
" Tapi Kamu suka ??? " balas Melisa kembali.
" Jelas. Itu yang Aku tunggu. " balas Zein.
" Your smile make me so crazy. " balas Melisa.
" Really ??? Kalau yang itu ?? ''
" Better. Tapi Aku lebih suka lihat Kamu senyum langsung. "
Melisa membaca kembali pesannya yang sudah terkirim dan ....
" **** !! kenapa Dia bisa si centil itu ?? " gumamnya. Namun telat, pesannya sudah terbaca.
" Me too. Senyum Aku memang mempesona."
" Pede bangat Kamu !! "
" Kamu sendiri kan tadi yang bilang ?? "
" Kalau Kamu senyum, Aku langsung bisa artiin apa maksud dari senyuman itu. "
" Wah .... Kamu cenayang ??? "
" Titisan !! "
" Kalau Aku mikirin yang aneh aneh, Kamu tau dong ?? "
" Betul. Aku tau apa yang Kamu pikirakan termasuk yang aneh aneh sekalipun. "
" Berarti Aku gak usah bilang lagi dong kalau Aku mau apa. Kamu udah paham mauku apa kan ?? "
" Terserah Kamu deh. Aku mau tidur. bye !! "
" Good night, pretty. "
Melisa hanya membaca pesan terakhir yang di kirim Zein. Kemudian Dia berusaha memejamkan mata dan tidur sembari menahan detak jantungnya yang berdetak tak tentu arah itu. Bibirnya tak henti tersenyum mengingat obrolan singkat dirinya dengan Zein tadi.
*****
Melisa bersiap menuju Rumah Sakit untuk mengantar Ayahnya kontrol. Dia sudah menentukan waktu janji dengan Dokter yang biasa menangani Ayahnya.
Pagi ini terasa lebih segar dan menyenangkan untuk Melisa. Dia tidak sabar untuk menunggu malam untuk bertemu yang Dia tunggu.
" Non, Bapak pingsan !! " teriakan dari Supirnya mampu membuat lamunan Melisa buyar dan cepat cepat berlari menuju kamar Ayahnya.
" Om, Ayah kenapa ?? " ujar Melisa sambil menahan air matanya.
Sudah lama penyakit Ayahnya tidak kambuh atau membuat Pria itu pingsan tiba tiba seperti ini.
__ADS_1
" Kamu tenang, Mel. Ayah pasti gak apa apa. " ucap Pamannya.
" Wahyu, bantu Saya bawa Bapak ke mobil. "
Wahyu dan Irwan membopong tubuh Ayah Melisa ke dalam mobil untuk segera di bawa ke Rumah Sakit. Selama perjalanan, tak ada satu detik pun Melisa merasa tenang. Pikirannya terus bergejolak dan rasa takut menyelimuti Dirinya.
" Ayah gak apa apa. Ayah cuma pingsan. " gumamnya tak henti henti.
Sampai di Rumah Sakit, Ayahnya langsung di bawa ke UGD. Melisa semakin panik karena sudah hampir satu jam tak ada tanda tanda Dokter akan keluar atau kabar tentang keadaan Ayahnya.
" Om, kenapa lama bangat ?? Meli takut. "
Irwan tak dapat menjawab sebab Dia pun sama khawatir dan takutnya seperti Melisa. Dia hanya memeluk Wanita itu.
Pintu UGD terbuka. Seorang Perawat menyebutkan nama lengkap Ayah Melisa.
" Saya Keluarganya. " Melisa beranjak dari kursi dan menghampiri Perawat itu.
" Kata Dokter, apakah Bapak melewatkan obat yang harusnya diminum kemarin ?? Atau bahkan dalam jangka waktu yang lama ?? " tanya Perawat itu.
Melisa dan Pamannya saling menatap. Mereka selalu memantau keadaan Ayahnya di rumah. Memperhatikan agar Pria itu minum obat dengan teratur, kecuali kemarin saat Ayahnya mendengar obrolan Melisa mengenai Rita.
" Om, jangan jangan waktu Ayah ngurung diri di kamar, Ayah gak minum obat. "
Dugaan Melisa benar. Irwan langsung segera menelpon Asisten rumah tangga di rumah dan Dia mengatakan bahwa memang Andre melewatkan jadwal minum obat kemarin.
" Keadaan Ayah Saya gimana, Sus ?? "
Perawat itu meninggalkan Melisa dan Pamannya di ruang tunggu. Meninggalkan rasa cemas yang tak kunjung usai hingga petang menyeruak di langit.
