Selingkuh Yang Indah

Selingkuh Yang Indah
Perdebatan El dan Seika


__ADS_3

"Kamu yang keterlaluan, Barrack! Harusnya, kamu pikir dulu apa konsekuensi menjalin hubungan dengan anak pembunuh itu! Otak kamu di mana, Bar?!"


"Tapi, aku sungguh mencintainya, Pa! Dia yang telah menyelamatkan nyawa Mama waktu Mama hampir saja dibunuh oleh suruhan Kakek Paman!"


"Dan keluarga kita tak ada yang membunuh keluarganya! Kamu harus berpikir dengan jernih, nyawa harus dibalas dengan nyawa, Bodoh!"


"Tapi dia telah menyelamatkan nyawa Mama, Pa! Kalau nggak ada dia, mungkin Mama udah nggak ada di samping Barrack! Atau memang Papa ingin Mama terbunuh, begitu?"


"Jaga bicara kamu, Barrack! Kamu memang anak tak punya sopan santun!"


Lamat-lamat, aku mendengar suara seseorang yang sedang berdebat hebat. Suara yang tak asing, tapi mataku sangat berat untuk memastikan pemilik suara itu. Kepalaku terasa berat dan setiap kali aku mencoba membuka mata, semua yang ada di sekelilingku terasa berputar.

__ADS_1


Sayup-sayup aku melihat seorang anak kecil yang sedang menatapku dengan intens.


"Kak Eca udah bangun?" tanya Nina, sambil mengusap dahiku yang terasa basah karena keringat.


"Nina ..." ucapku lirih. Aku paksakan bibir ini untuk tersenyum agar gadis kecil di sampingku ini tak mencemaskan keadaanku.


"Kakak mau minum?" Nina meraih gelas berisi air putih yang berada di nakas, lalu menyodorkannya padaku. Anak ini sangat pengertian. Dengan senang hati, aku menenggak minuman itu hingga habis separuhnya.


Ngomong-ngomong, suara dua orang yang tadi berdebat tak lagi ku dengar. Entah ke mana perginya. Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Dan baru ku sadari, ternyata aku tak lagi berada di hotel itu. Dan kondisi bumi tak lagi cerah, melainkan petang. Aku menatap Nina penuh tanya. Tapi yang ku tatap hanya diam dengan polosnya.


Tak berselang lama kemudian, El Barrack datang dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun? Gimana? Udah enakan?" tanyanya padaku. Mulutku ingin menjawab pertanyaannya. Tapi mengingat masa lalu keluarga kami, aku minder dan tak memiliki keberanian untuk angkat bicara.


"Dokter bilang, kamu terlalu syok dan kelelahan. Jadi, aku harus menjaga ekstra pola makan dan vitamin kamu." dalam hati aku bertanya, apa dia tak tahu apa yang aku rasakan sekarang? Sampai-sampai dalam keadaan seperti ini dia malah membahas tentang pola makan.


"Ca ... bagiku, mau kamu anak siapapun itu kamu ya tetap kamu. Kamu akan tetap menjadi Eca yang selalu aku kagumi kebaikannya, Eca yang selalu rindui senyumnya. Apa lagi yang kamu khawatirkan?" aku menggeleng pelan, mataku menyipit. Apa yang dia pikirkan hanya sebatas status hubungan?


"Ini bukan tentang perasaan, Kak. Tapi tentang masalah yang terjadi di antara keluarga kita. Papa kamu membenci bapakku karena Nyonya Yunita telah dibunuh oleh bapak atas perintah Suamiku. Suamiku dan bapakku pembunuh ibu dari sahabatku, pembunuh dari wanita yang dicintai Tuan Orland, Kak. Ini gila! Untuk kematian ibuku, mungkin aku bisa berpikir memang itu sudah jadi takdir yang harus ibu jalani. Aku memaafkan siapapun pembunuh ibuku. Karena kalaupun aku dendam, bukankah itu akan memberatkan ibu di sana?" air mataku mengalir deras, membayangkan bagaimana tersiksanya ibu waktu itu. Membayangkan bagaimana sakitnya ibu saat racun itu mulai menggerogoti tubuhnya.


"Sayang, aku nggak ada di pihak mana pun. Aku di pihak kamu yang tak tahu apa-apa. Bukankah kita sama? Kita juga tak tahu apa-apa saat kejadian itu. Aku pun tahu karena Zack yang menceritakannya padaku," kata El, nafasnya memburu. Sama persis waktu dia menahan amarah padaku.


"Kak, coba kamu pikirkan bagaimana perasaan Tuan Orland saat tahu anaknya menjalin hubungan dengan anak pembunuh istrinya? Kalau itu terjadi padamu, apa yang akan kamu lakukan?" El terdiam, dia menatapku lekat. "Nggak bisa jawab, kan?" aku tersenyum miring, lalu beralih menatap Nina yang bersembunyi di belakang seorang wanita paruh baya yang ku duga adalah pengasuh barunya.

__ADS_1


"Itu tidak akan pernah terjadi padaku, karena aku nggak akan pernah menduakan cinta istriku. Jangankan menduakan, berniat pun tak akan pernah terbesit di kepalaku, Ca. Peristiwa ini berawal dari gugurnya kesetiaan seorang suami, Ca!" seru El. Giliran aku yang terdiam seribu bahasa. Ada benarnya perkataan El, tapi aku tak bisa membenarkan pembunuhan yang dilakukan Bapak waktu itu.


__ADS_2