Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Hilang Arah


__ADS_3

"Of course, Sir! Aku pasti akan mencintai dan melindungi perempuan sempurna seperti dia. Kenapa? Keberatan?" El menaikkan sebelah alisnya, tangannya masih setia mencengkeram erat kerah baju Ali Suprapto. Ya, mulut ini enggan menyebutnya dengan sebutan Agan lagi.


"B*adab kamu! Dia istriku, nenek kamu, Bar!" teriak Ali murka.


"Oh ya? Istri yang seperti apa maksudmu? Yang disiksa seperti tadi? Yang dikekang seperti kemarin? Itu istri apa boneka? Orang seperti Kakek, tak lebih dari seorang psikopat k*lamin," ujar El dingin, tatapannya menusuk tajam, rahangnya mengeras, hingga tak terlihat lagi kelembutan di sana.


"Kau! Beraninya kamu mengataiku seperti itu! Padahal kakekmu juga sama sepertiku. Ha ha ha, dia bahkan rela mencumbu Neneng di depan mata kepala istrinya sendiri." Ali tertawa mengejek El, meski tersirat ketakutan dari iris coklat kehitaman itu.

__ADS_1


"Diam kau, B*ngsat! Masa bodoh dengan kakekku! Karena aku di sini hanya untuk melindungi yang harus dilindungi. Bukan memiliki hanya untuk menyakiti, seperti kau yang tak punya nurani." cukup menusuk, tapi entah dengan Ali. Dia tetap tersenyum seolah pasrah dengan keadaan.


"Aku menikahi Seika untuk ku jadikan istri, sedangkan aku menyakitinya karena dia ketahuan selingkuh sama kamu!" El tersenyum menanggapi ucapan Ali. "Jelas! Mana ada menikah buat dijadikan pemuas nafsu. Cuma orang nggak berotak yang menjadikan istrinya sebagai pelampiasan nafsu gilanya."


Setelah mengatakan itu, El menyeret Ali keluar kamar. Entah ke mana, tapi tak berselang lama kemudian dia kembali. Aku yang masih merasa sakit di sekujur tubuh, berusaha untuk menutupi sebagian tubuhku yang terpampang bebas menggunakan kedua tanganku.


"Jangan takut, kamu sudah aman," katanya. Aku terdiam, malas untuk membuka mulut. Air mata pun belum kering, terus mengalir seolah mereka turut mendapat perlakuan yang sama sepertiku.

__ADS_1


Merasa tak mendapat respon, El mengangguk mengerti. Lalu, dia mengangkat tubuhku dan dia rebahkan tubuhku ke ranjang perlahan. "Maafkan aku karena baru datang. Aku tahu, ini sulit buat kamu terima, sulit buat kamu melupakan kejadian ini. Tapi aku mohon, bertahanlah! Kamu perempuan paling kuat yang pernah aku temui. Aku janji akan memperketat penjagaan rumah ini. Maafkan aku, oke," ucapnya, tapi entah mengapa lidahku kaku. Sulit untuk membuka suara, sulit untuk mengucapkan sepatah kata.


Dadaku terasa sesak, sakit, seperti ditindih beban yang sangat berat. Seperti inikah yang Maya rasakan selama di kurung di tempat gelap itu? Tubuhku terasa lemas, hilang harapan dan hilang semangat. Seperti api yang menyala, menjadi padam disiram air. Entah kata-kata apalagi yang bisa mendeskripsikan kondisiku saat ini.


"Bertahanlah, Sayang. Maafkan aku, jangan diam terus!" seru El, aku merasa tubuhku diguncang-guncang, pipiku ditepuk-tepuk. Tapi mataku seolah gelap ... kosong. "Sayang?!" aku mendengar teriakannya, tapi sulit mencari arah suara. "Ali b*ngsat! Tunggu pembalasanku!" aku masih bisa mendengar suaranya, tapi tubuhku seolah mati rasa. Aku tak bisa apa-apa, aku seperti orang yang baru saja ... mati.


Dan tiba-tiba, aku merasa tubuhku terpelanting lalu terbang seperti naik pesawat. Aku pun masih bisa menangkap suara isakan El Barrack. Ya, aku tahu El menangis. Tapi kenapa sulit sekali mengarahkan tangan ini untuk meraba wajahnya? Ah ... aku ingin sekali menghapus air matanya, lalu berkata bahwa aku baik-baik saja.

__ADS_1


Hayolooh ... siapa nih yang benci banget sama Ali Suprapto?


__ADS_2