Saat Perawat mengatakan jika Melisa sudah boleh melihat Ayahnya di ruang UGD, Dia langsung segera memeluk tubuh Ayahnya yang terkulai lemas dengan alat bantu nafas dan infus di tangannya.
Melisa merebahkan kepalanya di dada Ayahnya. Air matanya terus mengalir.
Melisa mengingat bagaimana dulu perjuangan Ayahnya membesarkan Dirinya sendiri tanpa Seorang Istri. Ayahnya yang berusaha menjadi Ayah sekaligus Ibu untuknya. Yang tidak pernah tega mengatakan tidak untuk Putri kecilnya itu. Yang selalu menemani Putrinya setiap malam karena Melisa takut tidur sendiri. Semua kenangan kecik yang tanpa Melisa sadari ternyata sangat berharga di detik detik ini.
" Nak ..... " suara tercekat itu Melisa sangat kenali. Dia segera mengangkat kepalanya dan segera menatap wajah Ayahnya.
" Iya, Ayah.... "
Mata Ayahnya tidak terbuka sempurna. Suaranya lun tercekat, Namun Melisa tahu, banyak sekali yang ingin Ayahnya katakan. Dia bersedia jika harus ber jam jam menunggu Ayahnya menyelesaikan kalimatnya.
" Ayah ..... sayang .... Meli .... "
Masih terisak, Melisa mengangguk. Jika bagi Wanita lain pernyataan cinta paling berkesan ialah pacarnya. Namun berbeda dengan Melisa, justru pernyataan cinta dari Ayahnya lah yang paling berkesan untuknya.
" Melisa juga. "
" Ayah .... ikhlas .... cerai sama .... Rita.... Ayah mau .... turutin .... maunya Meli, sebelum Ayah pergi .... "
__ADS_1
" Ayah !! Ayah gak akan pergi. Ayah pasti akan menemani Meli nikah nanti. Main sama Anak Meli. Harus, Yah !!! "
" Meli .... juga harus ..... ikhlas Ayah pergi .... biar bisa ketemu Mama .... "
Isakan Melisa semakin menjadi. Dia tidak dapat membantah jika memang kepergian Ayahnya bisa mengantarkan Pria itu kembali bersama Istrinya.
" Tapi, Yah .... "
" Ada Om .... yang jaga Kamu, Nak. "
Raut wajahnya Ayahnya terlihat semakin menahan sakit. Nafasnya pun sudah semakin terburu buru tak menentu. Dalam isak tangisnya, Melisa berkata.
" Iya., Yah. Melisa ikhlas Ayah pergi. Melisa ikhlas kalau Ayah bahagia.... "
Dan dalam satu tarikan nafas panjang, Ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya di samping Melisa.
Tidak ada lagi Ayah
Tak ada lagi yang menunggunya pulang
Tak ada lagi yang memanjakannya
Tak ada lagi pelukan hangat ketika malam begitu gelap
Tak ada lagi kata kata menenangkan disaat Dia tengah bimbang
" Ayah !!!! " raung Melisa.
Dia mengguncang tubuh Ayahnya. Memanjatkan doa, meminta keajaiban supaya Ayahnya bisa bangun lagi. Namun semua sudah tidak ada gunanya lagi, Ayahnya tak bergeming.
Dokter dan Perawat serta Irwan masuk ke dalam ruangan dimana Ayahnya dan Melisa berada, setelah satu Perawat memberi tahu ada Pasien yang berteriak.
Irwan sambil menahan tangisnya, memapah Melisa ke dalam pelukannya.
" Ikhlas, Mel. Ayah sudah gak sakit lagi. "
Tak ada yang mampu mengukur seberapa sedih dan kehilangan Melisa atas kepergiaan Ayah tercintanya. Walau Dia sudah mengatakan ikhlas, namun hati dan bibirnya masih terus meraung tak rela.
*****
Sementara di tempat lain, Ada Seseorang yang menunggu Melisa. Berulang kali Pria itu melihat jam di ponsel dan beberapa kali Dia berniat menghubungi Melisa namun tak Dia lakukan.
Dia tetap menunggu hingga malam di langit semakin gelap.
******
Usai disemayamkan, prosesi selanjutnya adalah memakamkan Ayahnya. Melisa tak sanggup melihatnya, terlalu menyakitkan.
Dia memilih untuk tetap di mobil dan datang ke makam Ayahnya saat prosesi tabur bunga. Makam Ayahnya terletak di sebelah makam Mamanya. Melisa berharap Mereka terlah bertemu dan bahagia di Surga.
__ADS_1
" Yang tabah, Mel. " Siti membiarkan pundaknya dijadikan sandaran Melisa untuk menangis lagi hingga Wanita itu tertidur.