeyan nggawe masalah ning kono? Mas Barrack kui ketok wong sugih, lho, Nduk." suara bariton Bapak membuatku yang tengah melamun terkejut setengah mati.
__ADS_1
("Nak, sebenarnya ada apa, sih? Kok tiba-tiba kita disuruh pindah rumah begini? Kamu bikin masalah di sana? Mas Barrack itu kelihatan orang kaya, lho, Nak.")